Please note that Tapas no longer supports Internet Explorer.
We recommend upgrading to the latest Microsoft Edge, Google Chrome, or Firefox.
Home
Comics
Novels
Community
Mature
More
Help Discord Forums Newsfeed Contact Merch Shop
Publish
Home
Comics
Novels
Community
Mature
More
Help Discord Forums Newsfeed Contact Merch Shop
__anonymous__
__anonymous__
0
  • Publish
  • Ink shop
  • Redeem code
  • Settings
  • Log out

EXREA

Unsatisfactory Decision — 1

Unsatisfactory Decision — 1

May 17, 2025

“Keiron.”


“Yata, aku bisa jelaskan.”


Kedua orang yang telah menjalani misi, akhirnya telah kembali ke kantor mereka. Kantor mereka, merupakan sebuah bangunan yang lebih mirip seperti apartemen dengan 4 lantai dan ruangan bawah tanah, kedua orang itu sedang di posisi masing-masing bersama ketiga mayat yang telah diangkut secara hati-hati dari tempat perkara.


Hanya saja, situasinya agak… Canggung.


Keiron terlihat sedang bersimpuh di sebelah tiga mayat yang berbaring, kedua tangannya terangkat, seperti seorang murid yang sedang dihukum oleh guru. Kebetulan, guru yang menghukum (?) Keiron saat ini adalah sang bos sendiri, Yata-garasu.


Kedua tangannya terlipat di depan dada, pandangan matanya menatap langsung kepada Keiron yang bersimpuh, menatap balik dengan tatapan memohon. Yata-garasu menghela napas, tak habis pikir–namun ia akan mendengarkan penjelasannya.


“Mereka menyerangku duluan! Yang kulakukan hanyalah sebuah pertahanan diri, Yata!”


Sebuah pembelaan yang masuk akal, namun tak mempan untuk Yata-garasu supaya menghentikan caranya menatap Keiron, alih-alih mengubah posisi tangannya.


“Nampaknya, 40 tahun pengalaman bekerja di EXREA masih kurang untuk mengingatkan anda hal terpenting saat menangkap tersangka.”


EXREA, singkatan dari Extravagant Bureau, merupakan sebuah organisasi yang menyelesaikan berbagai macam masalah dari balik layar, berbeda dengan aparat kepolisian. EXREA saat ini memiliki anggota utama hanya terdiri dari dua orang, tak lain adalah mereka berdua, Keiron dan Yamato Yata-garasu, dengan tambahan empat anggota lainnya yang mengurus kebutuhan kantor. 


Yata-garasu, sang pendiri EXREA–dan Keiron, sang tangan kanan Yata-garasu. Mereka berdualah yang paling terlihat melakukan pekerjaan di lapangan, meskipun Keiron sebenarnya lebih banyak melakukannya karena kemampuannya dengan pekerjaan kasar, ketika Yata-garasu lebih banyak menggunakan otaknya. Sebelum Keiron bergabung, Yata-garasu melakukan semuanya sendirian, sehingga kehadiran Keiron sebenarnya sangat membantu.


Meski terkadang kecerobohan seperti ini tak jarang terjadi. Pekerjaan yang bisa dilakukan dengan cepat dan efisien, malah menjadi bertambah. Yata-garasu, meski terkadang direpotkan, ia tetap lebih suka bekerja dengan efisien.


“Aku ‘gak lupa!” Keiron cepat-cepat menyanggah, masih berupaya mencari pembenaran, “mereka terlalu rapuh, dan aku ‘gak terima karena mereka sudah merusak setelan baju ini!”


Jika dibandingkan secara sekilas, keduanya memiliki perbedaan yang signifikan dalam penampilan. Yata-garasu terlihat masih bersih, seperti seorang bangsawan yang tak akan membiarkan sebutir debu menodai jasnya yang di desain oleh desainer terbaik.


Keiron lebih cocok seperti anak kecil yang serampangan setelah pergi bermain seharian penuh. Bajunya banyak lubang karena gesekan peluru, kotor karena tanah ia tiduri–berpura-pura pingsan, lebih tepatnya.


