“–gitulah. Bapak janitor tua itu melihat bagaimana dia mati, jadi sampai sekarang dia kadang ‘gak bisa tidur nyenyak. Ekspresinya lucu sekali, Yata. Hanya dengan sedikit dorongan dariku, ia menceritakan semuanya–ia merasa takut dan bersalah.”
Keheningan yang sangat sunyi–Yata-garasu tak terlihat segera berbicara, bahkan sepanjang Keiron menceritakan, ia benar-benar hanya mendengarkannya, begitu fokus dan sungguh-sungguh. Salah satu hal yang Keiron sukai dari sifatnya, Yata-garasu merupakan pendengar yang baik, tak sedikit pun menyela, dan membiarkannya bercerita sepenuh hati.
Walaupun demikian, Keiron dapat melihat bagaimana ekspresi Yata-garasu saat ini. Apakah itu kekecewaan? Ataukah rasa amarah yang terpendam? Setelah membiarkan beberapa menit kesunyian menemani keduanya, Yata-garasu akhirnya menghela napas berat, sedikit panjang dari biasanya.
“Kecewa, ya? Pada akhirnya manusia tak sebaik itu.” Keiron mengangkat bicara, menatap Yata-garasu yang mengganti posisi tubuhnya saat duduk.
“... Saya sudah menduganya. Saya cukup memahami tindakan Kaleo, hanya karena ia tak memiliki kekuatan untuk membantu korban. Dia sudah cukup nyaman dengan keadaannya setelah berpuluh-puluh tahun berusaha melunasi hutangnya, keputusannya untuk menutup mata tak sepenuhnya salah.”
Dokumen-dokumennya sudah ditaruh di atas meja, sebuah alat perekam berbentuk pena, satu gelas es krim yang sudah habis isinya–Yata-garasu memberikan dokumen itu ke Keiron, agar dibaca. Keiron pun mengambil dokumen tersebut, mulai membacanya.
“Selama kita melakukan misi ini, saya merekam segala sesuatu yang terjadi–mengingat pergerakan saya justru akan menarik perhatian. Hari ini Kepala Sekolah sudah memanggil saya. Besok, kemungkinan besar, mereka akan melakukan sesuatu. Keiron, ada baiknya bila anda juga membawa alat rekamannya.” Saran Yata-garasu lantas mengangkat ingatan Keiron akan sesuatu. Keiron mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan Yata-garasu sebuah video yang ia rekam tadi pagi, di mana saat bocah bernama Kirie itu dikepung–tepatnya, dirundung.
“Yata, lihat ini. Entah ini suatu kebetulan atau apa, bocah perempuan ini sepertinya bukan pertama kalinya dirundung.” Keiron menunjuk ke arah wajah gadis berambut pendek itu, lalu memperbesar gambarnya.
“Aku pernah lihat dia sewaktu pulang dari membeli es krim di tempat biasanya, yah–ada bocah yang senggol aku pas bawa es krim! Bocah yang senggol aku juga komplotannya yang ada di video ini.” Kemudian, jarinya yang menunjuk berpindah ke bocah lainnya, ada empat siswa yang berbeda-beda tingkat kelasnya. Yata-garasu menyadarinya lebih cepat ketika matanya menangkap ke arah tanda pengenal di seragam mereka.
“Kelas 3-5, kelas 2-2, kelas 1-4, kelas 1-3. Saya hanya mengajar di kelas 3-5 dan 2-2, gadis itu di kelas 1-4. Kunci dari kasus ini ada pada gadis itu, Keiron.” Ucapan Yata-garasu pun mengalihkan pandangan Keiron ke videonya tadi, agak terheran, bagaimana bisa dia melihat identitas kelas mereka dengan kualitas video yang amatir ini?!
“Kamu bisa lihat mereka sejelas itu?? Memang mata burung sungguh berbeda.”
“... Tidak sebegitunya. Kebetulan saja mata ini yang berbeda.” Yata-garasu memejamkan matanya sejenak seusai Keiron menutup video yang ditunjukkannya padanya barusan. Keiron tak menyangkal bila ia mengatakannya secara apa adanya, namun respon Yata-garasu sepertinya cukup menarik baginya? Tidak ia sadari, Keiron pun bersiul-siul, alih-alih memberikan hiburan di keheningan sejenak atas kecanggungan Yata-garasu saat menerima pujian. Pria berkacamata itu sendiri, 100% menyadari kekurangannya ketika menghadapi situasi ini–dan bagaimana ia menjawabnya, sudah dicontohkan.
“Satu hal lagi,” Yata-garasu tiba-tiba menambahkan dengan suara tenangnya, “saya rasa anda sudah merasakannya, namun sekolah itu memiliki arwah gentayangan yang masih bersemayam.”
