Pada hari yang sama, matahari sudah terlihat hampir terbenam, beberapa jalanan telah mulai menyala lampu-lampunya, udara yang sebelumnya terasa panas karena terik matahari telah mulai mereda. Waktu untuk para manusia berlalu lalang, pergantian jam untuk berpulang, termasuk Yata-garasu yang sudah sampai ke kantor EXREA kurang lebih 15 menit perjalanan. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, ia hanya perlu naik tangga dua kali (atau menggunakan lift, jika kalian tidak suka naik tangga di bangunan 4 lantai ini) untuk sampai ke ruangannya. Namun, sebelum tangannya meraih kenop pintu, sayup-sayup, ia justru mendengar ada suara Keiron yang sedang berteriak-teriak. Suaranya yang lantang, nyaris mengalahkan kekuatan kedap suara yang ia bangun di ruangannya.
Ketika ia membuka pintu ruangannya, sebuah pemandangan dimana Keiron yang sudah ganti baju dengan pakaian miliknya, seekor gagak hitam yang menggaok diatas meja dimana Keiron duduk di sofa dihadapannya, Yata-garasu akhirnya memahami apa yang mereka perdebatkan.
“Sudah kubilang! Gagak ‘kan tidak seharusnya makan es krim! Nih, mending juga makan kacang almond yang kubawa dari dapur!”
“Gaaok! Kaak! Kaakk!”
“Aargh!! Lagian, mana ada gagak makan es krim!? Yata, tolong aku dong~”
Gagak hitam yang merupakan familiar Yata-garasu, terlihat sedang berusaha mematuk wadah es krim di genggaman tangan Keiron, tergoda oleh bau manis es krim yang sedang disantap Keiron. Yata-garasu yang jelas mengerti ucapan gagaknya, ia menghela napas setelah menggelengkan kepalanya, ia melangkah mendekati gagak tersebut dan mengangkatnya di kepalan tangannya, menyelamatkan Keiron supaya ia tak melanjutkan ekspresi minta tolongnya seperti tatapan seekor anak anjing.
“Pakta saya dengan anda tidak memberikan perlindungan kalau anda menderita gangguan pencernaan karena tak bisa mencerna laktosa,” ucap Yata-garasu ke gagaknya yang mulai terlihat murung, kemudian ia memberikannya elusan ke kepalanya. “Saya harap anda mengerti, demi kebaikan anda. Mintalah buah ke dapur bila anda ingin sesuatu yang manis.”
Akhirnya merasa kalah, gagak yang berada di tangan Yata-garasu pun terbang dari tangannya, menyelip keluar melalui pintu ruangannya, sebelum Yata-garasu menutup pintunya. Keiron setelah melihat kepergian gagak itu, ia menghela napas lega.
“Buset ‘lah, aku baru tahu kalau burung itu lactose intolerant,” Keiron pun menatap Yata-garasu yang telah menaruh tasnya di meja, turut duduk di sofa di hadapannya. Keiron pun jadi penasaran akan satu hal, ia lekas bertanya dengan sesuap es krim di mulutnya.
“Yata, apa kamu juga lactose intolerant?”
Yata-garasu menatap Keiron dengan lempeng, tanpa ekspresi, terlihat tak sedikit pun tertarik untuk tertawa.
“Bilamana saya memiliki gangguan pencernaan laktosa dari dahulu, saya tak akan memakan keju yang terkadang saya makan sebagai sampingan saat meminum wine.”
Keju dan wine. Keiron seketika teringat masa lampau, kurang lebih satu dekade yang lalu, dimana ia baru tahu bahwa ada keju yang baunya sangat tajam (bagi hidungnya) saat mereka mendapatkan wine dari klien mereka sebagai hadiah. Meski rasanya bisa dibilang enak dan sangat terasa tekstur krimnya, Keiron yang tak suka baunya, memprotes dan tak akan makan keju jenis itu untuk kedua kalinya.
“Ah! Keju yang bulukan itu! Kejunya saja banyak jamur begitu!” Keiron tidak begitu ingat namanya, yang mana langsung dikoreksi oleh Yata-garasu dengan nada datar.
“Camembert,” ucap Yata-garasu meralat, “sekedar informasi saja, keju itu untuk satu roda seharga tiga hari gajimu.”
Keiron nyaris tersedak es krimnya, “HAAH?!” terkejut akan harga keju yang ‘berjamur’ seperti itu, rupanya tak sekedar mahal mengingat gaji yang ia dapat memang berbeda dari pegawai biasa. Tangannya pun sigap mengambil ponsel, membuka laman untuk melakukan pencarian daring, lalu ia memasukkan kata kunci seperti ‘berapa harga keju kamember’. Secara otomatis mendapatkan ralat, ia akhirnya tahu cara penulisannya dan juga, harganya.
“Kok bisa keju seperti itu saja harganya mahal?!”
Yata-garasu pun mengeluarkan berkas dan dokumennya diatas meja diantara mereka, “teknik, bahan dan proses fermentasi yang membuatnya mahal. Tak sembarang ‘jamur’ bisa digunakan untuk membuat keju mewah seperti demikian.”
