Arshaka masih kepikiran akan pemuda yang mengikuti Yata-garasu tempo lalu.
Setelah mencari informasi di sekitar kantor, ia hanya menemukan nama Yata-garasu dan nama organisasinya, EXREA. Pekerjaannya? Yang ia dapatkan hanyalah bagaimana EXREA hanya menerima kasus tingkatan ‘spesial’.
Di Vrisga, semua kasus kejahatan selalu dilaporkan melalui ke Kepolisian, supaya dapat diinvestigasi dan ditindaklanjuti, menangkap pelaku, memberikan keadilan kepada korban yang dirugikan dengan semestinya.
Pada dasarnya demikian, sehingga Arshaka merasa aneh saat melihat data yang ia bisa cek untuk peringkatnya melalui komputer kantornya. Ia hanya menemukan data kasus kriminalitas receh.
‘Hmm… Aku tidak menemukan apa-apa. Sepertinya akan sulit mengakses data lebih dalam karena aku cuma polisi berpangkat rendah… Eh? Sebentar…’
Satu data ia temukan cukup menarik perhatian. Tanggalnya dekat dengan tanggal hari ini, terjadi tiga hari yang lalu. Sebuah penjambretan menggunakan kendaraan mesin beroda dua, pelaku terdiri dari dua orang.
Dari visum yang didapatkan, kedua pelaku keadaannya sudah babak belur, kendaraan mereka juga rusak, barang yang dicuri juga sudah dikembalikan. Keterangan dari korban, perempuan berumur 34 tahun, ia menceritakan kalau ada pemuda yang menolongnya untuk mengejar jambret tersebut.
Arshaka merasa tidak ada kejanggalan dari data ini selain dari keterangan sang korban saat menceritakan bagaimana pemuda yang menolongnya tersebut.
Pemuda itu jangkung, saya tak begitu memperhatikannya sebelum ia mengejar para penjambret. Tiba-tiba, dia sudah di dekat para penjambret yang menggunakan motor, menendang mesin motornya, sehingga mereka berdua terjatuh.
Saya sempat merasa kasihan melihatnya, tapi karena tas saya dan isinya juga berharga, saya cukup bersyukur barangnya bisa kembali.
“Tiba-tiba? Apa dia tidak salah lihat?” Gumam Arshaka kembali menelaah, mengecek ulang data ini apakah ia akan menemukan sesuatu lagi.
“Pak Rolant, berkasnya ‘gak akan berubah meski anda baca sampai mata anda melotot seperti itu.”
Celetuk Maja yang baru saja lewat, melihat kegiatan Arshaka yang matanya seperti nyaris keluar dari kelopak, Arshaka akhirnya memundurkan kepalanya dari layar dan menghela napas. Penasaran, akhirnya Maja mendekati mejanya, melirik data yang sedang ia baca. Mengetahui jenis datanya, bibirnya membundar ‘oh’ dan mulai paham mengapa Arshaka terlihat begitu serius.
“Oh, ini kasus yang agak lucu. Tahu tidak, Pak? Dua penjambret yang diserahkan, mereka sudah keadaannya kayak orang tidak punya semangat hidup karena terlalu takut sama orang yang menangkap mereka.”
Arshaka mengerjapkan mata, alisnya berkerut heran.
“Pak Maja berarti yang menangani kasus ini? Anda sempat melihat orang yang menangkap mereka tidak?”
Maja menggumam pelan, menjepit dagu, terlihat berusaha mengingat-ingat ciri-ciri orang itu. Menggumam ‘hmm’ cukup panjang, sampai pada konklusi janggal yang membuat kecurigaan Arshaka semakin tinggi.
“Sebentar… Kok saya tidak ingat? Saya yakin ia seorang pemuda, tapi… Kenapa saya sulit mengingat ciri-cirinya?”
Bukannya mendapatkan petunjuk untuk menguak misteri, Arshaka merasa bahwa ia telah jatuh semakin dalam ke lubang kegelapan yang menyesatkan. Siapa sebenarnya pemuda yang sedang ia cari sosoknya ini?
