Krit berjalan keluar dari club saat fajar baru saja menyingsing malu-malu dari ranjangnya di ufuk timur.
Arlojinya menunjukkan waktu hampir pukul 6 pagi, mendorongnya untuk berjalan malas ke arah stasiun subway terdekat. Bob memang brengsek, demikian isi kepalanya merutuk. Hanya karena tidak menemukan pasangan tidur, Bob seenaknya saja meninggalkannya di sana. Padahal, Bob lah yang menyetir mereka berdua ke tempat itu semalam. beberapa
Untungnya, Bob masih menyuplai butir ‘doping’ untuk teman-teman tidurnya tadi. Tidak untungnya, Krit harus pulang jalan kaki dan naik subway pagi yang berdesak-desakkannya tidak tahu aturan. Untungnya, semalam nafsunya lumayan terpuaskan.
Krit menghela nafas, ya sudahlah, ya.
Pikirannya yang suntuk adalah buah dari perkataan Bob yang hampir menjerumuskannya semalam.
Menarget orang ‘normal’? Sial, sebetul-betulnya perkataan Bob tidak salah juga. Krit menghela nafas lagi. Benaknya yang sempat plong kini digentayangi sesosok yang sudah mengusiknya beberapa hari belakangan.
Kegiatan isengnya naik subway (iya, dia betul-betul sedang berniat menabung demi membeli motor ducati baru) malah berbuah petaka. Beberapa hari belakangan itulah, hatinya tergugah oleh sesosok lelaki culun dengan sebuah kacamata berbingkai tipis berlensa pantat botol. Tergopoh-gopoh membawa buku tebal-tebal, sebuah kamera butut yang bisa jadi demikian karena terlalu sering dipakai, setelan oversized yang membalut, tidak lupa sebuah tindik tersemat di samping daun telinganya yang memberikan kontras yang cukup mencolok.
Nyentrik, lantas Krit jadi gemas bukan main.
Tetapi, pernyataan keras Tanya semalam tentu membuatnya lebih gusar. Beberapa bulan sebenarnya, kejadian yang sama benar terjadi. Pasalnya, seorang gadis habis diajar babak belur hanya karena menjadi ancaman atas transaksi Krit yang kurang berjalan mulus. Kalau saja si gadis tidak mau dibayar uang cuci mulut, mungkin organisasi kecil mereka—demikian dideskripsikan Tanya—akan kocar-kacir dan morat-marit saat itu juga.
Krit menarik selinting tembakau dari sebuah kotak. Pening merambat, saatnya nikotin bertambat.
“Apa jangan-jangan gue punya fetish sama orang-orang normal, ya?” Krit mulai bermonolog sembari menendang-nendang kerikil di hadapannya. Lanjutnya, “Ya, tapi, ‘kan, sebenarnya gue juga orang normal. Anjing,” lalu mengacak-ngacak rambutnya asal.
Tidak dia sadari, dirinya sudah berada dalam beberapa meter saja sebelum hiruk-pikuk stasiun subway di pagi hari. Krit memutar matanya jengah.
Bingo! Sedikit pelipur lara tentunya, lelaki yang dia idam-idamkan diam-diam, hadir di hadapannya. Pagi sekali, Krit agak terheran-heran.
Lelaki itu terlihat sedikit lebih lelah dari biasanya, tetap tergopoh-gopoh tapi sedikit lebih kali ini. Tungkainya berjalan cepat, menerobos kerumunan orang-orang yang mengantri entah untuk apa. Krit tidak ragu-ragu, mengikuti jejak lelaki itu. Penasaran, ada apa gerangan dia di sini sepagi ini?
Tidak disangka-sangka, sekilas mata Krit menangkap sebuah benda yang jatuh dari kantungnya. Krit, yang kenal betul prinsip probabilitas dan keberuntungan, tak ragu memungut kepingan logam bertali emas yang dia sangka adalah milik lelaki menggemaskan itu. Baru saja dia hendak memasuki peron kereta dengan tujuan yang sama dengan lelaki itu—tentu untuk mengembalikan hak miliknya—pintu subway menutup dengan cepat.
Krit, menggenggam kepingan itu di dalam sakunya, lalu menyeringai.
Comments (0)
See all