“Eh, Yata. Barusan ada yang sadar keberadaanku, lho.”
“Dan anda sengaja menjahilinya balik seperti itu?” Yata berucap dengan menghela napas.
“Hehe. Jarang-jarang yang sadar secepat itu, soalnya~”
Tawa Keiron yang tak berdosa, membenarkan pertanyaan dari pria petugas kepolisian barusan saat keduanya memasuki area kantor ini lebih dalam. Bila keberadaan Yata-garasu agak mencolok karena penampilan formalnya, maka Keiron merupakan kebalikannya. Bukannya ia tak bisa dilihat oleh mata telanjang, namun seperti membutuhkan fokus ekstra karena konstruksi tubuhnya yang berbeda dengan manusia pada umumnya–apalagi bila dibandingkan dengan Yata-garasu.
Pintu ruangannya telah di depan mata, Yata-garasu mengetuk tiga kali sebelum masuk setelah mendapatkan jawaban singkat. Pintu yang terbuka pun disambut oleh seorang pria paruh baya yang sedang duduk dibelakang meja kerjanya. Pakaian dinas dengan lencana jenderal, beberapa helai rambut yang memutih, kerutan di kulit wajah. Kacamata baca yang ia kenakan pun ia lepas sejenak dan ia taruh di atas mejanya.
Komisaris Jenderal, pria itu bernama Elliot Børge.
“Jika bukan karena pesan anda, saya tak mungkin datang sepagi ini.” Ungkapan pria itu tak membuat Yata-garasu merasa bersalah, ia dan Keiron melangkah masuk ke dalam dengan Keiron menutup pintunya.
“Kami hanya menyesuaikan waktu sebelum kantor kami buka.” Balasan Yata-garasu lantas diikuti oleh Keiron yang memberikan satu kotak berkas ke meja sang Jenderal, terlihat sedikit terkejut karena sosok Keiron yang seperti mendadak muncul. Keiron sudah terbiasa akan sikap natural para manusia yang selalu terlambat saat menyadari keberadaannya. Kemudian, Yata-garasu menyerahkan sebuah dokumen, yang sama pentingnya dengan berkas dari Keiron.
Sedangkan Keiron, ia menikmati respon mereka—para manusia yang bervariasi.
“Ha, saya selalu agak kaget ketika anda disini, Pak Keiron.” Elliot tertawa canggung seraya mengambil dokumen yang diberikan oleh Yata-garasu, membukanya, hendak membaca isi dokumennya. Dokumen yang sengaja dipisahkan dari berkas Keiron dan langsung diberikan kepadanya, tak harus diucapkan secara gamblang pun, dokumen ini terasa memiliki sebuah urgensinya tersendiri. Ia kembali mengenakan kacamata bacanya.
“Harus terbiasa dong. Aku ‘kan selalu bersama Pak Yata-garasu~”
Celotehan Keiron seakan membentur tembok, tidak ada yang benar-benar mendengarkan, maupun direspon, hanya suara berkas yang dibedah terdengar karena Yata-garasu juga menghening.
Beberapa lembar foto, barang bukti seperti senjata, dompet, maupun ponsel yang tersisa. Beruntung, ia menggunakan sarung tangan, sehingga berkas-berkas yang ia geledah dapat dibuka sekaligus, untuk mengecek isinya.
Ia menghela napas setelah melihat beberapa wajah yang pernah dilihatnya meski hanya sekilas.
“Orang-orang ini… Salah satu dari mereka merupakan mantan sopir yang bekerja di distrik Preka. Apa motif mereka sampai membantu makhluk sana dan melakukan kejahatan..?”
“Itu merupakan tugas anda.” Pun, Yata-garasu membalas ucapan Elliot, terlihat hendak bergegas karena tugas mereka sudah selesai. Elliot tak dapat mengelak, sudah sewajarnya ini merupakan tugas mereka, namun komplain dan tekanan yang mengharuskan mereka bekerja lebih keras, terkadang pencarian jejak pun tak dapat dilakukan karena keberadaan makhluk sana tersebut.
“Setidaknya ngeteh dulu, Pak Yamato.” Celetuk sang Komisaris Jenderal setengah bercanda, yang hanya dibalas lirikan mata dan punggung kedua orang itu menuju pintu keluar.
“... Ketika saya memiliki waktu luang.”
Jawaban singkatnya terdengar tak memberikan janji yang jelas, yang mana Elliot tahu bahwa kemungkinan hal tersebut lebih memungkinkan tak akan terjadi.
Suara pintu yang telah ditutup sempurna, keduanya telah keluar dari ruangan dan berjalan melalui koridor yang sama, sebab jalan yang dimiliki area ini hanyalah satu arah, namun sedikitnya orang-orang berlalu lalang menandakan betapa eksklusifnya dengan orang tertentu yang dapat melewatinya—atau, urusan penting.
Suara derap kaki yang terdengar familiar, mulai mendekati mereka. Lebih tepatnya, derap kaki tersebut melewati dua figur yang hendak keluar dari kantor ini. Orang itu, seakan sengaja bertatap mata dengan sepasang mata keemasan unik milik Yata-garasu saat ia melewatinya, pandangan dingin ia berikan secara sengit.
Yata-garasu hanya menatapnya balik seraya meneruskan perjalanannya untuk kembali ke kantor mereka, EXREA, sedangkan orang tadi—langkahnya terlihat sedang tertuju ke ruangan sang Komisaris Jenderal.