“... Apa anda lupa bila informasi terkadang bisa lebih mahal dari pakaian yang anda pakai?”


Seperti tersambar petir oleh sebuah fakta, Keiron kembali terkejut. Yata-garasu menggelengkan kepalanya, pandangan tidak percaya mengapa pemuda ini bisa lupa.


Bila misi mengutamakan pencarian informasi, tangkaplah tersangka maupun saksi mata dengan hidup-hidup dalam kondisi mampu berbicara maupun berpikir, minimal satu orang.


Bagaikan bocah yang panik karena kecerobohannya membuat pekerjaannya semakin runyam, kedua tangannya telah menggenggam salah satu badan kaku di dekatnya sembari berseru, “T-tapi mereka pasti bawa sesuatu! Tidak mungkin mereka berjaga di sana tanpa bawa ponsel, ‘kan?!”


Membiarkan Keiron mencari sesuatu yang berguna dari tempat tersembunyi namun umum dicari, yakni semua saku yang ada. Satu mayat telah ia jarah, yang ia temukan benar adanya.


Ponsel yang retak setengah dan sebuah nota pembelian rokok dan minuman ringan dari pembelian minimarket setempat.


“SIALAN!! Kalau mati setidaknya bawa barang berguna!! Bikin kesal saja!” Seketika melemparkan tantrum, Keiron refleks merobek nota tersebut.


Yata-garasu masih menggelengkan kepalanya sembari menghela napas, sepertinya benar ia mulai lelah dengan kelakuannya. Ditambah, ia sudah tiga hari tidak tidur, selain karena dia makhluk nokturnal, pekerjaan akhir-akhir ini cukup sibuk.


Belum menyerah, Keiron mencari sesuatu yang bisa dijadikan barang bukti dari mayat kedua. Hasilnya? Ia menemukan sebuah ponsel yang sudah hancur. Keiron kemudian teringat, mengapa ponsel mereka telah hancur seperti ini, ternyata kedua mayat yang berbaring ini merupakan korban dari kepala mereka terhantam tanah.


Tatapan Yata-garasu masih tak berubah, namun kini dibumbui dengan rasa kasihan.


Tersisa satu mayat yang belum diperiksa, Keiron segera mengecek semua saku maupun dibalik pakaian yang memiliki kemungkinan menjadi tempat penyimpanan barang berharga. Seperti anjing yang akhirnya menemukan mainan yang disembunyikan, sebuah ponsel dan dompet telah ditemukan dari saku jaket mayatnya.


Kondisi ponselnya lebih baik daripada sebelumnya, hanya sedikit retak di layar dan isi dompetnya masih utuh.


“Lihat ‘nih! Akhirnya ada sesuatu yang bisa dijadikan barang bukti!!” Serunya lantas memberikan ponsel dan dompet tersebut kepada Yata-garasu, menunjukkan layar ponsel yang sedikit retak, menyala, namun terkunci.


Akhirnya, pria berkacamata itu tak perlu menonton tingkah Keiron lebih lama dengan rasa kasihan. Ia menerima ponsel tersebut, karena terkunci, ia bermaksud menggunakan sidik jari dari mayat tersebut, sebelum ia mendengar suara keras seperti tulang yang dipatahkan.


Keiron mematahkan kedua ibu jari pemilik ponsel tersebut hingga putus dan memberikannya ke Yata-garasu. Yata-garasu menatapnya dengan pandangan bingung, meski ia menerima kedua ibu jari tersebut, kemudian ia coba satu per satu sidik jarinya. Ibu jari kanan membuka kunci ponsel tersebut, sedangkan satunya ia kembalikan ke Keiron.


“Mengapa jarinya anda lepas? Kita bisa menggunakannya tanpa harus membawa ibu jarinya.” Pada akhirnya, Yata-garasu mengutarakan pertanyaannya, yang mana alis Keiron terangkat pula dengan bingung.


