嫌い (kirai): satu kata yang tegas dan lugas. Sebuah pernyataan kalau "benci" adalah sesuatu yang eksistensial dan tak terpisahkan dalam diri seseorang.
Kalau boleh terus terang, aku tidak pernah menyukai kenyataan kalau aku selalu berada di bawahnya. Selalu, selalu, berada di bawah bayang-bayangnya—dan harus membiarkan kedudukanku dirampas.
Benci—mungkin itulah kata yang tepat untuk mendeskripsikan luapan kemarahanku padanya. Aku membencinya. Aku membenci keharusan menunduk di depannya, berpura-pura rendah ketika kenyataannya tidak begitu.
Tapi tidak dapat dipungkiri juga kalau aku begitu menyukainya–tidak, bisa dikatakan kalau aku sangat memujanya.
Penampilan fisik sempurna yang berpadu dengan kemampuan otak sehebat itu... rasanya kualitas seperti itu hanya dimiliki oleh dirinya seorang.
Lalu sifatnya—kalian tidak perlu bicara apa-apa lagi—dia adalah karakter yang didesain oleh kamisama dengan sebegitu hebatnya. Dia adalah masterpiece, sebuah karya seni yang hidup dan berjalan.
Sempurna. Lagi-lagi hanya kata itu yang bisa kulontarkan. Tak ada malam yang terlewat tanpa membiarkan wajahnya terbayang di otakku. Dia muncul tanpa permisi, dan ketika menghilang, aku mencarinya bagai gila.
Ya, gila. Kegilaan dilematis yang menjembatani perasaan benci dan kagumku. Sebuah abnormalitas yang menarikku ke dua arah yang berbeda, namun menjurus pada satu tujuan yang sama—kegelapan.
Salahkah kalau aku ingin memiliki kesempurnaan itu untuk diriku sendiri?
Salahkah karena aku berusaha begitu keras untuk selalu bersamanya?

Comments (0)
See all