Di sisi lain dimana Yata-garasu berada.
Langkahnya hampir tak bersuara, ringan, seakan berbeda dengan rekannya yang berjalan santai seolah memberi tahu lokasinya—pria berkacamata ini tak membiarkan langkahnya terdeteksi. Merupakan salah satu caranya dalam bekerja, ia lebih mementingkan efisiensi daripada kerusakan yang berpotensi mampu menarik perhatian seperti Keiron.
Selain tak ingin repot dengan urusan di masa depan tentunya, ada alasan lain.
Jalanan yang ia tapak, entah mengapa tak memiliki ujungnya—seakan-akan, ia telah memasuki dimensi lain. Sebab suasana semakin dingin, angin yang berhembus masih ia ikuti, kegelapan tak lazim dan sepasang mata yang mengawasinya. Indera pendengarannya bahkan mulai mendengar adanya suara tangisan anak-anak, yang membuatnya semakin waspada dibalik wajah tenangnya.
Hingga tiba-tiba, sesuatu melesat ke arahnya, menerjang, seperti hewan liar yang cekat. Kecepatannya tak sembarang mata dapat diikuti bagi orang awam, dan bagi yang sial, terjangan dari eksistensi asing berpotensi melukai mereka akan sangat tinggi.
Beruntung, Yata-garasu bukan orang biasa.
Serangan dari makhluk itu telah ia halau, tongkat unik yang menemaninya berjalan rupanya tak boleh diremehkan, cengkraman berupa tangan berkuku tajam dari eksistensi asing itu tak mampu menorehkan goresan sedikitpun di tongkat yang ia genggam. Alisnya menekuk, saat mengetahui eksistensi yang menyerangnya ini.
Makhluk ini memiliki badan kecil, bila dibandingkan dengan tinggi badan Yata-garasu, tingginya tak lebih dari pinggangnya. Wajahnya terlihat masih muda, seperti anak-anak, namun bentuk badan anak-anaknya tak cocok dengan kedua tangan besar berkuku tajam seperti hewan kungkang. Jika kungkang menggunakan kukunya untuk memanjat, maka sudah dapat dipastikan bila makhluk ini menggunakan kukunya untuk mencakar.
“… Tiyanak,” terka Yata-garasu seraya memberikan jarak keduanya, berjaga-jaga bila makhluk di hadapannya akan menyerang lagi. Makhluk yang disebut Tiyanak merasa terpanggil, gerakannya terhenti, wajahnya yang tadinya normal seperti anak-anak, ekspresinya seketika berubah menyeramkan dengan seringai lebar, menunjukkan deretan gigi taring mengerikan, mata membelalak mengancam, tak sesuai bentuk wajah kecil.
“Hoh, siapa sangka kau tahu kami,” tak seperti bentuk tubuh mereka yang seperti anak-anak, suara mereka berat, menggeram, seperti anjing. “Tapi, tak semua orang bisa tahu sekali lihat seperti ini. Siapa kau?”
“…Melihat bentuk tubuh anda yang sudah berkembang, saya dapat melihat beberapa ciri yang tak berubah, seperti bentuk cakar dan mata anda. Orang biasa akan tertipu bila mereka hanya mendengarkan suara tangisan yang mirip bayi, yang sebenarnya memiliki sonar hipnosis dan membuat mereka terpengaruh hipnotis.”
Penjelasan Yata-garasu membuat makhluk Tiyanak tersebut terkejut dan merasa aneh. Dari penampilan pria berkacamata itu, ia mengira Yata-garasu hanyalah manusia biasa.
Jika ia memang manusia biasa, mengapa ia tahu banyak hal tentang Tiyanak?
Kecurigaannya semakin menguat saat kedua pasang mata bertemu. Di balik lensa berbingkai emas miliknya, warna mata Yata-garasu yang unik, menatapnya tajam—bagaikan sebuah umpan yang terpancing, makhluk Tiyanak tersebut tak dapat mengalihkan pandangannya. Tidak… Lebih tepatnya, ia tidak bisa.
