Please note that Tapas no longer supports Internet Explorer.
We recommend upgrading to the latest Microsoft Edge, Google Chrome, or Firefox.
Home
Comics
Novels
Community
Mature
More
Help Discord Forums Newsfeed Contact Merch Shop
Publish
Home
Comics
Novels
Community
Mature
More
Help Discord Forums Newsfeed Contact Merch Shop
__anonymous__
__anonymous__
0
  • Publish
  • Ink shop
  • Redeem code
  • Settings
  • Log out

Deadly Darling

The News

The News

Jun 16, 2024

This content is intended for mature audiences for the following reasons.

  • •  Abuse - Physical and/or Emotional
  • •  Physical violence
Cancel Continue

Setelah melihat poster buronan Gevanni Antonio Burton, Axel langsung bergegas untuk kembali ke Kota Alley.

Pria muda tersebut menaiki kudanya yang ia titipkan di penitipan kuda, sebelum bergegas memasuki Pelabuhan Carsha.

Chaster, yang ditungganginya berpacu dengan kecepatan tinggi. Tak ada yang mengira, kalau salah satu kuda tercepat di Heint itu berpacu di jalanan Kota Alley. Tak butuh waktu lama, pria bersurai ash blonde itu telah sampai di rumahnya, dan menaruh kuda miliknya di kandang kuda yang tak jauh dari rumah.

"Chaster, jadilah anak baik, ya." Axel memeluk kudanya itu sebelum meninggalkannya.

Pria itu berjalan menuju rumahnya, sebelum menaiki beberapa anak tangga untuk sampai di rumah.

Axel mengetuk pintu rumahnya. "Rion, buka pintunya. Ini saya, Axel."

Perlahan, pintu terbuka, Rion menatap wajah Axel yang tertutupi tudung berwarna hitam itu. "Selamat datang, Kak."

Dia mempersilahkan Axel masuk, pria bersurai ash blonde itu memasuki rumah mereka. Dan ketika pintu telah tertutup rapat, Axel membuka tudung miliknya.

"Bagaimana patrolinya?" tanya Rion sambil menuangkan teko ke secangkir teh.

Netra jade milik Xavier menatap sendu Rion. "Semuanya baik-baik saja, tapi ..."

Rion memberikannya kepada Axel, sabar menunggu penjelasan. "Katakan saja."

Axel menerima secangkir teh itu dan duduk di kursi. "Saya melihat sebuah poster buronan."

Tertegun, Rion perlahan duduk di hadapan Axel sambil bertopang dagu. "Poster buronan ... siapa? Jangan bilang poster buronan kita?"

Axel menggeleng pelan, “Bukan, tapi ...” Axel terdiam ragu, sambil mencoba mengatur nafasnya perlahan. "Saya melihat poster ... Sir Gevanni. Tunangan Anda, Yang Mulia ..."

Netra aquamarine milik Rion membulat, ia terkejut mendengar nama seseorang yang amat dia kenal. "A-Apa?! Gevanni, katamu?!"

Tangannya menepuk keras meja kayu dan hampir berdiri, memadang tak percaya.

"Kau tidak bercanda, 'kan, Sir Xavier!?" tanpa sengaja emosi Rion naik, bahkan gadis itu memanggil nama Axel dengan panggilan ‘Sir Xavier’ seperti kala itu ia masih menjadi Ksatria Pengawal Putri Lillianne.

Axel hanya bisa diam dan menunduk pelan, pria itu tidak sanggup melihat sang tuan putri menangis.

Sontak airmata Rion terjatuh begitu saja. "Hiks ... tidak mungkin ... Gevanni masih hidup ... hiks ..."

Bayangan sosok putra dari keluarga Marquis Burton teringat jelas di memori milik Rion. Pria bersurai perak itu selalu membuat Rion kagum ketika melihat Gevanni tengah berlatih bersama mendiang kakaknya.

"Kak Jason, mengalahlah pada Gev, ya?"

Putri Lillianne yang masih remaja itu berseru saat melihat putra mahkota dari Heint tengah berlatih berpedang bersama putra Marquis Burton.

"Berisik, Lily! Diam saja di sana!" timpal Jason sambil menoleh ke arah adiknya, sebelum menghalangi serangan pemuda di hadapannya sekarang.

"Tenanglah, Lily. Aku pasti akan mengalahkan, Yang Mulia." ucap Gevanni sambil fokus melawan Jason.

Hari-hari itu terasa damai sebelum semuanya jadi kenangan belaka.

"Yang Mulia ..." Axel berdiri dari duduknya dan menenangkan Rion, mengelus bahu milik sang wanita muda. "Jika Sir Gevanni masih hidup, pasti saya akan mencarinya."

Rion menatapnya penuh harap, mencoba menghapus airmatanya. "Apakah poster itu benar ...? Gevanni masih hidup?" 

