Please note that Tapas no longer supports Internet Explorer.
We recommend upgrading to the latest Microsoft Edge, Google Chrome, or Firefox.
Home
Comics
Novels
Community
Mature
More
Help Discord Forums Newsfeed Contact Merch Shop
Publish
Home
Comics
Novels
Community
Mature
More
Help Discord Forums Newsfeed Contact Merch Shop
__anonymous__
__anonymous__
0
  • Publish
  • Ink shop
  • Redeem code
  • Settings
  • Log out

EXREA

Where The Job Introduced — 2

Where The Job Introduced — 2

May 10, 2025

Malam di hari yang sama, pukul 22.49—Distrik Preka.


Menggunakan mobil pribadi milik Yata-garasu, mereka sudah lama memarkir di area terdekat tempat perkara kejadian. Tentu saja tempat itu adalah parkir salah satu apartemen, dan bukan hal yang sulit untuk sekedar menitipkan mobil tanpa memperdulikan harga parkirnya.


Namun, kedua pria tersebut justru terlihat baru keluar dari sebuah minimarket di area tersebut, karena mereka membeli sesuatu dari sana sebelum akhirnya duduk di kursi terdekat.


Meski mengundang keheranan pegawai minimarket akan kedua orang bersetelan bagus hanya untuk membeli makanan sekelas minimarket.


Ya, tidak ada salahnya, bukan? Kedua orang itu terlihat tak peduli juga.


“Hmm… Untuk ukuran jam segini, sepi juga ya. Katanya seminggu yang lalu sempat ada penyelidikan dari pihak kepolisian di area gang itu, kan? Sekarang sudah kosong kayak tidak ada jejak.”


“Polisi tidak menemukan apa-apa, karena mereka tak bisa mengganggu pemukiman, maka mereka terpaksa mengundurkan diri.”


Keiron menggumam, gigi tajamnya memotong mudah es krim batangan yang ia beli barusan dan langsung melahapnya. Sedangkan Yata-garasu, membuka sebuah kotak nasi kari yang telah dihangatkan, sebelum beralih ke kotak kacang kedelai fermentasi yang masih tertutup rapat. Dilengkapi dengan teh hijau kemasan berbentuk botol sebagai minumannya.


Tentu saja semua dibayar dengan uang Yata-garasu.


“Ah, apalagi ini daerah orang kaya. Pasti ribut banget, tuh—Ugh, Yata! Kenapa lagi-lagi membeli makanan terkutuk itu! ARGH, BAUNYA!”


Dengan wajah datar, Yata-garasu baru membuka tutup kemasan kacang kedelai fermentasinya.


“Saya baru saja membuka lembaran tutupnya, Keiron. Anda bereaksi berlebihan.”


“Bagaimana tidak bereaksi berlebihan! Hidungku beda denganmu, tahu!”


Seakan-akan seekor kucing yang terkejut, ia melompat dari kursi bahkan menjauh dari tempat duduknya yang tadinya berseberangan dengan Yata-garasu dan menutup hidungnya rapat-rapat. Bau menyengat dari kacang kedelai fermentasi nyaris seperti bau busuk, hidungnya yang terlalu tajam menjadi bumerang.


Yata-garasu pun menggunakan sumpit untuk mengaduk kacang kedelai fermentasinya setelah memecahkan sebuah telur mentah diatasnya, hingga berbuih putih, mencampurnya diatas kotak nasi kari hangatnya.


Seakan bau fermentasi bukanlah masalah, ia menyantap makan malam sederhananya yang tak sesuai dengan penampilannya.


‘Kok bisa ‘sih, ada manusia yang buat makanan bau busuk begini! Mananya yang enak!! Benda itu pahit sekali!’ Keiron mengumpat dalam hati, ingin sekali mengutuk bosnya yang terlihat begitu menikmati makanan sehat seperti makan makanan mewah. Elegan, sopan—dan rapi.