Keiron terlihat melongo dengan pengetahuan baru ini.
“Jadi, bagaimana bila kita mulai membahas dari informasi yang anda dapatkan hari ini?” Yata-garasu yang memilih untuk membantu Keiron kembali ke dunia nyata, mengingatkannya bahwa mereka masih memiliki pekerjaan.
“Oh, iya. Jadi begini—”
Kehidupan Pak Kaleo, sang janitor yang sudah berpuluh-puluh tahun bekerja di tempat yang sama, tidaklah menarik. Ketika ia telah menunaikan pendidikannya hanya di sekolah menengah atas, keluarganya tak memiliki biaya yang cukup untuk membantunya melanjutkan pendidikan. Kaleo, saat itu tak percaya terhadap kemampuannya dengan memanfaatkan beasiswa terpelajar, pada akhirnya pilihannya berakhir untuk membantu perekonomian keluarganya, hanya demi membayarkan hutang ayahnya yang telah meninggal karena dosis alkohol berlebih—sang pemabuk berat.
Dimulai hal kecil seperti kerja berserabutan, semua jenis pekerjaan ia lakukan—gaji yang tak seberapa itu, sebagian besar digunakan sebagai membayar hutang. Lelah? Tentu saja. Ketika kebutuhan sehari-hari hanya cukup untuk makan dan biaya pengobatan ayahnya sebelum meninggal, Kaleo telah mengubur mimpinya dalam-dalam dan menghadapi realita, bagaimana caranya ia bisa mendapatkan uang lebih untuk memperbaiki perekonomiannya?
Suatu hari, ia akhirnya berganti pekerjaan setelah melihat lowongan baru sebagai janitor di SMP Dossil Selatan, merasa bila ini kesempatan yang baik, terutama dengan gaji yang di dapat lebih tinggi dari saat ia bekerja serabutan. Saat itu, Kaleo yang masih muda, hampir menjalani kehidupannya dengan auto pilot. Bekerja, membayar hutang, melanjutkan hidup dengan makanan yang ada—
Kehidupannya benar-benar tak ada yang istimewa. Tanpa ia sadari, waktu telah berjalan cukup lama dan ia tak lagi memiliki hutang. Hutang yang telah terbayarkan di usia hampir pensiun, ia putuskan untuk menjalani kehidupan selayaknya mengikuti arus aliran sungai. Janitor yang tadinya hanya ia seorang, kemudian bertambah. Kaleo merasakan keringanan ketika bekerja, sehingga ia selalu menyambut mereka dengan baik. Tak pernah ia memasukkan ke dalam hati akan cemooh dari beberapa guru maupun murid, yang tentunya tidak semua, terkadang akan mengejek pekerjaannya.
Mungkin, ketidakacuhannya seharusnya cukup berhenti di dalam dirinya. Dua tahun yang lalu, Kaleo tidak begitu menyadarinya, semenjak kapan ia mengabaikan perundungan yang jelas-jelas terpampang di hadapannya?
Remaja itu seumuran, namun ia tak bernasib baik. Hanya karena ia seorang yatim dan memiliki nilai lebih baik daripada murid seumurannya, ia dirundung. Kaleo mengetahuinya karena setiap ia membersihkan area gudang yang tak terpakai, ia selalu melihat remaja itu keluar dari sana dengan tertatih-tatih dan terluka. Ia masih ingat ucapan remaja itu saat ia hendak menolongnya untuk diantar ke UKS.
“Sejak awal kau melihatku, ‘kan? Tak perlu membantuku jika kau pun tak bisa melakukan apa-apa.”
Kaleo merasa bila hal yang diucapkan remaja itu tak seharusnya muncul dari mulut anak belasan tahun. Seharusnya ia lebih tegas untuk membantunya, meski sedikit, meski hanya sekedar mengantarnya ke UKS. Namun, seakan hati kecilnya telah tertusuk tepat di sisi kelemahannya, Kaleo tak membantah, alih-alih memaksakan dirinya untuk berkehendak baik, punggung yang masih kecil itu menjauhi dirinya. Seorang bocah, harus menanggung nasib sial dan tak mampu melawan–tak ada yang menolongnya, dunia seperti menghajarnya bertubi-tubi tanpa ampun.
Rasa penyesalan selalu hadir dibelakang. Perundungan yang sesekali ia dengar dan tak sengaja melihatnya, semuanya bertambah buruk. Ia tak bisa melakukan apapun, terutama saat ia tahu siapa yang merundungnya–jika ia menolongnya, apa yang akan terjadi dengan kehidupannya yang sudah tenang? Apakah ia sanggup menanggung resiko untuk menyelamatkan nyawa seseorang, ketika ia telah mencapai ketenangan tanpa perlu dikejar-kejar hutang?
Sebulan kemudian, remaja itu menjatuhkan diri dari atap sekolah.

Comments (0)
See all