"Jika pasukan kekaisaran yang menempelkan poster buronan ... kemungkinan besar iya, Yang Mulia. Tapi ... apakah Yang Mulia tidak tahu jika ada poster Sir Gevanni di pelabuhan?"

Rion menggeleng pelan. "Aku tidak melihatnya, Sir Xavier. Aku tadi buru-buru ingin pulang karena ingin memakan daging rusa." 

"Begitukah... Pantas saja jika Anda tidak melihatnya." Axel membuang nafasnya sejenak, lalu meminum secangkir teh guna menenangkan pikirannya yang berkabut.

Cangkir itu diletakkan perlahan di meja. "Yang Mulia ..."

Axel melanjutkan, "Mulai besok, saya akan mulai mencari informasi tentang Sir Gevanni, tentang dia masih hidup atau tidak. Mungkin saya bisa mendapatkan informasi tersebut dari Guild. Namun, saya yakin jika Sir Gevanni ternyata masih hidup dan pasukan unit 3 miliknya masih ada. Saya yakin itu bisa menjadi bantuan untuk Yang Mulia merebut kembali Ibu Kota Calonia dari Linsberg."

Rion menutup mulutnya dengan tangannya, menahan isak tangisnya. "Terima kasih banyak, Sir Xavier ..."

"Apa pun untuk Yang Mulia dan kerajaan." ucap Axel tegas, tetapi juga lembut.

Informasi soal Gevanni menjadi buronan sudah membuat hari semakin suram. Tidak ada daya untuk tersenyum. Hanya keraguan dan secercah harapan hidup kala membahasnya di meja makan berbahan kayu dan lusuh tersebut.


***


Di sisi lain, sebuah bangunan megah berpilar di tanah luas.

Istana Amethyst adalah kediaman istana di mana tempat para selir kaisar terdahulu tinggal. Letaknya paling jauh dari istana utama, Istana Agathe, tempat di mana kaisar tinggal. Setelah kaisar sebelumnya tiada, dengan sengaja Jullian menyingkirkan wanita mendiang ayahnya agar tidak bisa berkeliaran di Istana Agathe, sekaligus membiarkannya sadar akan posisinya di kekaisaran dalam politik.

Pangeran Sullivan baru saja tiba untuk mengujungi ibunya sebelum kembali ke urusan di perbatasan.

"Selamat datang, Yang Mulia." sambut Emily, sang kepala pelayan utama di Istana Amethyst.

"Apakah Ibu ada di ruangannya, Madam Emily?"

"Ya, Yang Mulia Ibu Suri ada di ruangannya, Yang Mulia." Jawabnya sopan.  

Pangeran Sullivan mengangguk. "Baiklah, aku akan ke ruangannya. Tolong bawakan teh."

Setelah berjalan beberapa saat, ia tiba di depan pintu ganda berwarna putih berlapis emas sebelum dibukakan oleh pelayan.

Sullivan memasuki kamar tersebut dengan santai. Dari kejauhan, ada seorang wanita berambut pirang yang menawan tengah duduk di kursi tepat biasanya wanita itu minum teh.

Ia memberi hormat dalam. "Ibu, aku pulang."

Ibu Suri menoleh perlahan. Dengan wajah cerah, ia berdiri dari kursi dan memeluk putranya.

"Syukurlah ... akhirnya kau pulang, Nak. Ibu rindu sekali!"

"Aku juga." ujar Pangeran Sullivan di sela-sela pelukannya.

Ibu Suri melepaskan pelukan dan memegang wajah putranya. "Apakah kau terluka? Bagaimana selama di perbatasan? Tidak ada masalah, bukan?" tanyanya khawatir.

Pangeran Sullivan menggeleng pelan. "Aku tidak terluka," netra crimson milik Pangeran Sullivan menatap sofa dan beberapa cemilan di atas meja, "lebih baik ... kita duduk dulu. Aku akan memberimu kabar baik." ajaknya.

Lalu keduanya duduk, pelayan masuk ke dalam kamar Ibu Suri membawakan nampan berisi teko dan cangkirnya. Wanita pelayan itu menuangkannya ke dalam secangkir teh untuk dua orang tersebut sebelum mundur pergi dari ruangan.

Pangeran Sullivan mengangkat cangkir tehnya dan meminumnya sejenak, sebelum berbicara santai. "Ibu ..."

"Hmm?"

"Aku akan mengudeta Jullian."

Netra violet milik Ibu Suri membelalak.

Kepalanya menoleh dan sedikit terkejut dengan ucapan putranya. "Sullivan sayang. Kau tahu apa yang kau bicarakan, bukan?"

Sullivan mengangguk pelan.

