Please note that Tapas no longer supports Internet Explorer.
We recommend upgrading to the latest Microsoft Edge, Google Chrome, or Firefox.
Home
Comics
Novels
Community
Mature
More
Help Discord Forums Newsfeed Contact Merch Shop
Publish
Home
Comics
Novels
Community
Mature
More
Help Discord Forums Newsfeed Contact Merch Shop
__anonymous__
__anonymous__
0
  • Publish
  • Ink shop
  • Redeem code
  • Settings
  • Log out

Deadly Darling

After Three Years

After Three Years

Jun 03, 2024

This content is intended for mature audiences for the following reasons.

  • •  Abuse - Physical and/or Emotional
  • •  Blood/Gore
  • •  Physical violence
Cancel Continue

Perang Tanah Berdarah.

Semua itu terjadi bagaikan sebuah jam waktu yang berputar. 

Kejadian dimulai ketika invansi sebuah kekaisaran dalam menguasai daerah dari kerajaan lain, menumpas habis musuh sampai menyedot harta daerah hingga jadi kepemilikan.

Dipimpin oleh seorang kaisar yang serakah, Linsberg memiliki kekuatan militer dalam menyerang kerajaan lain supaya tunduk pada kekuasaannya.

Namun, karena protes pajak dan berontaknya kerajaan kecil di daerah sekitar, Linsberg mengirim para pasukan militer lebih jauh lagi untuk memberikan pelajaran--lebih tepatnya, rasa takut bagi mereka.

Dan salah satunya adalah Kerajaan Heint.

Dari hubungan netral yang tidak menyakitkan, berubah menjadi ketidak hormatan dalam hubungan politik.

Perang Tanah Berdarah terjadi disambut api amarah, lalu diakhiri dengan abu penyesalan. Dalam waktu singkat, dampak perang menyebar ke seluruh wilayah.

Kerajaan Heint hancur akibat perang melawan Kekaisaran Linsberg. Ibukota Calonia luluh lantak, jalur perdagangan telah dikuasai oleh pihak musuh. Semuanya sudah dalam kuasa genggaman Linsberg hanya dalam waktu kurang dari dua malam.

Bagi Lillianne, itu semua adalah mimpi terburuk yang pernah ia alami seumur hidup. Tanah kelahirannya, kerajaannya, keluarganya, rakyatnya--semua telah hancur tak bersisa. 

Kenyataan pahit memukul keras sang Putri Kerajaan Heint.

"Heint telah hancur, Xavier! Kenapa harus aku yang masih hidup?!" Lillianne bertanya dengan penuh amarah, mengguncang tubuh pengawal pribadi di hadapannya.

Xavier hanya bisa terdiam dan langsung bertekuk lutut di hadapan Lillianne, "Maafkan hamba, Yang Mulia ... karena ketidakberdayaan hamba, Yang Mulia menjadi seperti ini."

Pemuda itu merasa bersalah, ia tidak bisa menjadi pelindung keluarga kerajaan yang terdampak oleh perang secara langsung.

Airmata Lillianne tak dapat dibendung. Suaranya terdengar parau, tubuhnya penuh luka, merosot berlutut sembari terisak.

Bahkan ia masih mengingat jelas bagaimana suara ledakan, pedang yang beradu, panah yang menancap ke sisi tembok dan tubuh manusia. Lillianne marah akan dirinya sendiri, dia tak berdaya. 

"Kenapa ... kenapa aku harus terlahir sebagai perempuan?! Untuk apa aku mempunyai kekuatan ini!? Jika Ayahanda saja mengizinkanku ikut berperang, setidaknya kerajaan ini tidak akan hancur ..."

Terhenyak, Xavier mencoba menenangkan pikiran Lillianne yang tengah terpuruk. "Yang Mulia, hamba mohon tenangkanlah diri Anda."

Suara raungan dan pedang membuat mereka tersadar dan segera bangkit dan lari secepatnya ke dalam hutan lembah.

Sembari berlari, gadis remaja itu semakin berpikir kalang kabut. Bagaimana dengan orang tuanya, saudaranya, dan orang-orang yang dikenalnya hidup di perang seperti ini?

