Please note that Tapas no longer supports Internet Explorer.
We recommend upgrading to the latest Microsoft Edge, Google Chrome, or Firefox.
Home
Comics
Novels
Community
Mature
More
Help Discord Forums Newsfeed Contact Merch Shop
Publish
Home
Comics
Novels
Community
Mature
More
Help Discord Forums Newsfeed Contact Merch Shop
__anonymous__
__anonymous__
0
  • Publish
  • Ink shop
  • Redeem code
  • Settings
  • Log out

Deadly Darling

An investigation?

An investigation?

Jun 23, 2024

This content is intended for mature audiences for the following reasons.

  • •  Abuse - Physical and/or Emotional
  • •  Cursing/Profanity
Cancel Continue

Istana Agathe,

Matahari baru saja terbit untuk menyambut pagi Ibukota Linsberg hari ini, seperti biasa istana kekaisaran mulai tampak sibuk menyiapkan berbagai hal kebutuhan istana, begitu pula dengan Kaisar Jullian yang baru saja keluar dari kamarnya.

"Hansius!!"

Pria bersurai ash gray langsung berlari ketika mendengar sang kaisar memanggil namanya dengan kencang. Bajunya menyapu di lantai keramik mewah dan masuk ke ruangan. Lelaki tersebut tergopoh-gopoh berlari menghampirinya.

"Haaa ... Hamba ... menghadap Matahari Kekaisaran Baginda ... Haaa ..." Sang ajudan kaisar muda itu memegang tembok karena lelah berlari.

"Hari ini aku akan keluar bersama Sam, tolong siapkan kudaku!" titah Jullian saat sudah selesai menepuk bajunya.

Hansius; pria muda yang berstatus sebagai tangan kanan sekaligus ajudan yang dipercaya oleh Jullian itu menunduk hormat. "Baik, Baginda. Hamba akan meminta Sir Huston untuk menyiapkan Maximus. Silahkan Baginda menunggu di depan gerbang istana."

Netra garnet Jullian meliriknya dengan tajam. "Siapa yang menyuruhmu untuk menyiapkan Maximus untukku?"

"E-eh ...?!" Hansius mendongak bingung, heran akan ucapan dari kaisarnya. "Ma-maksud ... Ba-baginda ...?"

"Kau tidak lihat penampilanku sekarang ini?"

Kaisar muda itu telah menggunakan jubah hitam sederhana, rambut diturunkan guna untuk melakukan penyamarannya. Tak lupa pedang kesayangan yang ada di pinggang dibaluti kain putih agar coraknya tidak diketahui.

"Aku akan melakukan inspeksi diam-diam, Hansius. Perlu kutusuk matamu?" tanyanya agak kesal. 

Netra raven milik Hansius itu hanya bisa menatap Jullian dengan pucat. Namun, masih sempat menelan air liurnya ketika mendengar ancaman dari si penguasa.

Dua menunduk hormat lagi. "Ma-maafkan hamba, Baginda! Hamba tidak teliti!" 

Jullian berdecak kesal lalu ia berjalan melewati ajudannya. "Siapkan kudaku. Dalam lima belas menit, aku akan tiba di pintu gerbang istana."

Hansius langsung memberikan hormat lagi kepadanya dengan lega. "Baik, Yang Mulia. Hamba akan menyiapkan Lucy."

Kaisar muda tersebut berjalan melewati koridor istana miliknya, beberapa pelayan yang lewat memberikan hormat kecil saat dia lewat. Pria bersurai raven itu bertemu dengan sahabatnya yang telah berada di depan pintu utama istana.

"Selamat pagi, Baginda." ujar Duke Lennox hormat.

Kaisar Jullian menganggukan kepalanya cepat. "Pagi, Duke Lennox."

Tak lama kemudian yang bersangkutan datang dengan tergesa-gesa dan tentunya dengan membawa dua kuda untuk mereka.

"Baginda, ini kuda Anda." Hansius menyerahkan tali kekang kuda kepada keduanya.

Jullian menerima tali kekang dan memeluk kuda berwarna cokelat tua tersebut. "Halo, Lucy. Sudah lama aku tidak menaikkimu."

Kuda itu merespon ucapan dengan suara meringkik.

