Pangeran Sullivan menunggu si penjaga untuk membukakan pintu ruangan Kaisar, netra magenta miliknya menatap tajam pintu kayu berwarna emas dan putih dengan gagang emas itu, sambil sedikit mengintip penjaga ruangan kaisar yang tengah membuka pintu itu.
Dengan penuh hormat, si penjaga memberitahukan bahwa Pangeran Sullivan telah datang kepada kaisar muda itu dari celah pintu yang sedikit terbuka, "Baginda, Pangeran Sullivan telah tiba."
"Persilahkan dia masuk." Titah dari dalam ruangan adalah perintah bagi mereka.
Tak lama kemudian pintu terbuka, menampilkan sosok seorang pemimpin muda yang tengah duduk di singgasananya.
Hawa sekeliling terasa tenang tapi menjadi dingin seketika saat masuk ke dalam ruangan raksasa tersebut.
Pangeran Sullivan bertekuk lutut dan memberikan hormat kepada sang kaisar. "Abadilah Matahari Linsberg. Saya dengan ini menghadap Baginda Kaisar Jullian."
Matanya melirik lalu langsung menatap kaisar muda itu. "Apa Baginda dalam keadaan sehat?"
Jullian Arthur Linsberg, Kaisar Arthur IV. Dengan menaikki tahta sejak usia 22 tahun, pria muda ini adalah pemimpin Linsberg paling muda sepanjang sejarah kekaisaraan. Surai raven yang bermahkota, netra merah darah yang menatap tajam, serta beraura congkak--semuanya menjadi lengkap untuk mendeskripsikan seorang Kaisar Muda.
Wajah maskulin Jullian juga tak kalah dengan wajah halus Sullivan. Mereka berdua bahkan dinobati sebagai keindahan tak tertandingi seantero Linsberg.
Jullian memancarkan arogansi dan keangkuhan saat duduk di singgasananya. Sambil memegang pedang kesayangannya yang sengaja ia tancapkan di karpet merahnya, ia menyambut sang adik tiri.
Berbeda dari kakak tirinya, Pangeran Sullivan adalah adik tiri yang berpikiran licik dan mengandalkan senyum palsu kepada para bangsawan. Ia lebih berambisi ingin menduduki tahta kekaisaran, tapi sayangnya itu sedikit mustahil; mengingat kakak tirinya ini adalah seorang tirani yang kejam.
"Ah, rupanya adikku yang tercinta telah kembali."
Seringai sambutan Kaisar Jullian diganti dengan tersenyum cerah. "Tentu saja, aku dalam keadaan sehat. Adikku tersayang ini juga telah gagah berani berperang di perbatasan Perth."
"Laporannya?" titah Kaisar Jullian yang dijawab tanggap.
"Perbatasan Benteng Calonia masih harus diperkuat lagi. Ditambah saat ini, saya juga mengirimkan surat kepada Jendral musuh untuk melakukan gencatan senjata sementara waktu. Kita harus menambah pasukan unit 2 jika ingin menyergap musuh."
Kaisar Jullian membuang nafas sejenak, lalu menatap tajam Pangeran Sullivan. "Begitukah? Bukannya harusnya kau bisa memenggal kepala si tua bangka Ellysium itu, Sullivan?"
"Baginda, saya memang bisa membawakan kepala Jendral Utama Perth, tapi saya juga kekurangan pasukan jika ingin menyergapnya."
Perlahan, Kaisar Jullian menatap langit-langit dan ia memberikan sebuah kode kepada seseorang. "Lloyd!"
Seorang pria muda bersurai orange dengan kostum setengah ninja yang tiba-tiba muncul ke samping kursi Kaisar Jullian.
Lloyd bertekuk lutut dan memberi hormat kepada Kaisar Jullian. "Hamba menghadap Baginda."
"Katakan kepada Duke Lennox untuk meminjamkan setengah batalion pasukannya. Kita akan berperang melawan Perth."
"Baik. Hamba akan melaporkannya."
Dalam sekejap, pria itu langsung menghilang dari hadapan Kaisar Jullian dan Pangeran Sullivan.
Jullian menoleh ke arahnya lagi. "Sekarang kau sudah puas?"
Pangeran Sullivan tersenyum puas dengan cerah. "Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Baginda. Kalau begitu ..."
