Seketika jantungku berhenti berdetak saat menatapmu waktu itu. Ini pertama kalinya aku melihat pria secantik itu dalam hidupku. Masih membekas jelas dalam ingatanku, seperti apa wajah cantiknya saat itu. Aku bahkan tidak sempat menanyakan dia ada dikelas berapa. Ha... Aku harap kita bisa bertemu lagi esok di sekolah.
Kamis, 1 Februari 2024
• Ruang Kelas 12-B
"Bulan lalu pihak sekolah telah mengadakan ujian uji coba sekolah, dan terdapat 5 bab pada mata matematika, yang diantaranya persamaan linier dan kuadrat, geometri, trigonometri, statistik, dan kalkulus dasar. Saya harap kalian bisa-..."
~Teng-teng-teng-teng-teng~
"Baiklah kita akhiri pelajaran hari ini karna sudah waktunya istirahat. Jangan lupa belajar materi serta kisi-kisi ujian yang sudah saya bagikan tadi."
"Baik, terima kasih, sensei!" ( Ucap semua murid )
~
"Haa, akhirnya istirahat juga! Ayo Akira, cepat! Kita harus bergegas pergi ke kantin! Katanya menu makan siang hari ini karē raisu (カレーライス)!"
"Eh, t-tunggu Haruki! Jangan lari duluan lah!"
~
"Haha... Kau harus mempercepat langkahmu, kalau kau tidak mau kehabisan karē raisu lagi kali ini!"
Ha... ha... ha... Awas kau ya Haruki!"
~
"Haha, makanya ayo cepat kejar aku! Eh, Akira awas di samping kananmu, ada orang yang mau keluar dari arah pintu perpustakaan!"
"Ha... Ha... Kau bilang a-...!"
Brug! ( suara orang saling bertabrakan )
"Aduh... bokongku sakit banget..."
"Haha, Akira-Akira kan aku dah bilang kalau ada orang yang mau keluar dari arah pintu perpustakaan."
"Sial, Ini semua salahmu tahu! Kalau kau tidak menyuruhku berlari tadi, aku tidak mungkin menabrak seseorang dan terjatuh seperti ini! Mana sakit banget lagi! Aduh..."
"Hehe... Iya-iya maafin aku~."
"Ugh... Sudahlah." ( sambil berdiri dan mengelus bokongnya yang sakit )
"Aku lebih merasa bersalah karna menabrak seseorang disini. Hei, maaf karna telah menabrakmu tadi, apa kau baik-baik saja? Ayo aku bantu kau berdi-..."
Oh, sial! Bung dia sungguh sangat cantik! Bagaimana bisa ada pria secantik ini disekolah?! T-tunggu aku bukan gay, tapi kenapa jantung ini berdebar keras sekali?! Aku bahkan belum sempat menyelesaikan perkataannya padanya tadi!
"Hei, Akira! kenapa kau malah bengong gitu?!" Ucapan Haruki sambil menyenggol lengan kiri Akira.
"E-eh, ah, a-ayo sini aku bantu berdiri-... Eh mana orangnya...?"
"Goblok sia! Dah telat kali, tuh orang dah pergi kesana. Lagian pake bengong segala sih."
"Sial, harusnya kau bilang dari tadi!" ( Bergegas lari )
"Eh, kau pergi mau kemana Akira?! Kantin kan bukan ke arah sana!"
"Aku mau menyusul orang itu, kau pergilah ke kantin dul! Aku titip beberapa roti dan susu juga, tolong bawakan ke ruang kesehatan, oke!"
"Roti dan susu...? Ruang kesehatan...? Apa maksudnya? Ah, sudahlah mending pergi ke kantin dulu."
~
Dasar Akira bodoh! Bagaimana bisa kau malah bengong disaat seperti ini?! Dia pergi kemana ya... Eh, tunggu itu bukan ya? Eh?! Iya benar itu dia!
"Hei, kau yang bawa buku! Tunggu!"
"Kau yang tadi... ada apa?"
"Ha... ha... ha... Capek banget... Oh, ya aku ke sini mau minta maaf padamu. Maafkan aku karna telah menabrakmu tadi."
"Tidak apa-apa, kalau begitu dulu."