Duke Lennox langsung menaiki kudanya yang berwarna hitam, ketika melihat Jullian telah naik ke atas kudanya.

Jullian menatap ajudannya sejenak, lalu netra garnet itu mencari sosok pria berambut orange yang ia kenal. "Hmm ... Lloyd tidak ada ya?" gumamnya yang masih bisa didengar.

Samuel membuang nafasnya sejenak. "Mungkin dia masih mengerjakan tugasnya."

"Bisa jadi." Kaisar Jullian melirik ajudannya kembali. "Hansius."

"Iya, Baginda?"

"Aku akan kembali sebelum senja. Kalau Lloyd mencariku, katakan tugasnya telah aku letakan di meja kerjaku. Oh, dan satu lagi. Jika ada bangsawan lain yang datang, bilang aku tidak mau diganggu untuk sementara waktu."

Hansius mengangguk cepat. "Baik, akan hamba sampaikan perintahnya, Baginda."

"Kalau begitu aku pergi dulu." Jullian menutup tudung jubah hitam miliknya. "Ayo, Duke Lennox. Kita berangkat."

Ia memberikan pecutan pelan kepada kudanya, lalu kuda itu berjalan disusul dengan kuda Duke Lennox. Mereka berpacu meninggalkan Istana Agathe, memulai melakukan inspeksi diam-diamnya. 

Kedua kuda yang tengah ditunggangi oleh Duke Lennox dan Kaisar Jullian itu saling berpacu membelah Ibukota Yūtōoh, mereka dengan kecepatan tinggi melewati gerbang perbatasan antara Ibukota dan kota penyangga Ibukota.

"Bukankah itu Baginda dan Duke Lennox yang baru saja lewat?" Tanya salah satu ksatria yang menjaga gerbang ibukota kepada temannya.

"Sepertinya iya." jawab ksatria itu ragu.

.

.

.

Kota Alley merupakan salah satu dari banyaknya dari wilayah sekitar ibukota untuk ditinggali. Daerah yang dipimpin oleh Count Oxley konon katanya tengah mengalami kekeringan dan sulit mendapatkan air bersih.

Keduanya baru saja tiba di Kota Alley dan netra garnet miliknya terbelalak, terkejut melihat kondisi Kota Alley yang begitu memprihatinkan.

Keduanya berputar-putar dan berkeliling ke wilayah tersebut.

Sebenarnya, Kota Alley ini tidak mengalami kekeringan terlalu parah, hanya saja kenapa wilayah ini terlihat kumuh sekali? Itu menjadi pertanyaan di dalam benak Kaisar Jullian.

Jullian menghentikan laju kudanya ketika melihat air mancur di tengah kota terlihat kering, lalu turun dari kudanya dan mendekati air mancur itu. Ia memasukkan tangannya ke dalam kolam air mancur itu, bahkan mencoba merasakan air itu dengan meminumnya.

Duke Lennox menatap Kaisar Jullian dari kejauhan.

"Jullian ..." gumamnya pelan.

“Hoeks!” Jullian memuntahkannya setelah mencicipi air di kolam air mancur itu. "Aneh sekali rasanya, padahal air mancur di tiap kota itu biasanya airnya jernih dan dapat diminum."

Jullian setengah menoleh sambil memanggilnya. "Sam! Kemarilah!"

Duke Lennox mendekat. "Coba kau minum air kolam mancur ini. Rasanya aneh dan berbeda seperti yang ada di ibukota."

Dia mengangguk dan ikut mencoba rasa air itu. "Kau benar, Jullian. Rasanya aneh. Airnya juga keruh."

"Apa karena air laut? Kota ini memang dekat pelabuhan, tapi di Carsha itu airnya tidak seperti ini." Netra garnet milik Kaisar Jullian mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.

"Kasihan sekali rakyatku ... malang sekali nasibnya ... dan kenapa wilayah ini terlihat miskin sekali? Padahal aku tak pernah menarik pajak besar-besaran di kota kecil yang tidak terlalu menguntungkan kekaisaran. Memang tambang garam di wilayah ini sangat melimpah, tapi tidak terlalu menguntungkan seperti tambang emas dan permata di wilayah lain."