Tidak bisa.

Itulah yang harus ia telan dalam-dalam saat kabur bersama Xavier.

Namun, Lillianne harus tetap bangkit. Setidaknya demi dirinya sendiri.

Ia mencoba untuk bertahap hidup bagaimana pun caranya, hingga tak terasa waktu terus berjalan, roda dunia telah berputar, dan takdir yang akan mempermainkan dirinya telah menanti.

***

Tiga tahun berselang setelah kejadian menyedihkan itu.

Sekarang, Kekaisaran Linsberg yang telah menguasai separuh daratan di Errlandt.

Ibukota kekaisaran, Yūtoōh, adalah salah satu kota besar yang makmur dan tentram. Dengan air sungai jernih yang mengalir deras, jalur perdagangan yang sebagian besar telah dimonopoli sejak dulu, ditambah banyak pelancong yang datang dari berbagai belahan dunia untuk berdagang membuat perputaran ekonomi semakin cepat di sana. Mereka datang melalui pelabuhan yang letaknya tidak jauh dari Ibu Kota Yūtoōh.

"Rion, tidak mampir ke sini dulu? Bibi punya roti masih hangat!" Seorang wanita paruh baya yang menjual toko roti kepada gadis yang dipanggil.

Wanita muda tadi menoleh. Dengan surai crimson dan menggunakan pakaian gaun lusuh berwarna cokelat gelap, kontras dengan senyum manisnya.

"Terima kasih, Bibi. Aku sedang buru-buru, mungkin lain kali aku akan mampir." 

"Baiklah. Titip salam untuk kakakmu, Axel, ya." 

Rion mengangguk sebelum berjalan meninggalkan pasar. Tangannya memeluk beberapa belanjaan yang telah ia beli tadi pagi.

Sembari berjalan, netra aquamarine miliknya menatap langit biru. Melihat burung camar yang tengah terbang di udara. Seakan memberikannya semangat untuk menjalani hari.

Matanya menerawang jauh. "Bertahanlah, Lillianne. Suatu saat nanti tahta milikmu akan kau rebut kembali." gumamnya pelan.

Ambisius di dalam hati, langkahnya dimantapkan untuk berjalan menyusuri jalan ramai lancar kala itu.

Perang memang telah usai, tapi luka dalam hati takkan pernah hilang.

Setelah hampir terbunuh dan menjadi buronan kelas atas, mereka berdua tidak ada pilihan lain selain mengganti identitas diri untuk bertahan hidup. Mungkin karena sebuah keberuntungan, mereka malah bisa hidup dalam damai di pinggiran kota kecil di dekat ibukota Yuutooh, yang dulu menjadi salah satu bekas markas utama musuh dari kerajaannya yang telah hancur.

Rion berjalan pulang menuju rumahnya dengan menaiki dokar, dan turun setelah membayar. Sebuah rumah susun kecil yang agak jauh dari hiruk-piruk ibu kota ada di hadapannya. Dengan alasan keamanan, keduanya berpura-pura jadi sepasang kakak-adik dan setuju tinggal di kota kecil yang dekat dengan pesisir pantai, wilayah paling tenggara dari pinggiran ibukota Linsberg. 

"Aku pulang!" Rion berteriak lantang dan masuk ke dalam rumahnya, di sana terlihat seorang pria bertubuh tinggi besar dengan beberapa luka di lengannya yang tengah berdiri di dapur.

"Yang Mulia, Anda sudah pulang?" Pria muda bersurai ash blonde itu menoleh kepada Rion. 

Rion menaruh beberapa belanjaannya di atas meja, ia membuang nafasnya sejenak saat mendengar pemuda itu memanggilnya seperti itu lagi. "Kak Axel, bukannya aku sudah bilang jangan memanggilku seperti itu. Bagaimana jika ada seseorang yang mendengarkannya?" 

"Maaf. Saya refleks, Rion." Pria yang dipanggil Axel itu pun menundukkan kepalanya sebagai tanda menyesal. 

Rion membuang nafasnya malas, lalu menghampiri Axel dan mengelus pelan kepalanya.