"E-eh, tunggu dulu! Aku mau-... eh, kenapa tanganmu bisa berdar-...! Ah... itu pasti karna kita bertabrakan tadi. Ayo kita harus segera pergi ke ruang kesehatan dan mengobati tanganmu!"
"Itu tidak perlu, ini hanya luka kecil."
"Tidak! Bagaimana bisa kau menyebut ini luka kecil! Darahnya terus mengalir, kau bisa terkena infeksi nanti. Kita harus segera mengobati lukanya! Ayo!" ( Sambil menarik tangan orang itu menuju ruang kesehatan )
"Eh! Pelan-pelan jalannya!"
Ha, ini sungguh membuat ku gugup! Tanpa sadar aku dengan lancangnya menarik tangan orang ini dan memaksanya ke ruang kesehatan! Apa yang bakalan dia pikiran tentang ku nanti! Bagaimana kalau dia berpikir aku ini adalah seorang pria kasar yang tak tahu malu?! Tidak-tidak, aku harap dia tidak berpikir seperti itu tentangku. Phew... Tenangkan dirimu Akira, kau harus bersikap seperti biasa. Aku harap debaran jantung ini tidak terdengar olehnya.
• Ruang Kesehatan
Creeak ( suara pintu digeser )
"Permisi, eh, tidak ada hokenshi ( 保健師 - perawat ) yang bertugas disini... Ah, iya ini kan masih jam istirahat."
"Baiklah, karna tidak ada, sebaiknya aku pergi." ( Membalikkan badan ke arah pintu keluar )
"E-eh! Tunggu dulu dong! Meskipun tidak ada hokenshi disini, kan masih ada aku!"
"Kau...?"
"Yups, aku juga bisa mengobati lukamu! Baiklah ayo!"
"Eh-eh, kenapa kau menggendongku! Turunkan aku!"
"Tidak, kalau aku tidak menggendongmu, kau akan melarikan diri lagi nanti." (Menggendongnya menuju ke Beddo ( ベッド ) / kasur di ruang kesehatan )
~
"Nah, kau duduk disini dulu, aku mau mengambil Kyuukyuu-bako ( 救急箱 - kotak P3K ) dulu di lemari."
~
"Hup, baiklah, berikan tanganmu yang luka tadi padaku."
"Kau... Apa kau benar-benar tahu cara mengobati lukanya?"
"Apa? Tentu saja aku bisa! Kau meremehkan ku ya?~ " ( sambil mengobatinya )
"Tidak, bukan begitu... hanya saja... Aku tidak menyangka orang sepertimu adalah orang yang baik dan mau bertanggung jawab."
"Eh...? Bagaimana kalau bisa menyebutku orang itu? Apakah karna tampangku?"
"Eumm... Aku merasa wajahmu itu seperti... Ketua geng nakal...? Mungkin...?"
"Astaga, bagaimana bisa kau menilai seseorang hanya dari wajahnya saja?! Sungguh aku tidak seperti itu! Aku ini adalah pria terbaik, termanis, dan tersopan di sekolahan ini kau tahu!" ( Berbicara dengan nada bicara yang lucu )
"Pfft... Ah maafkan aku... Aku sungguh tidak bermaksud menyinggung mu."
"Huh, ini sangat tidak bisa dimaafkan! Bagaimana bisa kau tertawa setelah menuduh wajah rupawan ku ini! ( Berbicara dengan nada yang lucu )
"Pfft... Ah... Maafkan aku lagi... Aku tahu kau kesal tapi kenapa kau meluapkan kekesalan mu dengan nada yang aneh seperti itu..."
"..... Aku senang bisa melihatmu tertawa seperti itu."
"Apa... ? Suaramu terlalu pelan, kau bilang apa tadi?"
"Aku bilang, ada 3 hal yang harus kau penuhi kalau kau mau mendapat permintaan maaf dariku."
"Eh...? Bagaimana bisa seperti itu? Kau ini picik sekali."
"Apa? Aku? Picik?! Tidak bisakah kau lihat?! Disini kalah yang salah, kau bahkan meminta maaf sambil tertawa, dan terdengar sangat tidak tulus sama sekali. Maka dari itu aku mengajukan 3 permintaan. Aku berjanji apapun yang aku minta tidak pernah merugikan mu dalam hal apapun. Malah sebaliknya, justru hal ini mungkin akan lebih menguntungkanmu."