Duke Lennox mengangguk menyetujui omelan Jullian. "Bagaimana jika kita berkeliling lagi, Jullian? Sambil mencari sumber masalah kenapa air di sini keruh dan rasanya tidak enak."

"Baiklah ... aku akan berjalan kaki sambil melihat-lihat kota ini. Kau tuntun Lucy untukku, Sam." ucap Kaisar Jullian, lalu ia berjalan-jalan kaki menuju beberapa perumahan dan pertokoan yang ada di Kota Alley.

.

.

.

Di sisi lain, Rion baru saja akan pergi ke pasar. Ia tahu jika Kota Alley, tempat ditinggalinya, tengah dilanda kekeringan dan sulit air bersih. Itu sering terjadi beberapa kali dalam beberapa bulan belakangan ini. Dirinya ingin memprotes, tapi tidak bisa ia lakukan karena juga tinggal di negeri musuh.

Kadang, Rion suka mengeluh kepada Axel. Biasanya, dia akan menyumbat keran air dengan kain putih agar air yang dikeluarkan itu tidak keruh dan bisa digunakan. Masalah utama soal air bersih mereka berdua atasi sehingga Rion tidak terlalu pusing untuk soal air bersih, lagipula mereka berdua jarang berada di rumah mereka karena sibuk bekerja.


Dengan wajah murung Rion berjalan menuju pasar, ia memikirkan ucapan Axel kemarin tentang keberadaan tunangannya yang ternyata masih dikabarkan hidup itu, setelah tiga tahun Kerajaan Heint runtuh.

Rion menatap langit dan bergumam, "Gevanni ... apa benar kamu masih hidup? Aku merindukanmu."

Saat ia berada di pasar, Rion bertemu dengan anak-anak kecil yang selalu menyapanya, mereka tengah bermain kejar-kejaran.

"Kak Rion, selamat siang! Tidak bekerja hari ini?" seru anak-anak yang tengah bermain kejar-kejaran yang melewati dirinya.

"Hari ini aku masih libur, John. Dan Harley! Hei! Kalian jangan lari-lari di pasar!" jawab Anne sedikit berteriak, lalu ia membuang nafasnya malas. "Dasar anak-anak!"

"Hahaha ... begitulah anak-anak, Rion." timpal Paman yang menjual buah.

"Aku mau buah apelnya tiga puluh buah, ya, Paman." pinta Rion

"Tumben ... banyak sekali membeli buahnya?" tanya si Paman.

"Aku mau membagikannya kepada anak-anak panti nanti. Mereka sangat senang dengan buah apel, Paman." jawab Rion sambil tersenyum.

Paman itu ikut tersenyum. "Hatimu baik sekali, Rion. Padahal hidup kalian sangat sulit, tapi kalian sering memikirkan anak-anak panti asuhan itu."

"Karena aku menyukai mereka, Paman. Mereka menjadi anak-anak panti karena peperangan. Aku tidak ingin mereka kehilangan senyumannya karena kemiskinan lagi." jelas Rion dengan lembut.

Wajah lelaki paruh baya itu terlihat muram. "Sayang sekali, Rion ... kamu bukanlah gadis bangsawan. Seandainya kamu adalah putri dari Count Oxley, pasti kota ini pasti akan makmur."

"Jangan bilang begitu, Paman! Jika terdengar pasukan keluarga Count, dirimu pasti bisa masuk penjara." Timpalnya tenang.

Wanita itu tersenyum setelah memberikan uang kepada Paman Penjual Buah, "Paman, doakan saja aku menikah dengan bangsawan negeri ini, mungkin saja aku bisa mewakili suara kalian."

"Paman akan mendoakanmu, Rion!" seru Paman Penjual Buah itu, Rion hanya bisa tertawa dan pergi meninggalkan toko buah itu.

Ia kembali mengitari pasar untuk berbelanja.

Setelah puas, tangannya penuh dengan belanjaannya. Rencananya, siang ini ia akan pergi ke panti asuhan yang berada di pinggir kota. Sejak akhir tahun lalu, Rion cukup rutin mengunjungi panti asuhan di kala ia libur bekerja.