"Kak, dengarkan aku. Saat ini aku bukanlah majikanmu, tapi adikmu. Berkat perlindunganmu sebagai seorang ksatria, aku dapat hidup sekarang," Rion melepaskan tangannya, "aku tahu jika keluargamu adalah orang yang mengabdikan hidupnya kepada keluarga kami, dan aku sangat menghormati itu. Jadi, aku mohon ... tolong lihat aku sebagai adikmu, ya?" 

Axel diam menatapnya dan mengangguk pelan. "Baiklah. Maafkan saya, Rion."

Rion tersenyum lebar. "Tentu." Lalu ia kembali berjalan menuju meja dan membuka kantung belanjanya. "Oh ya, Kak Axel." 

Axel menoleh saat hendak menyalakan keran air. "Iya?" 

"Tadi aku membeli banyak bahan makanan yang enak. Aku juga membeli daging." Rion menatap dengan riang. "Kemarin sebelum aku izin pulang dari Nyonya Baroness Leonhart. Nyonya memberikan gajiku lebih cepat. Aku senang sekali, akhirnya kita bisa makan enak!"

Wanita itu menceritakannya dengan gembira sambil mengeluarkan isi belanjaannya ke meja.

Namun, pria dengan nama lengkap Xavier Axellion Spencer itu hanya terdiam sedih.

Dia merasa bersalah membuat seorang pewaris kerajaan malah berjibaku dengan pekerjaan yang menurutnya tidak pantas, itu pun demi menyambung hidup. Biarpun Axel juga bekerja sebagai pesuruh di keluarga Baron Leonhart juga, tapi biaya hidup mereka tetaplah serba kekurangan. Ditambah biaya sewa rumah ini yang cukup mahal, padahal mereka pun jarang menempatinya ketika bekerja di kediaman Leonhart.

Rion heran melihat bisunya Axel. "Kenapa Kak Axel hanya diam saja? Kau tidak suka jika aku membeli daging?”

Tersadar, Axel menggeleng cepat. "Ah, bukan begitu. Aku hanya berpikir berapa harga daging yang kau beli." 

Rion tampak membuat pose berpikir. "Hmm ... seingatku sekitar 100 silver?" 

"Mahalnya! Kau membeli daging apa, Rion?" protes Axel sambil mengeritkan alisnya. 

Rion terkekeh pelan dan menunjukkan tempat bungkus berisikan daging mentah. "Hehehe ... aku membeli daging rusa! Sudah lama aku tidak merasakan lezatnya!" 

"Dasar ... pasti kau beli di dekat pelabuhan?"

"Uhh, iya ... aku beli di sana." 

Netra jade milik Axel membelalak dan menyerocos, "Bukannya saya sudah bilang jangan dekati pelabuhan? Di sana sedang tidak aman karena pasar gelap dan penjualan manusia. Kau bisa jadi budak di sana, Rion"

Pria itu mengacak-acak surai miliknya dengan kesal.

"Astaga, ya Dewa! Kenapa Yang Mulia selalu seperti ini!?" 

Melihatnya begitu, ia jadi merasa bersalah.

"Maaf, Sir Xavier ..." ujar Rion pelan.

Axel menghela nafas capek dan berbalik. "Terserahmu sajalah."

Rion memperhatikannya mengambil jubah dan memakainya, dan si pengawal menutupi wajah dengan tudungnya.

Axel membuka pintu rumah mereka. "Saya mau keluar sebentar. Jangan bukakan pintu untuk siapa pun." 

Rion mengangguk cepat. Karena ia tahu bahwa Axel akan berpatroli seperti biasa untuk melihat keadaan sekitar. 

Axel lalu pergi meninggalkan rumah itu, menyisakan Rion seorang diri.

***

Axel selalu waspada jika mendengar Rion pergi ke pelabuhan, karena tempat yang berada di semenanjung utara itu adalah pusat jalur perdagangan laut yang rawan dengan perdagangan manusia.