“Ah, ketika kamu bilang begitu…” Keiron memasang wajah berpikir, menjepit dagu dengan kedua jarinya, “dipikir-pikir, iya juga–aku sempat merasakannya, tipis ‘sih. Tapi sepertinya dia lebih ke terjebak, deh. Aku ‘gak merasakan adanya hawa negatif darinya.”
“Karena dia meminta tolong kepada saya. Ada baiknya anda mengecek karena saya pasti tak akan sempat.”
“Hooh, kasihan banget. Akan kucari dan ku tanyakan deh, besok.”
Lantas tak membuahkan respon lain, diskusi mereka kembali berlanjut–hingga diskusi mereka berakhir, mereka memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tersisa, beristirahat bila sudah selesai untuk hari itu.
Keesokan harinya, awan putih di langit biru pagi terlihat mengapung tipis, mirip seperti buih dari kopi pagi Yata-garasu sebagai pendamping sarapannya tadi untuk membantunya bertarung dengan kehidupan. Keduanya sudah di posisi masing-masing pekerjaan mereka, Yata-garasu yang kembali mengajar namun di kelas berbeda, maupun Keiron yang mencari informasi dengan posisinya sebagai janitor.
Bagaikan asa tak sangka, Yata-garasu menemukan dirinya duduk di rapat komite kedisiplinan antara guru dan murid, yang saat ini disebabkan oleh sekelompok murid yang sedang mereka selidiki.
“Nama: Tenmujin Kirie, murid kelas 1-4. Apa kamu tahu mengapa kamu dipanggil saat ini?”
Gadis itu menggelengkan kepalanya saat namanya disebutkan oleh salah satu guru komite kedisiplinan, raut wajahnya yang nampak polos sungguh menunjukkan bahwa ia benar jujur tak mengetahui mengapa alasannya dia di sini. Di hadapannya, empat orang siswa Yata-garasu familiar, sebab ia melihatnya dari video yang terekam oleh Keiron. Yang mana, dari beberapa wali di samping siswa-siswa itu, Yata-garasu perhatikan baik-baik wajah mereka. Tampak sekilas, mereka semua sudah dapat dipastikan orang tua keempat siswa itu disebabkan kemiripan mereka. Yata-garasu akan mengingat wajah dan nama mereka.
Ketika dibandingkan dengan Kirie yang tak terlihat memiliki wali disampingnya, Yata-garasu dapat menerka bila siswi itu akan menghadapi masalah besar.
“Bapak guru Menno, apa perlu dipertanyakan lagi? Anak itu tak memiliki orang tua, tentu saja sikapnya akan bermasalah! Lihat apa yang dilakukannya kepada anak saya!”
Salah satu wali pun membuka seragam anaknya, menunjukkan luka lebam di perutnya yang masih membekas. Beberapa orang terlihat terkejut, sepertinya tak menyangka bila seorang gadis seperti Kirie dapat melukai murid laki-laki yang lebih besar darinya seperti itu.
“Maafkan saya sebelumnya, Bu Herbert–Apa anda yakin bila siswi Tenmujin Kirie yang melakukannya? Secara fisik, Jim lebih besar darinya, dan anda tidak memiliki bukti bahwa siswi Tenmujin telah melakukan kekerasan sepihak.” Menno, sang guru ketua komite kedisiplinan, memastikan terlebih dahulu.
Tak terima oleh tuduhan yang diberikan, teman Jim–lantaran langsung menyahut untuk ‘membela’ Jim, memberikan testimoni.
“Kami lihat sendiri, Pak! Anak itu ternyata mengerikan! Selain memukul teman kami, dia juga memalak kami!”
Seperti terciprat minyak di bara api, wali yang lain turut menimbrung, “Kalau tidak punya orang tua, sudah bisa dipastikan kalau tak ada yang mengawasi kelakuannya. Anak yang kekurangan dari segala aspek, kok bisa masuk ke sekolah elit ini?”
Seketika ruangan tersebut gaduh oleh berbagai suara–terutama suara bisik-bisik dari segala penjuru. Terkecuali, Yata-garasu yang ‘hanya’ seorang guru pengganti, matanya sedang menilai ke seluruh penjuru yang hadir di tempat ini.
Kecewa, amarah, diskriminasi, kebohongan, hingga pandangan menghakimi terhadap satu pihak. Semua pandangan itu mengarah ke siswi tersebut, yang tak memiliki pendamping, maupun seseorang yang mendukungnya.
“Saya paham atas kerisauan anda, Pak Christel–kasus ini akan kami tangani, bila benar adanya siswi Tenmujin Kirie melakukan hal tersebut. Siswi Tenmujin Kirie, minta maaflah kepada Jim terlebih dahulu, bisa ‘kan?”
Hampir semua pandangan mata menuju sang siswi, tak terkecuali Yata-garasu. Yata-garasu akhirnya memahami situasi yang dialami gadis itu. Tekanan di ruangan ini, semuanya menimpa sang siswi.

Comments (0)
See all