“Hal tersebut tak dapat dihindari. Jika anda keberatan, mengapa tak lakukan patrolinya saja? Jam telah mendekati momen tersebut.”


Saran dari Yata-garasu lantas dikerjakan, tak mau ia dekat-dekat dengan makanan laknat bau menyengat. Kasihan hidungnya. Keiron beralih menuju jalan seberang gang yang dicurigai dimana kejahatan terjadi.


Sosoknya yang hendak memasuki gang mulai menghilang, tertelan oleh kegelapan malam, meninggalkan sosok Yata-garasu yang masih menikmati makan malam sederhananya. Lagipula, pengertian jam miliknya berbeda dengan manusia pada umumnya, saat ini adalah waktu yang tepat untuk makan malam.


Keheningan semakin menyelimuti hingga hidangannya telah habis, ia membuka botol minumannya dan menenggaknya perlahan, cukup untuk membersihkan dan menyegarkan kerongkongan selepas menyantap makan malam. Jam hampir mendekati tengah malam, suhu malam hari semakin dingin karena angin malam yang berhembus.


Angin?


Untuk distrik dipenuhi oleh hunian mewah, jam menuju tengah malam tak berarti waktu untuk tidur lebih cepat mengingat gaya hidup mereka. Terkecuali jika himbauan untuk tidak berkeliaran dikarenakan perusahaannya akan menginvestigasi benar-benar memberikan efek, maka ia tak heran.


Lantas, mengapa ia melihat bayangan seorang anak kecil berlari kearah lain sendirian? Sesuatu dari dalam dirinya mengatakan bila fenomena ini terkait oleh kasus yang sedang ia kerjakan.


Dihabiskannya sebotol minuman yang tersisa, ia bangkit dari kursinya setelah membersihkan sisa sampah ke tempatnya. Langkahnya bergegas untuk mengikuti bayangan melintas cepat barusan.




“Ugh… Kenapa rasanya bau kacang kedelai fermentasi itu masih menempel di bajuku?”


Keiron mengendus bajunya, hidung tajamnya yang lebih baik dari penciuman anjing itu serasa telah mati sesaat berkat bau fermentasi yang mirip bau busuk. Memiliki indera tajam memang memiliki kelebihan dan kekurangan, ia tak memungkiri hal tersebut. Ia sangat mengerti keadaan dirinya sendiri dan bagaimana menghindari hal buruknya.


Yang ia heran adalah mengapa ada manusia membuat makanan seperti itu. Fermentasi, katanya? Apakah semua makanan fermentasi seperti itu?


“Hm, fermentasi… Fermentasi, kalau aku tak salah ingat, makanan yang sengaja dibiarkan melalui proses organisme… Apa? Ah, malas memikirkannya. Intinya yang bikin bau tidak enak tapi masih bisa dimakan?” Bergumam sendiri, kemudian menyerah di tengah-tengah pemikiran sendiri. Menurutnya tidak penting, namun Keiron telah mencatat di dalam pikiran untuk menghindari makanan yang melalui fermentasi, sebab jauh dari seleranya.


Selama berjalan pun, ia tak hanya sekedar berjalan. Hidungnya boleh sejenak mati, namun bukan berarti indera yang lainnya akan turut mati pula. Seperti, indera yang mendengar pergerakan penuh hati-hati, terstruktur, saat tengah malam ini dari jarak kurang lebih 300 meter?


“Hmm, sungguh mencurigakan~” Dia bersiul, mengikuti insting untuk terus mendekati suara itu. Namun, sepertinya langkahnya yang dari jauh membuat suara yang ia ikuti mulai waspada, terdengar mereka yang bergerak cepat menjauhinya.


“Oh?” Keiron menyeringai kecil. Apakah langkahnya terlalu cepat ketahuan? Atau memang sengaja melangkah seperti demikian, seakan-akan ia tidak peduli akan ketahuan?