Pria berambut pirang tersebut undur diri, meninggalkan ruangan itu dan Jullian sendirian di sana. Sekejap mata, sebuah gelas emas terlempar jauh membentur lantai dengan lantang disusul umpatan dari pelempar. “SIAL!!”
"Baginda seram kalau marah ...." Itulah pikiran salah satu pelayan baru yang berada di ruangan, terkejut melihat tabiat kaisarnya jadi kasar.
Jullian menatap tajam pintu utama ruangan dengan menahan amarah yang dipendam.
Kenapa Sullivan tidak mati dalam berperang? Harusnya rencana itu berhasil, pikirnya dalam hati sambil mencengkeram kursi tahta.
Padahal ia sudah sengaja mengirimnya ke perbatasan karena tahu akan kekuatan militer Perth yang sangat kuat.
Bukan rahasia umum jika dua matahari Kekaisaran Linsberg saling bersaing. Semenjak mendiang Kaisar Albert Oliver Linsberg atau yang lebih dikenal Kaisar Oliver II meninggal 2 tahun lalu.
Kaisar Oliver II memiliki dua orang putra dari dua perempuan bangsawan terhormat di Linsberg, mereka jadi semakin bersaing demi kekuatan.
Putra pertama lahir dari istri pertama; Ratu Titania Elaine Linsberg. Sedangkan putra keduanya lahir dari wanita yang dicintai oleh Kaisar, selir kesayangan kekaisaran, Lady Sharon Dawson, yang akhirnya menaiki tahta Ratu setelah kematian Ratu Elaine.
Kaisar Oliver II memberikan gelar pangeran kepada kedua putranya dan gelar putra mahkota diberikan oleh Pangeran Jullian selaku putra pertama sang kaisar. Berdasarkan hukum kekaisaran, hak suksesi diberikan kepada garis kelahiran putra pertama dari pihak ratu, bukan dari pihak selir Kaisar. Akibatnya Ratu Sharon yang baru saja menjabat menjadi Ratu Kekaisaran saat ini marah besar, ketika ia mengetahui bahwa sang putra, Pangeran Sullivan tidak bisa menerima hak suksesi pertama sebagai pewaris Kaisar Oliver II.
"Mengapa bukan Pangeran Sullivan yang menjadi Putra Mahkota, Baginda?" Ratu Sharon memohon kepada suaminya.
"Maafkan aku. Menurut hukum kekaisaran hak suksesi diberikan kepada Jullian karena ia lahir terlebihi dahulu dari mendiang Ratu pertama." Kaisar menunduk, memegang wajah wanita yang ia cintai. "Sayang ... aku memang tidak bisa memberikan hak suksesi dan gelar Putra Mahkota kepada Sullivan, tapi aku bisa memberikan sebagian besar wilayah Kekaisaran Linsberg untuknya."
Namun tetap saja, Ratu Sharon tidak puas dengan keputusan Kaisar. Ia bertekad untuk menjadikan putranya sebagai Kaisar Linsberg apa pun caranya. Sehingga karena niat itulah, Pangeran Sullivan yang masih belia dan polos menjadi terpengaruh oleh ibunya dan mulai membenci Jullian.
"Sullivan sayang, Ibu akan menyingkirkan anak itu demi dirimu. Jangan khawatir dan rebut posisimu."
Perkataan itu terdengar sampai pintu ganda putih ruang yang akan dimasukki. Pegangan tangan kecil di kenop terlepas disusul langkah menjauh.
Sampai sekarang, Jullian ingat setiap nada dan perkataan wanita sialan itu.
Setelah itu, diam-diam si pangeran kecil tahu apa yang terjadi di dalam kekaisaran. Ia juga tahu jika tidak ada tempat di kekasairan untuknya.
Ayahnya tak menyayanginya, ibu tirinya membencinya, bahkan adik tirinya ikut menjauhinya. Di saat Ibunda Ratu meninggal dunia, saat itulah kesepian di dalam megahnya Kekaisaran Linsberg yang bergelimang harta menyeruak dalam diri Jullian kecil.
Putra Mahkota itu hanya memiliki dirinya sendiri untuk bertahan hidup apa pun caranya, berjanji dengan dirinya yang lama supaya lebih cerdik dan kompeten dalam memimpin.
Ia takkan menyerahkan hak miliknya kepada siapa pun juga.