Sesuatu membuatnya untuk terus menatapnya, bagaikan tatapan mata sang pemburu, ia terbelenggu dalam cengkraman erat, bernapas terasa begitu berat dan menyesakkan, jantungnya berpacu sangat cepat, mengikis kepercayaan diri yang tadinya melambung tinggi.
Apa yang terjadi? Manusia macam apa yang mampu mengancamnya hanya dari menatapnya saja? Dia seperti pemangsa yang memburunya!
Sang Tiyanak terjatuh dengan lututnya setelah gagal meneguhkan kakinya yang bergetar hebat, pelipisnya dipenuhi peluh dingin sebab tatapan Yata-garasu semakin menekan. Alih-alih tekanan membunuh turun, jatuhnya Tiyanak semakin mengkerdilkan rencananya untuk menyerang balik.
“Mengapa anda bertekuk lutut? Ah… Apakah ini karena anda menatap mata saya?” Ucapan Yata-garasu membuat makhluk Tiyanak bergidik. Rupanya yang ia rasakan dari sekedar menatap mata secara langsung benar adanya. Giginya bergemeretak geram, hendak melawan rasa takut yang tak lazim ini.
Selayaknya hukum rimba, mana yang lebih kuat, ia akan memangsa yang lemah.
“Kau…! Makhluk apa kau…!? Tidak mungkin kau ini hanyalah manusia… Kau pasti makhluk dari sisi sana!!”
Merasa sangat terancam, adrenalin untuk melepaskan diri akhirnya terjadi, Tiyanak mengeluarkan kuku tajamnya dan kembali menyerang Yata-garasu dari posisinya. Mungkin karena terjadi begitu cepat, Tiyanak tersebut tak menyadari bahwa hal yang ia lakukan telah sia-sia. Dari pergelangan tangan hingga seluruh telapak tangan, tiba-tiba terjatuh, setelah terpotong rapi dengan satu sabetan benda tajam.
Seakan tubuhnya merespon lambat akan sabetan rapi itu, darah pekat nan gelap baru mengucur hebat selayaknya balon berisi air pecah oleh pukulan keras—muncrat! Erangan kesakitan memekik telinga seketika, tak hanya itu, luka sabetan yang memotong tangannya sempurna, perlahan-lahan terbakar, meskipun tak ada api yang membakarnya.
Pedang yang tersembunyi dari tongkat yang Yata-garasu genggam telah berselimut darah gelap yang sama, darah yang menempel di bilah tajamnya perlahan menguap. Tiyanak membelalakkan matanya, mulai menyadari bahan pedang yang telah memotong tangannya barusan.
“P-perak…?! Bagaimana bisa pedang terbuat dari perak—”
“Lebih tepatnya, terbuat dari baja damaskus yang dilapisi perak. Murni hanya terbuat dari perak tak akan sekokoh ini.”
Gerakan tangan kanannya luwes dalam menggunakan pedang, Yata-garasu dengan baik hati meralat tebakan Tiyanak mengenai senjatanya. Walau begitu, tak ada yang memperdulikan kebenaran dari sebilah pedang yang terukir apik oleh seorang artisan yang akan mengancam nyawa sang Tiyanak. Bila saja yang memotongnya tak berlapis perak, maka ia tak perlu khawatir akan bekas tangan terpotong akan tumbuh lagi! Sayangnya, semua hanyalah angan-angan, terutama saat ia melihat ujung tajam pedang itu kini diarahkan ke hidungnya.
“Enam anak manusia dalam tiga minggu. Makhluk seperti anda seharusnya tak akan semudah itu untuk berburu. Kalian juga bukanlah tipe yang gemar menggerombol dengan sejenis anda, sehingga perburuan hanya memungkinkan bila wilayah kuasa anda sepi… Namun, distrik yang dihuni oleh pemukiman mewah… Anda mendapatkan bantuan dari manusia.”