“Bukannya kamu bakal butuh buat buka ponsel itu terus?”


“... Keiron, apa anda tahu bila kita dapat mengganti kunci ponselnya setelah sekali membukanya?”


Keiron menjatuhkan ibu jari yang dikembalikan padanya dengan pandangan terkejut.


“Kita bisa melakukan itu?”


Yata-garasu nyaris menepuk dahinya sendiri. Keduanya bergeming dalam waktu singkat, nyaris mengalahkan suara kicauan burung di pagi hari. Tanpa mereka sadari, rupanya waktu telah berjalan hingga keesokan harinya, yakni menunjukkan pukul tujuh pagi.


Benar, kemarin malam, mereka berdua telah sukses mencari petunjuk dan pelaku dari misi pencarian anak-anak yang hilang dari distrik Preka. Keiron telah menemukan beberapa barang bukti yang tersisa dari gudang setelah tak sengaja membunuh para tersangka yang menyerangnya.


Beberapa potong baju yang belum dimusnahkan, kumpulan data anak-anak, maupun beberapa persediaan, terduga digunakan sewaktu para manusia yang menyerang Keiron untuk melakukan aksinya. Dari semua data mengenai anak-anak, beberapa kertas telah dicoret, Yata-garasu ingat bila data yang dicoret merupakan anak-anak yang sudah diculik dan dinyatakan hilang.


Telah dapat dipastikan bila yang dicoret merupakan anak-anak yang sudah ditelan oleh Tiyanak.


“Ah iya, berarti setelah ini kita melaporkan data dan bukti ke aparat kepolisian, ‘kan?” Tanya Keiron setelah memotret ketiga mayat yang ia bawa ke kantor ini. Karena ketiga mayat ini tak akan dibawa ke kantor polisi sebagai syarat kasus ini diselesaikan dan menjadi milik mereka, EXREA, maka mereka hanya perlu memberikan data maupun barang bukti lainnya.


Mengapa justru tersangka–manusia yang menjadi syaratnya? Yata-garasu memiliki alasan khusus.


“Benar. Mari kita bersiap-siap setelah membereskan semuanya. Kita masih memiliki waktu tiga jam sebelum kantor ini dibuka.”




Kantor Polisi Pusat Ardstin - 07.49, di hari yang sama.


Langkah seorang pria melangkah begitu cepat, setelah memarkirkan sepedanya, ia bergegas memasuki kantor dengan setelan kemeja  dan celana gelap. Sekilas ia tak ada bedanya dengan para pemuda yang baru saja merintis pekerjaan di belakang meja, jika saja tak melihat jaket yang telah ia sampirkan di lengan, jaket yang hanya dimiliki oleh aparat karena warnanya yang sama, baton di sisi pinggangnya, dan protofon khusus.


“Selamat pagi, Pak Rolant! Tumben anda baru sampai jam saat ini.”


Arshaka Rolant, umurnya baru menginjak 33 tahun. Baru lima tahun ia bertugas menjadi polisi berpangkat rendah.


“Maafkan saya, Pak Maja. Insomnia semalam cukup merepotkan, saya beruntung masih bisa beristirahat tadi pagi.” Senyumannya terlihat agak lelah, membalas sapaan rekannya yang masih se-pangkat saja membutuhkan energi lebih.


“Ahh, sampai ada kantung mata ‘tuh. Yakin tak mau istirahat? Aku sampai tak ingat kapan terakhir anda mengambil libur.”


Maja ada benarnya. Arshaka tak ingat kapan ia benar-benar mengambil libur selain ketika ia tiba-tiba tumbang di kantor, dipaksa untuk istirahat dan dipulangkan ke rumah. Teringat hal itu, ia tertawa dengan kagok, tak bisa sepenuhnya mengelak.


“Kalau saja setiap hari tidak ada laporan, mungkin saya sudah tenang saat mengambil libur.”


Dasar si penggila kerja, mungkin itu yang dipikirkan Maja saat ini kala melihat Arshaka melakukan absen, sebelum pandangan matanya teralihkan ke seseorang yang baru saja masuk ke kantor mereka.