Namanya Keiron, tanpa nama keluarga, pemuda salah satu anggota EXREA yang saat ini memiliki hobi untuk menikmati cita rasa dari es krim edisi terbatas dari berbagai penjuru.
Hari ini, ia mencobanya lagi, setelah selumbari kena sial akibat es krimnya disenggol setelah tiga jam mengantri di bawah teriknya panas matahari yang ia benci. Kali ini, ia agak beruntung sudah datang lebih awal, sehingga antriannya hanya butuh waktu dua jam, ia telah mendapatkan es krim yang ia mau.
“Ha–! Dua jam mengantri, kita lihat apakah rasanya akan luar biasa seperti yang ‘katanya viral’.”
Berbahan dasar rasa permen karet, warna es krimnya kombinasi biru dan putih, dihias mirip sedemikian rupa seperti langit biru dengan butiran gula berbentuk kristal.
Genggamannya hati-hati, sebab es krim yang ia pegang menggunakan kerucut berbahan renyah, bila sekali ia kelepasan bertenaga lebih, bisa hancur. Niatnya, ia akan menikmati es krimnya di bangku taman yang tak jauh dari toko es krim tadi.
Naas, ia yang tak familiar dengan keramaian jam pulang sekolah, lagi-lagi–nasibnya tak sebaik keindahan es krim seorang bocah yang berlari dengan semangat dan berkerumun di suatu gang. Tangannya yang menggenggam es krim? Tertampik begitu saja dan terjatuh, mari mengheningkan cipta untuk es krim kedua setelah usaha Keiron dalam mengantri, mengingat harga tak pernah menjadi masalah untuknya.
Kesal? Jangan ditanya. Meski lawannya hanyalah seorang bocah dari sekolah menengah, kesabarannya sudah hampir tersisa dua lembar tisu saja.
“Woi, bocah.”
Tangannya dengan sigap menarik kerah anak laki-laki yang tadi menabraknya. Dari kerumunan bocah-bocah itu, ia tak peduli apa yang sedang terjadi–sebab jika diperhatikan, kerumunan siswa SMP tersebut sedang memojokkan seorang siswi.
Lantaran kaget tiba-tiba kerahnya ditarik, bahkan diangkat seperti kucing yang diangkat belakang lehernya, siswa itu panik–terutama saat ia melihat rupa Keiron yang tak menahan kekesalannya.
Dari relung hatinya paling dalam, Keiron telah berteriak lantang, aku cuma mau makan es krim!!!!!!!
“Bocah sialan, memangnya kau jalan tidak lihat pakai mata? Lihat sekitarmu, kau barusan menyenggolku dan menjatuhkan es krimku! Aku ‘gak mau tahu, kau harus ganti rugi. TIGA BULAN aku sudah menunggu!”
Rentetan ucapan Keiron membuat siswa itu bingung, panik dan takut. Sebab, ia benar-benar merasa kalau Keiron tadinya tidak disini, ia pikir, ia hanya menyenggol sesuatu yang tak kasat mata!?
“O-om ngomong apa sih?! Kapan coba?! Jangan mengada-ada!! Aku ‘kan cuma anak SMP?! TOLONG, ADA PENCULIK–”
Alih-alih dapat ganti rugi, justru malah diteriaki penculik–Keiron makin mengangkat bocah itu agak tinggi, yang tentu saja mulai menarik perhatian siswa lain yang tadinya, mengerumuni seorang siswi, mulai ikutan teriak dan panik, akhirnya berlari memencar.
“Eh, bocah, mulutnya–”
Rupanya, teriakan bocah itu juga menarik perhatian orang sekitarnya. Beberapa orang ada yang menjadi penonton, beberapa ada yang mulai mendekati Keiron, tapi yang paling menonjol adalah–saat seorang polisi kebetulan berada di sekitar, menggenggam tangan pucat Keiron, seakan berusaha menghentikan kegiatannya–entah apa yang akan terjadi.