"Aku bernegosiasi dengan Perth untuk menyerang ibukota." ucap yakin Sullivan, kepalanya menatap langsung pada wanita paruh baya tersebut.

"Semenjak Ayah meninggal, Jullian tidak memberikanku sedikit pun warisan yang ditinggalkan olehnya. Padahal beliau sudah mengatakan dengan jelas jika separuh Linsberg akan menjadi milikku sesuai dengan isi wasiatnya."

Kepalan tangannya memukul meja, emosi hampir meledak jika bukan di hadapan sang selir.

"Tapi apa yang aku dapatkan? Bedebah itu hanya memberikan satu wilayah di desa kecil! Satu desa saja!" ulangnya sambil menukas, "Dia terlalu serakah. Aku benar-benar ingin menghabisinya!"

Ibu Suri kembali menatapnya dengan tenang dan menyahut, "Tenangkan dirimu dulu, sayang. Atau nanti meja ini akan ambruk."

Sullivan membenarkan diri untuk duduk tegap dan masih mengkerutkan dahi akibat kesal.

Wanita pirang tersebut menawarkan sambil mengaduk cangkir dengan sendok kecil. "Butuh berapa banyak pasukan untuk menghadang pasukan kekasairan? Ibu bisa meminta pamanmu, Marquis Colt, untuk membantumu."

"Pasukan unit 2 yang aku komando sekitar lebih lima puluh ribu prajurit. Jika ditambah dengan pasukan Perth, itu bisa sekitar seratus lima puluh ribu prajurit yang akan menembus benteng Calonia." jelas Sullivan sambil menghitung akumulasi jumlah.

Sharon meletakkan cangkir yang diaduk tadi. "Jika dengan pasukan tambahan dari pihak pamanmu dan keluarga Dawson, itu semua sudah cukup untuk mengalahkan pasukan utama kekaisaran."

Sullivan menatap wajah sang Ibu Suri. "Tapi ... aku juga tidak bisa menjamin jika Perth tidak mengkhianatiku, Ibu. Karena Perth juga menginginkan kekayaan Linsberg, aku harus waspada."

Ibu Suri tersebut hanya bisa menghembuskan nafasnya sejenak. "Apa pun yang ingin kau lakukan ... Ibu pasti mendukungmu, Nak. Tapi ... Ibu tidak ingin kau terluka karena kudeta yang belum pasti sukses ini." ujar nya khawatir dan melanjutkan, "Karena sekali gagal, riwayat kita akan tamat."

Sullivan memegang tangan sang ibu dan menepuknya.

"Tenang saja. Aku pastikan kudeta ini akan berjalan lancar dan tanpa halangan." Senyumannya nampak serius. "Perencanaan kudeta ini akan aku lakukan paling lambat akhir musim dingin ini."

"Berarti ... satu tahun dari sekarang?" Pertanyaan Sharon yang disambut anggukan sang anak yang melepaskan tangannya.

Matanya menyipit sesaat. "Aku pastikan dia takkan menghalangi kudeta."

Perebutan tahta adalah tujuan utama.

Tidak ada yang lain selain itu.

Dan Sullivan pasti akan mendapatkannya.

Dalam sejarah kekaisaran Linsberg, sekali lagi pembuktian kuat akan diguncang oleh badai karena dua matahari akan berseteru untuk memperoleh kekuasaan tertinggi di negeri ini.

.

.

.

TBC ...

authormiina
Ichirisa

Creator

Comments (0)

See all
Add a comment

Recommendation for you

  • What Makes a Monster

    Recommendation

    What Makes a Monster

    BL 76.4k likes

  • Arna (GL)

    Recommendation

    Arna (GL)

    Fantasy 5.5k likes

  • Blood Moon

    Recommendation

    Blood Moon

    BL 47.9k likes

  • The Last Story

    Recommendation

    The Last Story

    GL 56 likes

  • Earthwitch (The Voidgod Ascendency Book 1)

    Recommendation

    Earthwitch (The Voidgod Ascendency Book 1)

    Fantasy 3k likes

  • Frej Rising

    Recommendation

    Frej Rising

    LGBTQ+ 2.8k likes

  • feeling lucky

    Feeling lucky

    Random series you may like

Deadly Darling
Deadly Darling

99 views5 subscribers

Kerajaan Heint telah runtuh akibat invasi dari Kekaisaran Linsberg. Putri Lillianne, satu-satunya anggota keluarga kerajaan yang selamat. Ia bersumpah akan membalaskan dendamnya kepada Kekaisaran Linsberg atas seluruh kejahatan kepada negerinya.

"Ini adalah waktunya balas dendam!"

Story by Ichirisa, Illustrated by Neko Celleng
Subscribe

4 episodes

The News

The News

7 views 0 likes 0 comments


Style
More
Like
List
Comment

Prev
Next

Full
Exit
0
0
Prev
Next