Sekarang, dirinya sebagai Kaisar Arthur IV telah berhasil memimpin kekaisaran dengan gemilang. Peperangan perebutan wilayah telah nyaris ia kuasai sepenuhnya, menunjukkan bahwa Jullian akan tetap duduk di singgasana dan kekuasaan ini selamanya.
Tak akan ia serahkan kepada siapa pun, termasuk kepada adik tirinya, Sullivan.
Dan sekarang, Kaisar Jullian masih kesal dengan keadaan adik tirinya yang masih selamat setelah hampir setengah tahun menetap di perbatasan. Padahal ia berharap jika Pangeran Sullivan mati dalam perang melawan pasukan Perth.
Ia ingin melihat dengaan mata kepalanya sendiri wanita sialan itu menangis darah sampai gila.
Pintu ruangan kaisar sedikit terbuka, si penjaga pintu ruangan kaisar itu dengan hormat melapor kepada Kaisar. "Baginda, Duke Lennox izin menghadap kepada Baginda."
"Suruh dia masuk."
"Baik, Baginda."
Pintu terbuka menampilkan sosok pria bertubuh besar dengan tuxedo berwarna hitam dengan bross safir di dadanya.
Duke Sammuel Lennox; Ketua Pasukan Utama Unit 1 Kekaisaran Linsberg. Lelaki bermata hijau dan berambut coklat gelombang itu berjalan cepat dengan penuh kekesalan menuju sang Kaisar. Bahkan tidak memberi hormat sama sekali.
"Jullian, kau sudah gila, ya?!"
Protes kesal itu hanya dijawab tanya acuh. "Apanya?"
"Kau meminta separuh pasukanku untuk membantu Sullivan?! Yang benar saja!"
Menekuk wajahnya lagi, Kaisar Jullian mengucapkan nama kecil Duke Lennox dengan nada berat dan geram. "Sam ..."
Tangan bersarung itu menarik sarung pedangnya dan langsung mengarahkan pedang kepada pria bertubuh besar tersebut.
Duke Lennox hanya bisa terkejut dan terdiam di tempat, angkat tangan. Matanya ngeri melihat sebuah pedang yang beberapa senti lagi akan menebas lehernya kapan saja.
"Baginda!!" Perdana Menteri Linsberg, Duke Steffanius Lewig yang baru saja membuka pintu ruangan kaisar sangat terkejut melihat Kaisar Jullian tengah mengarahkan pedangnya ke leher Duke Lennox.
“Ba-baginda, turunkan pedang Anda! Kita masih perlu Duke Lennox!” pinta Duke Lewig mencoba menahan emosi kaisarnya.
Pria muda itu meliriknya dan dengan santai menyarungkan kembali pedangnya. "Masih baik kau selamat, Sam."
Nyaris saja, batin Duke Lennox dan menuju samping kursi tahta dahulu untuk berdiri.
Kaisar Jullian menatap Perdana Menteri yang baru saja masuk ke dalam ruangannya. "Ada apa Anda datang ke ruanganku?"
"Saya mendapatkan laporan dari Kota Alley. Wilayah itu sudah memasukki masa kekeringan dan rakyat kesulitan mendapatkan air bersih, Yang Mulia."
Kaisar Jullian langsung memijat keningnya sendiri karena berita itu, dan menatapnya lagi. "Terima kasih atas laporannya, Perdana Menteri. Lusa adakan rapat dengan Count Oxley selaku kepala daerah itu, panggil dia ke istana secepatnya."
Perdana Menteri memberi hormat kepada Kaisar Jullian sebelum meninggalkan ruangannya. "Kalau begitu saya pamit undur diri."
Kaisar Jullian mengangguk, lalu pria tersebut meninggalkan ruangannya, dan menyisakan Kaisar Jullian bersama Duke Lennox.
Jullian melirik acuh padanya. "Kau mau protes apa kepadaku, Sam?"
"Hmph. Asal kau tahu saja, aku tidak mau mengirimkan pasukanku untuk membantu Sullivan." Protes kekanakkan lelaki bernama Sammuel tersebut membuat geli sang Kaisar.
Jullian mendengkus singkat. "Aku hanya meminta setengah pasukanmu, bukan seluruhnya. Dan aku tidak memintamu berperang melawan Perth."
Sammuel menoleh padanya yang tengah memandang serius. Jullian menekankan sejenak. "Ini perintah."