Pelan-pelan Rion berjalan menyelurusi jalan-jalan sempit. Banyak bangunan rumah bergaya eropa tua yang berjejer rapi, Rion berjalan di gang itu.

Namun, ditengah-tengah perjalanannya. Rion mendengar suara langkah kaki seseorang yang mengikutinya.

Rion memberhentikan langkahnya.

"Siapa yang mengikutiku?" gumam Rion pelan, ia mencoba menoleh.

Kosong.

Tidak ada siapa pun di belakangnya.

Rion menjadi waspada, apalagi di gang sempit seperti ini, sulit untuk kabur.

Ia beralih untuk berjalan cepat dan memasuki jalan di gang lainnya, mencoba mencari jalan lain agar tidak ada yang mengikutinya.

TAP ... TAP ... TAP ...

Sekali lagi Rion mendengar jelas ada suara langkah kaki yang mengikutinya.

"Pasukan Kekaisaran? Atau pasukan dari Count? Tapi kenapa mereka mengejarku? Padahal aku sudah berganti identitas, harusnya tidak bisa dilacak." Rion bergumam sambil menengok kanan-kirinya.

"Aku yakin ini suara sepatu dan kuda ... bagaimana bisa sedekat ini?" Rion panik dan takut saat mendengar suara itu mendekat, tapi Rion tetap berusaha tenang. Ia berjalan cepat ke arah berlawanan, dan menunggu seseorang itu di perempatan gang, di balik tembok rumah seseorang.

Gadis bersurai crimson itu tak sengaja menemukan sebuah sapu tergeletak di dekat situ. Ia mengambil sapu itu untuk berjaga-jaga, dan Rion mencoba mengatur nafasnya sejenak sambil menunggu seseorang yang mengikutinya sejak tadi itu.

Ia bersiap, kedua tangannya telah menggenggam sebuah sapu sambil memeluk kantung belanjanya di dadanya.

Langkah kaki terdengar jelas mendekati lokasi Rion saat ini, sosok seseorang dengan jubah hitam panjang itu melewati Rion.

Saat sosok jubah hitam itu lewat, Rion langsung memukul tengkuk belakangnya.

Brukk!

Seseorang berjubah hitam itu jatuh ke depan, Rion melepaskan sapu itu dari tangannya.

PRAKK!!

Dari kejauhan terdengar teriakan kencang ke arah Rion dan seseorang yang telah tersungkur itu.

"JULLIAN!!"

Pelan-pelan Rion menoleh ke arah suara yang berteriak. "E-eh?!"

Di sana terlihat sosok pria berjubah hitam lainnya dengan memegang dua tali kekang kuda di tangannya, berjalan mendekati Rion dan pria yang telah jatuh tersungkur di tanah. 

.

.

.

TBC ...

authormiina
Ichirisa

Creator

Comments (0)

See all
Add a comment

Recommendation for you

  • What Makes a Monster

    Recommendation

    What Makes a Monster

    BL 76.4k likes

  • Arna (GL)

    Recommendation

    Arna (GL)

    Fantasy 5.5k likes

  • Blood Moon

    Recommendation

    Blood Moon

    BL 47.9k likes

  • The Last Story

    Recommendation

    The Last Story

    GL 56 likes

  • Earthwitch (The Voidgod Ascendency Book 1)

    Recommendation

    Earthwitch (The Voidgod Ascendency Book 1)

    Fantasy 3k likes

  • Frej Rising

    Recommendation

    Frej Rising

    LGBTQ+ 2.8k likes

  • feeling lucky

    Feeling lucky

    Random series you may like

Deadly Darling
Deadly Darling

99 views5 subscribers

Kerajaan Heint telah runtuh akibat invasi dari Kekaisaran Linsberg. Putri Lillianne, satu-satunya anggota keluarga kerajaan yang selamat. Ia bersumpah akan membalaskan dendamnya kepada Kekaisaran Linsberg atas seluruh kejahatan kepada negerinya.

"Ini adalah waktunya balas dendam!"

Story by Ichirisa, Illustrated by Neko Celleng
Subscribe

4 episodes

An investigation?

An investigation?

16 views 0 likes 0 comments


Style
More
Like
List
Comment

Prev
Next

Full
Exit
0
0
Prev
Next