Kedua tangannya ia saku kan dalam celana, santai langkahnya, sampai juga langkahnya ke suatu tempat. Sebuah gudang besar, seperti tak terpakai, terlihat dari dinding terkelupas catnya, atap genteng yang beberapa telah hilang dan struktur gudang tersebut tak terurus, terutama pepohonan tinggi dan semak yang menutupi gudang. Orang awam akan berpikir demikian jika mereka tak melihat lampu yang menyala dari dalam gudang tersebut.


Mata berwarna keemasan Keiron juga menangkap adanya satu truk kontainer yang terparkir tak jauh di sisi gudang. Truk tersebut tak memiliki warna khusus selain bercat hitam dengan kontainer warna putih. Merasa truk tersebut lebih bernilai untuk diselidiki, lantas langkahnya mendekati ke truk daripada ke gudang.


Cukup dekat dengan truk, Keiron pun memeriksa dari sisi luarnya terlebih dahulu. Tidak ada yang aneh… Selain tiga hal yang ia temukan setelah beberapa saat memeriksa. Hal pertama yang ia dekati adalah plat nomor yang terpasang di belakang truk. Plat nomornya tampak asli sekilas, namun ia tak tertipu dengan adanya yang menempel erat dibalik plat nomor tersebut. Sedikit paksaan dan tenaga, ia melepas plat nomor yang menempel, yang ternyata adalah plat nomor tempelan–sedangkan yang asli hanyalah plat kosong.


“Plat nomor palsu, eh?” Plat nomor yang telah ia lepas berada ditangannya, diayunkannya, seperti mencari sesuatu. Tidak menemukan hal menarik, ditaruhnya plat nomor tersebut ke tanah dan sekarang, ia meraih pintu kontainer yang dikunci rapat oleh gembok. Merasa akan membuang waktu bila ia mencari kunci, maka ia buka paksa dengan mematahkan gemboknya menjadi dua menggunakan jarinya, bagaikan seseorang yang mematahkan ranting.


“Sudah kebuka~ Kita lihat apa isinya… He?” Alisnya terangkat naik sebelah saat pintu kontainer terbuka, memperlihatkan isinya yang ternyata… kosong. Hidungnya pun mengendus, mencari sisa bau yang ada.


“Hm… Isinya tak ada namun masih ada bau manusia yang tertinggal. Bau ini… Bau anak-anak?”


Sesaat ia menggumam demikian, suara tembakan terdengar keras–sebuah timah panas melesat dari belakang punggungnya.

makuva
M.K.V.

Creator

Comments (0)

See all
Add a comment

Recommendation for you

  • What Makes a Monster

    Recommendation

    What Makes a Monster

    BL 75.6k likes

  • Invisible Boy

    Recommendation

    Invisible Boy

    LGBTQ+ 11.5k likes

  • Touch

    Recommendation

    Touch

    BL 15.6k likes

  • Silence | book 1

    Recommendation

    Silence | book 1

    LGBTQ+ 27.3k likes

  • Blood Moon

    Recommendation

    Blood Moon

    BL 47.7k likes

  • The Taking Season

    Recommendation

    The Taking Season

    Romance 6.5k likes

  • feeling lucky

    Feeling lucky

    Random series you may like

EXREA
EXREA

673 views1 subscriber

[ New Update Every Week on Saturday ] Perhaps you have been wondering whether there are any beings other than humans who reside in this world, whether we are living side by side. Excitement to interact or know more about them might be inevitable for some. Curiosity is a good thing, but have you ever consider the danger to delve deeper to seek the answer? Extravagant Bureau━known as EXREA might be able to help you answer those curiosity without endangering yourself. Are you brave enough to know the answer by coming to EXREA?
Subscribe

15 episodes

Where The Job Introduced — 2

Where The Job Introduced — 2

38 views 0 likes 0 comments


Style
More
Like
List
Comment

Prev
Next

Full
Exit
0
0
Prev
Next