Musim semi di saat pagi hari itu terasa lebih dingin karena rintikan hujan gerimis yang turun semenjak matahari mulai terbit. Rintikan hujan semakin deras, tak menghentikan kewajiban untuk murid-murid tetap bersekolah. Mulai dari yang terlihat menggunakan payung, hingga kendaraan pribadi–walau beberapa murid ada pula yang terlihat berlarian melawan derasnya hujan, mengakibatkan seragam yang dikenakan basah kuyup dan ditegur oleh guru setempat yang kebetulan berjaga.
Sebuah mobil hitam terlihat memasuki lingkungan sekolah tersebut. Selain nomor seri dan jenis mobil tipe dua dekade yang lampau, mobil tersebut tak familiar–mengasumsikan adanya tamu? Sebab, mengundang perhatian dari beberapa murid maupun guru yang terlihat di sekitar pintu masuk sekolah, menghentikan aktivitas mereka sejenak, penasaran akan sosok di dalamnya.
Menggunakan payung yang mencuat keluar selepas pintu dari sang supir terbuka, pria jangkung berkulit tan dan berkacamata mulai menampakkan sosoknya. Ia berpakaian rapi, dengan kemeja berwarna abu-abu dan dasi ungu mudanya. Berbeda dari kemeja yang ia pakai, ia terlihat lebih sederhana daripada biasanya.
Rambut panjangnya yang terlihat agak ikal terikat rapi, upayanya memasuki lingkungan sekolah semakin menarik perhatian para manusia disekitarnya–terlebih saat wajahnya juga elok dipandang. Seorang guru lantas mendekatinya, menanyakan maksud tujuannya kemari, dan pria itu berkata–
“Nama saya Yamato Kotaro. Saya merupakan guru sejarah pengganti sementara yang akan mengajar mulai hari ini.”
Dua jam sebelum kedua anggota EXREA berangkat menggunakan mobil Yata-garasu, ia dan Keiron terlihat sedang di dalam kantor dengan setelannya masing-masing.
Jika mereka menjalankan pekerjaannya seperti biasa, mereka tak perlu repot-repot mengganti setelan ‘identitas’ mereka–pakaian yang memang dirancang khusus untuk menghadapi situasi berbahaya. Bukan berarti penyamaran saat ini tidak akan mengundang situasi berbahaya, namun bila hanya menghadapi manusia, situasi berbahaya di lingkungan sekolah sudah cukup hanya dengan tangan kosong untuk orang-orang seperti mereka.
“Aku ‘gak nyangka kalau seumur hidupku harus menyamar jadi OB–seharusnya kutanya Mihov dulu sebelumnya. Ini jam-jam dia belum masuk kantor, cih.”
Yata-garasu merubah bentuk tongkatnya menjadi seukuran belati–salah satu sihir merubah bentuk yang jarang ia pergunakan dalam sehari-hari, lantas menyimpannya ke dalam kemeja abu-abunya. Bila biasanya ia akan menggunakan kemeja dengan vest dan outer coat, kali ini yang ia kenakan hanyalah kemeja biasa dengan jas formalnya. Sedangkan kacamatanya masih sama, sebab kacamatanya memiliki kemampuan khusus.
“Bila anda merasa bingung, anda tak perlu khawatir. Sebab, yang merepotkan dari pekerjaan anda justru dari bukan dari pekerjaan itu sendiri.”
Keiron menyerngitkan dahi saat mendengar kalimatnya barusan. Nuansa yang terasa begitu ambigu, batinnya, ia merasa bila misi penyamaran yang dilakukannya tak pernah gagal, karena keberadaannya yang pada dasarnya agak tipis.
“Hm, iya ‘kah? Oke, seharusnya mudah buatku~”
Yang mana ia pun merasa menyesal telah mengatakan hal demikian, karena menggampangkan, tak menduga bahwa pekerjaannya akan menguji kesabarannya.
Persiapan telah selesai, keduanya pun turun dari lantai dua gedung kantor mereka–menuju parkiran khusus melewati garasi, terlihat bahwa kantor ini menyimpan berbagai macam kendaraan, mulai dari sepeda, motor, maupun mobil. Yata-garasu jarang menggunakan kendaraan, terkecuali bepergian jauh. Lantas, mengapa kali ini ia menggunakan mobil untuk ke sekolah yang hanya berjarak kurang lebih 5 km dari kantor?
“Yata, tumben bawa mobil yang itu. Apa ini juga termasuk dalam penyamaran?” Keiron yang tak menahan diri atas keingintahuannya pun langsung melontarkan pertanyaannya, mengingat mobil yang dimiliki Yata-garasu ada dua tipe.
Yang biasa digunakan, merupakan keluaran lima tahun terakhir. Meskipun tak memiliki desain yang mencolok, mobil ini punya performa dengan laju berkecepatan tinggi. Ia telah memodifikasi mobil ini untuk keperluan khusus, seperti lebih tahan banting dari mobil pada umumnya.
Sedangkan yang hendak ia gunakan, mobil yang terlihat biasa–dalam artian, mobil yang sering terlihat digunakan oleh orang-orang kalangan menengah, tidak ada yang istimewa selain bahan bakar yang digunakan lebih hemat dengan harga jual yang murah, mengingat mobil ini termasuk keluaran dua dekade lampau.
“Tentu. Saya bisa memilih untuk berjalan kaki, namun tak ada salahnya memanfaatkan mobil yang telah lama tak digunakan.” Yata-garasu bersyukur akan keberadaan Mihov yang selalu merawat mobil-mobilnya, sehingga ia tak khawatir bila sewaktu-waktu mobil ini dipakai. Ia pun masuk setelah pintu supir ia buka, diikuti Keiron yang turut masuk di kursi sebelahnya.
“Eh, kupikir-pikir ternyata mobil ini rasanya jarang kunaiki. Tempo lalu kamu pakai yang biasanya, ‘kan? Perbandingannya mencolok banget.” Komentar Keiron ia dengarkan sembari menyalakan mesin, hendak memanaskan terlebih dahulu sebelum dijalankan.
“Begitulah,” jawaban Yata-garasu cukup singkat setelah memberikan waktu untuk mobil ini bersiap, ia mundurkan perlahan keluar dari garasi, “—akan tetapi, saya harus mengatakan ini terlebih dahulu supaya anda tidak salah paham.”
Pintu garasi menutup dengan otomatis. Mobil telah sepenuhnya keluar dan Yata-garasu menyetir dengan tenang. Keiron lebih memilih untuk menatap Yata-garasu daripada pemandangan jalan.
“Di setengah perjalanan nanti, anda diharuskan berangkat sendiri karena akan terlihat aneh bila seorang guru pengganti keluar dari satu mobil yang sama.”
“Eeeeh.” Keiron berujar protes dengan wajah kecewa, walaupun sebenarnya ia paham alasannya mengapa–sebab, mereka sedang menyamar, bukan pilihan baik bila terlihat datang bersama, keluar dari mobil yang sama.
“... Pergerakan anda akan lebih mudah daripada saya, jadi saya mohon untuk mengawasi di lingkungan yang lebih dekat di area pekerjaan anda.”
Keiron mencibir seraya kedua tangannya ia silangkan di belakang kepala, “ya, ya~” dan menikmati perjalanan singkatnya sebelum harus jalan kaki di sisa perjalanannya.

Comments (0)
See all