Tiyanak yang tersimpuh hanya menyeringai congkak, tubuh yang berlumuran darah tak hentinya mengalir. Hingga tiba-tiba, ia tertawa mengejek, meski bau ajal telah sedari tadi menyelimuti dirinya.
“Sepertimu, aku tak sendirian. Aku tak tahu siapa kau, tapi rekanmu akan menghadapi manusia yang telah diperbudak oleh nafsu dipenuhi dendam! Hahaha! Rekanmu tak akan selamat dengan perlengkapan senjata yang mereka miliki!!”
Tak seperti yang Tiyanak duga untuk sekedar menakuti, ekspresi Yata-garasu tak berubah banyak. Semakin lama ia mengundur waktu untuk memberinya ruang bernapas, Yata-garasu merasa telinganya akan tuli akan ucapan sampahnya, maka ia memutuskan untuk mengayunkan pedangnya dan kembali memberikan sebuah sabetan bersih ke leher Tiyanak tersebut, lantaran menggelindingkan kepala seperti bola ke tanah. Tak memberikan kesempatan dengan kemungkinan Tiyanak hidup kembali, ia menusuk kepalanya dengan pedangnya, memotong sisa tubuhnya hingga bagian kecil—seperti bara api yang telah menyala bara, potongan-potongan Tiyanak terbakar seketika, sebelum hancur menjadi abu.
Yata-garasu menghela napas, memandang sisa abu yang lenyap di pandangannya.
“Anda salah jika saya mengkhawatirkan dia. Manusia-manusia yang malang… Mereka harus berhadapan dengannya. Sepertinya saya harus mengingatkan dia mengenai prosedur saat menangkap buruan.”
Yata-garasu merapikan pakaiannya, hawa dingin tak lagi dirasakan, seakan-akan dimensi ruang telah kembali ke alam nyata disebabkan Tiyanak telah tiada, ia bersiap kembali ke posisi yang dicek oleh rekannya, Keiron.
“Dia sudah mati?”
“Buruan cek. Tembakan sebanyak itu mana mungkin akan selamat, kecuali dia menggunakan rompi anti peluru.”
Tiga manusia dewasa bergegas mendekat, setelah tembakan beruntun yang terjadi dari senjata api yang mereka lakukan dari tempat persembunyian. Dengan hati-hati, langkah mereka mempersempit jarak antara mereka dan tubuh Keiron yang tergeletak akibat tembakan beruntun sebelumnya. Merasa was-was, salah satu dari mereka menggunakan ujung moncong senapan gentel untuk mengguncang badan Keiron yang tergeletak. Satu-dua guncangan, tidak ada respon. Betulan seperti orang mati.
Ketiga dan keempat guncangan, bukan lagi Keiron yang terguncang.
“Hah—”
Salah satu dari mereka yang mengguncang badan Keiron, mulai melihat langit malam. Seperti melayang dan kehilangan kendali oleh tarikan gravitasi, ia terjatuh setelah Keiron mencengkram satu kakinya, menariknya kencang seperti permainan anak-anak yang bersembunyi di bawah kolong kasur.
Perbedaannya, yang merasa bermain hanyalah Keiron.
Tarikan kencang tiba-tiba dari Keiron sukses menjatuhkan pria yang sedari tadi mengeceknya, tak memberinya kesempatan untuk menarik pelatuk dari senapan gentelnya. Kedua orang lainnya lantaran terkejut, refleks mengarahkan moncong senapan ke Keiron, dan menarik pelatuknya, melontarkan tembakan lagi. Empat tembakan rentetan jelas-jelas mengenai badan Keiron, namun adanya keganjilan terhadap tidak adanya darah yang muncul saat melihat peluru-peluru mereka menorehkan kerusakan ke pakaian Keiron.
“Aaah~ Tuh ‘kan, jadi rusak! Aku harus bilang apa sama bosku nanti? Baju ini keren dan mahal, lho!”