Dia mengetuk pintunya dengan agak tidak sabar, setelah mengetahui sosok yang tak ingin ia lihat telah kembali dari ruangan ini, maka dugaannya sudah jelas,
“Pak Komisaris! Lagi-lagi anda menggunakan jasa mereka!!”
“Jaga nada bicara anda, Inspektur Gauthier. Kita tak memiliki pilihan lain karena urusannya dengan makhluk sisi sana.”
Amarah dan ketidaksetujuan, Esmail Gauthier, ia adalah seorang Inspektur Kepolisian Vrisga—yang sebenarnya, ia bertugas di kantor ini, sebelum ia melakukan hal yang melebihi kuasanya, mengakibatkan posisinya tak bisa naik dan dipindahkan ke area jauh dari pusat. Esmail tampak mengeratkan tangannya, berusaha menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu, selain mengungkapkan ketidaksukaannya.
“Tapi, Pak Komisaris. Mereka bukan manusia! Mengapa sebagai aparat kita hanya mendapatkan barang bukti, namun tersangkanya tidak ada? Apakah kita akan terus memalsukan data karena mereka selalu membawa tersangkanya?”
Barang-barang bukti yang telah dicek, Elliot kembalikan ke dalam berkas. Elliot memandang sang Inspektur, Esmail, memahami dirinya mengapa ia begitu menentang mereka.
Kurang lebih terjadi 40 tahun yang lalu, ketika Kekaisaran Sullivan yang menguasai Vrisga, mereka mengumumkan secara rahasia akan keberadaan EXREA sebagai ‘organisasi yang mengurus wilayah sana dari balik layar’. Elliot dikenalkan oleh Komisaris Jenderal sebelumnya yang telah pensiun, sehingga ia lebih mengetahui kinerja EXREA selama ia bekerja dengannya.
Sebelumnya, Esmail adalah salah satu personelnya. Namun karena rasa moral dan keadilan yang tinggi, Esmail yang tak setuju cara kerja EXREA, ia menginvestigasi mereka dan berujung lebih buruk dari degradasi pangkat–karena EXREA merupakan organisasi yang didukung secara langsung oleh Kekaisaran, maka kabinet maupun aparat yang hanya didukung oleh pemerintah, lokasi kerja Esmail dipindahkan jauh dari pusat dan posisinya tak bisa naik, maupun turun.
“Saya tak menghalangi anda untuk mencari tahu kinerja kami, namun jika Anda hanya menggunakan moral yang hanya berlaku terhadap sesama Anda sebagai tolak ukur antara hitam dan putih,”
“Maka Anda masih melihat apa yang ingin Anda lihat; sebuah ekspektasi dengan batas manusia.”
“Yang kami lakukan hanyalah menyelesaikan masalah yang kalian tak dapat lihat maupun raih. Hanya dengan bayaran tanpa menggunakan uang.”
“Mempublikasikan kinerja kami yang tak sesuai standar oleh moral manusia? Hal yang sangat mudah. Ketidakpuasan tersebut bisa anda sampaikan kepada Eskender.”
Ingatan Esmail terasa masih baru saat ucapan pria berkacamata dari EXREA tersebut terulang di dalam kepalanya. Ucapan terakhir saat ia menghadang pria itu setelah investigasi kinerja mereka 10 tahun yang lalu.
Hanya untuk mendapatkan kabar buruk akan posisi stagnannya dan betapa mudahnya pria itu menyebut sang Kaisar tanpa embel-embel.
“... Meski begitu, tanpa mereka, beberapa kasus ‘khusus’ akan banyak yang tak terselesaikan. Mereka sudah ada semenjak Pak Jorge masih disini.”
Esmail mengeratkan kepalan tangannya, merasa frustasi. Ia tak ingin mengakuinya, meski kenyataannya bahwa keberadaan EXREA memang sangat membantu mereka. Kebenciannya untuk menjustifikasikan moralnya, tak sepenuhnya salah bila kita gunakan persepsi manusia.
“Dengan bayaran para tersangka yang tak akan pernah terlihat wujudnya?”
Elliot mengangguk pelan, sejenak menghening. Ia memejamkan matanya, sedikit memijat kening, merasa pening.
“... Sudah merupakan perintah dari Kekaisaran. Tersangka dengan tingkat kejahatan mereka, persentase lebih besar sudah dapat dipastikan tak akan bisa keluar dari penjara maupun dihukum mati.”
Esmail menggertakkan deretan giginya, “—tidak bisa. Meski begitu, aku tak bisa menerimanya. Walaupun mereka kriminal, mereka juga manusia, tak seharusnya mereka diserahkan begitu saja dan melewati proses sebenarnya. Mau jadi apa negara ini bila orang-orang seperti mereka tetap dibiarkan menyelesaikan kasus seperti itu?”
Ia tahu bahwa tak seharusnya ia mengatakannya dengan kasar, apalagi Komisaris Jenderal yang sedang dihadapinya.
Alih-alih membenarkan, Elliot membiarkan langkah Esmail yang frustasi meninggalkan sosoknya, ia keluar dari kantornya dengan pintu yang hampir pria itu banting. Helaan nafas yang berat kembali dihembuskan, ia memandang berkas yang ia terima dari EXREA.

Comments (0)
See all