“Maaf, tuan–Bisa turunkan anak itu? Kalau anda enggan, maka saya tak segan membawa anda ke kantor polisi untuk tindakan lebih lanjut.”
Keiron yang tak terlalu fokus dengan manusia ini, ia nyaris semakin kesal–kenapa mau makan es krim saja banyak susahnya begini, sih? Akan tetapi, saat mengetahui sosok yang menegurnya rupanya seseorang yang ia kenal, kekesalannya perlahan menguap–alisnya terangkat naik, seringainya terbentuk dengan tipis, sekilas, menunjukkan deretan gigi taringnya yang unik.
“Oh?”
Arshaka Rolant, rupanya ia sudah di area ini semenjak Keiron pergi dari toko es krim dan mengawasinya. Polisi yang sempat ia isengin karena mampu melihatnya ketika ia berjalan dibelakang Yata-garasu.
“Hmph. Kau beruntung sekali, bocah.” Karena malas berurusan panjang, akhirnya Keiron melepas pegangannya di kerah bocah SMP tersebut, yang seketika langsung kabur karena takut akan dua hal; Keiron dan Polisi.
Arshaka menghela nafas lega, terpikirkan untuk mengejar anak itu–namun fokusnya kini ke Keiron.
“Yah~ Kita ketemu lagi, Pak Polisi~”
Arshaka bukannya menjawab, entah mengapa, ia terpaku oleh sosok Keiron yang dihadapannya. Sepertinya… Rasa penasarannya sedikit terjawab, bahwa sosok yang ia lihat memang benar-benar ada.
“Tapi karena moodku sedang jelek, aku mau pergi saja. Dah, Pak Polisi. Kerja yang bener, ya.”
“Eh– Tunggu sebentar, Tuan–”
Tidak seharusnya ia bengong saat menatap Keiron, sebab, begitu ia berkedip, sosok Keiron sudah tidak terlihat mata. Bingung, ia menolehkan kepalanya dengan cepat, mencari-cari sosok Keiron yang entah dimana.
Sampai ia merasa akan ujung bajunya digenggam oleh siswi SMP… Oh, Arshaka baru tersadar, siswi ini tadi sempat dikerumuni oleh siswa-siswa sebanyak itu. Di dalam benaknya, ia kembali berpikir, memangnya normal akan interaksi satu siswi… Dikerumuni oleh enam siswa?
Sedikit berjongkok untuk mensejajarkan tinggi, ia pun mengukir senyum sopan, supaya terlihat ramah dan tak menakuti siswi ini.
“Kamu baik-baik saja? Maaf bila yang barusan membuatmu terkejut. Boleh Bapak tahu kenapa kamu dikerumuni oleh siswa sebanyak itu? Apa kamu dirundung?”
Siswi berambut pendek itu terlihat menatapnya, tak mengucap apapun. Tatapan mereka bertemu, dalam keheningan yang tak lebih dari semenit, Arshaka bertanya-tanya dari dalam hati mengapa dia tak segera menjawab… Apakah siswi ini merasa syok?
“Pak Polisi, om yang tadi lagi cosplay, ya?”
Tanda tanya yang mencuat dari kepala Arshaka semakin membesar. Bukan, bukan dari istilah cosplay yang sebenarnya dia tahu artinya apa–tapi, pemuda yang ia tegur tadi? Cosplay? Dari aspek mana??
“Om tadi, dia punya ekor yang panjang, lho! Keren banget, kayak asli. Aku harus ketemu dia lagi kapan-kapan!”
Seperti dihantam oleh beribu pertanyaan tak terjawab, ucapan siswi itu semakin menenggelamkan Arshaka kejanggalan yang misterius, bahkan sangking terpakunya ia, siswi tadi meninggalkannya begitu saja di tempat ia berdiri.
“Ekor…???? Ekor apaan…”
Semakin dipikir, semakin linglung. Mengapa Arshaka merasa bila ia tetap mengikuti rasa penasarannya, ia mungkin akan mengupas sebuah rahasia yang tak terduga?

Comments (0)
See all