"......................................................"
"Hei, kenapa kau diam saja? Apa kau masih tidak percaya? Baiklah gimana kalau begini, semisal yang aku minta itu sulit untuk kau lakukan maka aku akan menggantinya. Aku tidak akan memaksa melakukan hal yang tidak kau suka kok. Gimana? Sepakat?"
".... Ha... Baiklah."
"Beneran?! Yes, berhasil!"
~
Creeak ( suara pintu digeser )
"Berhasil apanya Akira?"
"Eh, Haruki. Ah, kau sudah membelikan semuanya kan? Sini-sini berikan padaku. Ini uangnya ya, dah sekarang kau pergilah." ( Mengambil barang dari tangan Haruki dan mendorongnya keluar )
"E-eh, tunggu dulu! Bagaimana bisa kau memperlakukan ku seperti pesuruh, aku juga belum meminta maaf pada orang itu."
"Sudahlah kau tidak perlu melakukan itu, aku sudah mewakili mu tadi, lebih baik kau segera pergi ke ruang guru. Kau dipanggil Kawaguchi-sensei tadi katanya ada masalah dengan nilaimu."
"Eh, seriusan?! Wduh gawat nih, kalau sampai aku telat kesana! Bisa-bisa entar disuruh merangkum buku lagi nanti!" ( Bergegas lari menuju ruang guru )
"Phew... Akhirnya pergi juga tuh bocah, gangguin aja. Orang lagi ngobrol juga. Ah maaf ya, tadi temanku kesini karna aku yang menyuruhnya."
"Tidak apa-apa." ( Sambil melirik ke arah kantong plastik yang dibawa Akira )
"Kenapa kau melihat ke baw-... Ah, ini tadi aku meminta temanku untuk membeli beberapa roti dan susu di kantin. Kau mau pilih yang mana?"
"Apa? Tidak, itu tidak perlu. Aku juga tidak sedang lapar sekarang."
"Tapi, aku sangat merasa bersalah karna telah menabrakmu tadi dan membuatmu kehilangan waktu untuk istirahat makan siang di kantin... Apalagi sekarang menu makan siangnya karē raisu TT..."
"Tapi..."
"Ayolah, aku mohon satu saja~ Aku bakal terus kepikiran kalau kau menolakku seperti ini..."
"...... Baiklah, aku ambil yang coklat, terima kasih."
"Hehe, sama-sama!"
"Ah, aku lupa menambahkan plester luka di siku mu! Sebentar ya... Hmm... Nah... Dah selesai! Sekarang kau bisa beraktivitas kembali. Tapi diingat ya, kau harus mengganti perban dan plesternya setiap hari, oke?"
"Tentu, terima kasih."
"Iya, eh omong-omong, kita belum-..."
~Teng-teng-teng-teng-teng~
"Ah, sudah bel masuk! Aku harus segera kembali ke kelas! Terima kasih karna telah mengobati ku, aku pergi dulu!"
"H-hei, tunggu siapa namamu?!"
"( Berhenti ) ..... M-Mori Yuki. Maaf aku pergi dulu!"
"Eh, kau di kelas ma-... Haa... Dia dah pergi. Aku juga harus cepat-cepat balik ke kelas nih. ( Pergi menuju kelas )
• Ruang kelas 12-B
~Teng-teng-teng-teng-teng~
"Baik anak-anak, karna waktunya sudah waktunya pulang. Bapak akhiri pembelajaran sampai disini. Dan ingat jangan lupa belajar materi-materi yang sudah bapak dan ibu guru berikan."
"Baik, pak terima kasih! ( Ucap semua murid )
"Hei, Akira! Kenapa kau buru-buru gitu? Kau pergi kemana?
"Ada sesuatu mendesak yang harus aku urus. Kau pergilah dulu ke tempat les." ( Langsung bergegas pergi )
"Eh, tapi-...! Sial, baru juga mau ngomong, dah pergi aja tuh bocah."
~
Ha... Aku harus menemukan orang itu sekarang! Aku bakalan ngecek satu persatu kelas, mulai dari lantai satu sampai lantai dua. Aku harap aku bisa segera menemukannya.

Comments (0)
See all