Banyak penjahat yang berkedok sebagai pedagang untuk mengincar seseorang yang bernilai berharga untuk layak dijual. Biarpun pelabuhan itu dijaga oleh Marquis Colt; salah satu jendral perang paling kejam serta memiliki pertahanan paling kuat di medan perang. Namun, sepertinya ada rumor mengatakan kalau dia adalah salah satu pria tua bangka yang memiliki hobi mengoleksi budak-budak. Sehingga pantas saja banyak sekali dari mereka yang berkeliaran di daerah dekat pelabuhan.

Axel melangkah masuk ke dalam jalan pelabuhan yang ramai.

Pelabuhan Carsha adalah salah satu yang terbesar di Kekaisaran Linsberg, karena Pelabuhan Carsha merupakan lintasan jalur utama perdagangan dari jalur laut di Kekaisaran Linsberg.

Axel menutupi wajahnya lebih rapat dan berjalan-jalan mengelilingi pasar di sekitar Pelabuhan Carsha. Matanya mendelik tajam. Dia berusaha tetap waspada karena wilayah ini rawan kejahatan, padahal terlihat banyak ksatria Marquis Colt juga berpatroli di sana. Namun, tetap saja banyak terjadi kejahatan. Seakan mereka membiarkannya begitu saja.

Seperti tidak kompeten dalam perkerjaan.

Axel terus berjalan menyelusuri pasar, banyak orang berlalu-lalang di pasar. Entah itu untuk berdagang ataupun sekedar datang ke pelabuhan untuk melihat beberapa barang langka yang dijual di sana pasti mudah ditemukan.

"Silahkan, Tuan. Mari dilihat-lihat dulu!" 

"Lihatlah, Tuan. Keramik langka ini baru datang tadi pagi!" 

Banyak pedagang yang menawarkan dagangan mereka kepada setiap pengunjung pasar yang melewati kios mereka, entah itu keramik, barang antik, ataupun artefak sihir lainnya. Namun, Axel terus berjalan melewati kios-kios itu, sampai kemudian dirinya terhenti sejenak.

Tak jauh dari sana, terlihat kerumunan yang berdiri di depan papan pengumuman pelabuhan, tempat di mana iklan kertas berada. Dari kelihatannya, ada sebuah poster wajah yang sepertinya dikenali oleh Axel.

Pria muda tersebut berjalan santai saat mendengar celotehan menyeletuk.

"Hei, lihat wajah si cecunguk itu!" 

"Seram sekali ... apakah para pasukan kesatria kaisar itu tidak bisa menangkap mereka?" 

"Banyak terjadi pembunuhan akhir-akhir ini karena ulah mereka."

"Kudengar juga begitu! Mengerikan sekali."

Semakin dibicarakan, Axel semakin penasaran dan mencoba menerobos ke dalam kerumunan. "Permisi, saya mau lihat ...."

Setelah dekat, dia mendongak dan menatap lekat poster yang tertempel di papan. "Wanted ... Dead or Alive: Gevanni Antonio Burton ..." gumam Axel seperti bisikan.

Axel tampak berpikir dalam hati penuh keheranan.

Tuan Muda dari keluarga Marquis Burton masih hidup. Jika dia masih hidup, harusnya pasukan unit 3 yang dipimpinnya masih ada. Saya harus melaporkannya kepada Yang Mulia, pikir Axel dengan serius.

"Ah, gerombolan Heint itu masih ada ternyata?"

Axel terkejut mendengar suara seseorang di sampingnya. Pria tua itu juga melihat poster dan ada di dekatnya. 

"Ah ... iya." timpal Axel sambil menutupi wajahnya dengan tudungnya dengan alami.

"Tuan lebih baik berhati-hati. Banyak orang-orang tak bersalah yang mati karena dibunuh oleh gerombolan Heint." Nasehatnya dengan nada orang tua.

Axel mengangguk pelan. "Terima kasih atas nasihatnya, Kek. Saya permisi dulu."

Sambil meninggalkan kerumunan, pikirannya semakin melayang ketika mendengar kasus pembunuhan yang baru didengar beberapa hari lalu.

Sosok Gevanni Antonio Burton langsung terbayang jelas di dalam ingatan Axel. Pria bersurai perak bernetra safir, gagah dan tegap dengan jubah kesatria Kerajaan Heint tergambar jelas di benaknya. 