Kedua orang itu sengaja mundur berjaga jarak, semakin waspada ketika mulai menyadari akan keganjilan dari sosok yang sudah ditembak berulang kali ini, bukannya jatuh, malah bangkit seperti orang bangun dari tidur lelapnya. Ternyata, peluru yang telah mereka tembakkan, tidak ada satupun menembus ke kulit, alih-alih menggores. Kulitnya bagaikan sekeras rompi anti peluru, bahkan lebih, sebab peluru yang ditembakkan telah penyok, bagaikan menghantam dinding yang amat keras. Hanya pakaian Keiron yang menjadi korban, sebab meski berbahan terbaik demi kenyamanan gerakan sang pemakai, sepertinya belum sepenuhnya bisa menahan tembakan timah panas. Satu pria yang malang terkena aksi jahilnya, ia terjatuh dengan kepala terlebih dahulu, alhasil tempurungnya retak dan mati seketika di dekat kaki Keiron dengan mata terbelalak—terlihat dari darah yang mulai menggenang seperti rawa kecil.
“Lho, sudah mati? Kau belum ganti rugi bajuku yang sudah kau rusak. Ayo bangun!” Upaya membangunkan sang mayat yang tak mungkin bangkit kembali, Keiron menggunakan ujung sepatunya untuk mengguncang balik—seperti yang dilakukan pria ini sebelumnya saat mengeceknya. Tak menemukan tanda akan bangun, ia mengedikkan bahu tak acuh.
Benar-benar tak acuh meski moncong senapan gentel yang digenggam erat kedua orang asing itu kembali mengarah padanya, meski harus gemetar setengah mati. Keringat dingin mengucur deras, rasa-rasa ingin menembak tak kuasa dilakukan—ada yang aneh, batin mereka, tak seperti menghadapi orang-orang pada umumnya. Mereka tahu, mereka harus melakukan sesuatu jika ingin selamat dari Keiron, akan tetapi…
“Hmm, ya sudah. Aku bisa gunakan tubuhmu buat ganti rugi. Orang mati pun ada gunanya selama masih tersisa,” seringai Keiron melebar dengan tidak berdosa, sangat bertolak belakang dengan tatapan mata kuningnya yang telah mengunci ke kedua orang itu, maupun deretan gigi yang memiliki taring tajam unik.
Tatapan Keiron, bukanlah tatapan orang biasa. Mereka berdua menyadari hal itu. Mata yang melotot, menyala di kegelapan malam, mungkin hanya dari tatapannya saja sudah cukup untuk menelan mereka hidup-hidup. Seakan mengedip saja kepala mereka bisa melayang, meski peluh dingin telah memenuhi wajah mereka, bau ajal yang sudah mencekik leher… Pada akhirnya, keputusan apapun yang mereka pilih—
Mereka akan mati juga.
“M—monster—!!”
Tembakan terakhir dari peluru yang tersisa, tembakan frustasi akan kematian yang sudah mengikat mereka, tersia-siakan sebab Keiron dengan cepat menghindar. Kecepatan tak manusiawinya, seperti yang ia lakukan ketika mengejar jambret yang telah menghancurkan es krimnya. Keiron telah berada di hadapan mereka sepersekian menit sebelum mereka menembak, mata mereka tak dapat mengikuti kecepatannya—hal terakhir yang mereka lihat adalah pandangan mereka menggelap, karena telapak tangan Keiron menangkap wajah mereka, dengan dorongan keras, kedua kepala tersebut telah menghantam tanah.
Kerasnya tanah menimbulkan suara dentuman, mengakibatkan retakan mengelilingi kedua pria itu. Kepala yang membentur tanah, separuh tempurung telah retak, menghancurkan seisi tempurung dan menghamburkan darah yang mengisi kepala mereka.
“Ah, refleks.” Keiron bergumam setelah menyadari bahwa ia telah membunuh mereka. Beberapa saat kemudian, wajahnya berubah—teringat akan sesuatu yang penting. Sangat penting dan seharusnya ia tak melakukannya saat menginvestigasi TKP.
“Aduh, sial! Aku lupa membiarkan satu untuk hidup buat diinterogasi. ”

Comments (0)
See all