Seorang pria tinggi dengan rambut ikal gelapnya, kulit tan dan berkacamata keemasan. Pakaiannya yang terlihat rapi dan tongkat khasnya, sulit untuk menyadari ia menggunakan sepatu hak tinggi karena langkah elegan pria itu terdengar ringan.


“Oh, pria itu datang lagi, ya.” Maja yang pernah melihatnya bergumam pelan, memandang pria necis yang lewat barusan masuk lebih dalam ke kantor. Arshaka turut menoleh, merasa tak mengenali pria yang dimaksud.


“Pak Maja, siapa mereka?” Pertanyaan Arshaka menaikkan tanda tanya dari Maja, bukankah orang itu terkenal?


“Pak Rolant tidak tahu? Kalau tak salah, dia orang dari sisi sana. Pria yang berkacamata itu, namanya jika aku ingat-ingat… Ah, Yamato Yata-garasu. Pakaiannya selalu bagus dan ia selalu terlihat formal. Aku ingat karena dia mencolok–terutama dengan tongkatnya itu. Sepertinya perak asli.”


Arshaka menyerngitkan sebelah alis. Sekilas memang pria tersebut begitu tidak cocok untuk bergabung diantara orang-orang seperti dia, namun saat mendengar namanya, mengapa ia merasa familiar?


Selain itu, ada satu pertanyaan yang masih belum terjawab.


“Lalu pemuda berambut pendek yang berjalan di belakangnya? Apa dia juga orangnya Pak Yamato?”


Maja memandang bingung ke Arshaka. Apa dia begitu lelahnya sampai mengigau kalau ada orang kedua dibelakang pria berkacamata barusan?


Seakan hendak memastikan, Maja kembali memandang pria berkacamata yang sudah semakin masuk ke dalam kantor–ke lorong menuju ke arah ruangan Komisaris Jenderal, sang Kepala dari Kepolisian seluruh Vrisga. Hanya satu orang pria berkacamata, matanya tidak salah.


“Pak Rolant, aku cuma melihat satu orang?”


Maja berkata demikian, namun jika ia salah lihat, lantas… Siapa pemuda berkulit pucat yang barusan mengedipkan sebelah matanya sambil menyeringai kepadanya? Arshaka sangat yakin ada seorang pemuda yang mengikuti Yamato Yata-garasu tersebut!


“Haaahh??”


Arshaka memandang dengan terheran-heran, merasa insomnianya semalam mempengaruhi alam nyatanya.


makuva
M.K.V.

Creator

Comments (0)

See all
Add a comment

Recommendation for you

  • What Makes a Monster

    Recommendation

    What Makes a Monster

    BL 75.6k likes

  • Invisible Boy

    Recommendation

    Invisible Boy

    LGBTQ+ 11.5k likes

  • Touch

    Recommendation

    Touch

    BL 15.6k likes

  • Silence | book 1

    Recommendation

    Silence | book 1

    LGBTQ+ 27.3k likes

  • Blood Moon

    Recommendation

    Blood Moon

    BL 47.7k likes

  • The Taking Season

    Recommendation

    The Taking Season

    Romance 6.5k likes

  • feeling lucky

    Feeling lucky

    Random series you may like

EXREA
EXREA

675 views1 subscriber

[ New Update Every Week on Saturday ] Perhaps you have been wondering whether there are any beings other than humans who reside in this world, whether we are living side by side. Excitement to interact or know more about them might be inevitable for some. Curiosity is a good thing, but have you ever consider the danger to delve deeper to seek the answer? Extravagant Bureau━known as EXREA might be able to help you answer those curiosity without endangering yourself. Are you brave enough to know the answer by coming to EXREA?
Subscribe

15 episodes

Unsatisfactory Decision — 1

Unsatisfactory Decision — 1

51 views 0 likes 0 comments


Style
More
Like
List
Comment

Prev
Next

Full
Exit
0
0
Prev
Next