Melakukan pembunuhan sekeji itu, cukup mencurigakan kalau Gevanni dituduh sampai jadi buronan.

"Apa benar ada kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Sir Gevanni? Pria itu 'kan orang yang paling anti membunuh dengan tangannya sendiri?" batin bertanya-tanya tentang sosok yang disebut-sebut sebagai pembunuh.

Ini tidak masuk akal!


***


Istana Agate. 

Bangunan mewah nan megah yang berlapis emas, dinding koridor istana yang terdapat banyak figura-figura emas berisi foto para kaisar-kaisar terdahulu melekat.

Aktivitas di dalam selalu sibuk, dengan banyak pelayan yang berlalu-lalang di koridor. Seakan kalau tak dilaksanakan, maka merekalah yang akan dibereskan hidupnya. Di sudut satu, pelayan sibuk membersihkan istana dipandu oleh ketua pelayan utama. Di sudut lain pula, pasukan kesatria kaisar yang tengah berlatih berada di lapangan utama Istana Agate.

Pria bersurai blonde yang dibicarakan baru saja melewati koridor istana. Banyak gadis-gadis bangsawan yang kebetulan mungkin tengah berkunjung ke Istana Agate tengah membicarakan dirinya setelah kepulangan dari urusan militer.

"Lihat, Yang Mulia Pangeran Sullivan semakin tampan." 

"Benar, beliau makin gagah saja."

"Hei, jangan centil. Nanti dia lihat ke sini."

Mata halusnya menatap lorong yang diinjak selagi dibicarakan samar, menghasilkan decihan kesal tersembunyi.

Karena tak tahan, pria itu menatap gadis-gadis bangsawan itu tajam dan membuat mereka semua bergidik ngeri dan menjauh. Dia mendengkus singkat dan berjalan lagi tanpa mengindahkan para pelayan yang membungkuk hormat di sisi lorong.

Jika biasanya pria tersebut memamerkan senyum lebar sebagai sambutan, maka sekarang tak tersirat jejak ekspresi ringan di rupa tampannya.

Saat sampai di sebuah pintu ganda emas, dia berucap tanpa nada. "Katakan kepada Baginda Kaisar bahwa aku telah datang." Pangeran Sullivan memberi perintah kepada salah satu penjaga pintu utama ruang tahta.

"Baik, Yang Mulia." 

Kedua penjaga pintu membuka pintu besar sebelum melapor lantang saat pria bermata magenta itu masuk ke dalam. "Hormat bagi Kaisar! Yang Mulia Pangeran Sullivan telah tiba!" 


.


.


.


TBC ...

authormiina
Ichirisa

Creator

#romance #drama #historical #Fantasy #kingdom #Action #royalfamily #Webnovel

Comments (0)

See all
Add a comment

Recommendation for you

  • What Makes a Monster

    Recommendation

    What Makes a Monster

    BL 76.4k likes

  • Arna (GL)

    Recommendation

    Arna (GL)

    Fantasy 5.5k likes

  • Blood Moon

    Recommendation

    Blood Moon

    BL 47.9k likes

  • Earthwitch (The Voidgod Ascendency Book 1)

    Recommendation

    Earthwitch (The Voidgod Ascendency Book 1)

    Fantasy 3k likes

  • The Last Story

    Recommendation

    The Last Story

    GL 46 likes

  • Primalcraft: Sins of Bygone Days

    Recommendation

    Primalcraft: Sins of Bygone Days

    BL 3.3k likes

  • feeling lucky

    Feeling lucky

    Random series you may like

Deadly Darling
Deadly Darling

99 views5 subscribers

Kerajaan Heint telah runtuh akibat invasi dari Kekaisaran Linsberg. Putri Lillianne, satu-satunya anggota keluarga kerajaan yang selamat. Ia bersumpah akan membalaskan dendamnya kepada Kekaisaran Linsberg atas seluruh kejahatan kepada negerinya.

"Ini adalah waktunya balas dendam!"

Story by Ichirisa, Illustrated by Neko Celleng
Subscribe

4 episodes

After Three Years

After Three Years

57 views 1 like 0 comments


Style
More
Like
List
Comment

Prev
Next

Full
Exit
1
0
Prev
Next