Argh, bocah ini memang sangat keras kepala. Untung saja, dia atasan. Sabar, Sammuel. Sabarkan diriku. Batin Sammuel menjerit sambil mengelus dada dalam imajineri.
Menghela nafas, Duke Lennox langsung bertekut lutut dan memberi hormat penu. “Maafkan atas kelancangan Hamba, Baginda Kaisar.”
Matanya melirik ke atas dengan cemberutan kesal "Saya akan mengirimkan setengah pasukan unit 1 untuk membantu Pangeran Sullivan berperang ke perbatasan."
Kaisar Jullian tersenyum miring. "Kerja bagus, Duke Lennox."
Berdiri lagi, Duke Lennox hanya pura-pura tidak melihat saat Jullian dengan santainya menjilat pedang miliknya bagai permen.
Mungkin menjilat darah Sullivan kalau nanti mati, pikir Sammuel ngeri meski mukanya berusaha biasa.
Jullian tetiba berhenti dan menyahut.
"Oh iya, Sam. Besok kau ikut temani aku ke wilayah Kota Alley. Aku mau melakukan inspeksi di sana."
Duke Lennox menolehkan kepalanya, menatap Kaisar Jullian. "Baik, Baginda. Tapi bukankah biasanya Lloyd selalu menemani Baginda saat inspeksi?"
Kaisar Jullian mendecih kesal. "Jangan berucap terlalu formal kepadaku, Sam. Aku ini sahabatmu, cukup panggil aku Jullian saat kita sedang berdua."
"Baik, Jullian."
Namun, di dalam hati Duke Lennox menjerit kesal. Jullian Arthur Linsberg sialan. Kau tahu kalau aku hampir mati dengan sifat gilamu ini, bedebah!
Sammuel ingin menangis pasrah, susah punya teman tingkahnya seperti iblis begini.
Jullian melanjutkan perkataannya. "Lloyd sudah kusuruh memata-matai Sullivan untuk beberapa waktu. Makanya aku meminta bantuanmu."
"Hmm, aku mengerti. Besok akan aku temani pergi."
"Terima kasih, Sam," Kaisar Jullian tersenyum miring dan melirik padanya. "dan maaf tadi aku sedikit mengerjaimu."
"Kau bukan mengerjaiku, tapi berniat menebas kepalaku, Jullian!"
"Ha ha ha! Aku tidak mungkin menebas kepala sahabatku, kecuali jika kau memang mengkhianatiku."
"Sinting!"
Decihan Duke Lennox dihiraukan oleh si kaisar, lalu dilanjuti ucapannya. "Baiklah, aku akan kembali ke pasukanku."
Pria itu berjalan menuruni tangga singgasana dan saat ia berada di depan pintu, kepalanya menoleh ke arah Jullian. "Sampai besok, Sobat."
Setelah dia keluar dari ruangan kaisar, dan menyisakan Kaisar Jullian seorang diri.
Pria muda itu bangun dari duduknya, kembali menyarungkan pedangnya di pinggang. Surai raven bergoyang selagi berjalan menuju jendela besar yang berada tak jauh dari ruangan singgasana miliknya.
Ia menatap aula lapangan utama istananya dari dalam, di sana terlihat pasukan utama miliknya sedang berlatih karena lapangan latihan militer mereka masih direnovasi.
Netra garnet beralih untuk menerawang jauh ke pemandangan kota dari jauh. Terlihat rumah penduduk membuat asap serta warga berlalu lalang melakukan aktivitas demi kehidupan. Kastil yang berada di tengah ibukota tersebut memang jadi tempat di mana Jullian biasanya cuci mata, sekalian bisa memantau sekitar wilayah dengan baik.
Air muka lelaki itu menekuk lebih dalam lagi, tapi nada suara terbesit sendu.
“Jangan sampai ada perang pemberontakan karena perbuatan Sullivan." gumamnya sambil menyentuh kaca di jendela ruangan dengan tangan berlapis sarung tangan putih.
Tangan dingin tersebut menutupi satu area kaca yang menampakkan kota dari luar, lalu mengelus pelan dan terhenti.
“Aku harus berpikir lebih ke depan lagi.” Lebih cerdik, pintar, terdepan. Mungkin ini memang memaksanya, tapi tidak sebanding dengan dampak ketidak sejahteraan negeri.
Biarkan ia saja yang kesakitan, asalkan rakyatnya tidak menderita.
.
.
.
TBC …

Comments (0)
See all