Please note that Tapas no longer supports Internet Explorer.
We recommend upgrading to the latest Microsoft Edge, Google Chrome, or Firefox.
Home
Comics
Novels
Community
Mature
More
Help Discord Forums Newsfeed Contact Merch Shop
Publish
Home
Comics
Novels
Community
Mature
More
Help Discord Forums Newsfeed Contact Merch Shop
__anonymous__
__anonymous__
0
  • Publish
  • Ink shop
  • Redeem code
  • Settings
  • Log out

Journal Sonnya

S1 | Chapter 2 | Sebuah Kenyataan

S1 | Chapter 2 | Sebuah Kenyataan

Nov 26, 2021


Sonnya sudah tidak sabar, sampai mobil parkir di garasi rumah, ia langsung berlari masuk. Ia pergi ke kamarnya, tidak ada apapun, di halaman belakang juga tidak ada apa-apa.  Misteri terpecahkan ketika Sonnya memasuki ruang tamu, ada seorang perempuan yang sedang duduk santai di sofa sambil menonton televisi. Sonnya gemetaran, ia bingung siapakah perempuan itu. Nenek menyusul menuju ruang tamu, “Wahai anakku Asti, tidakkah kamu senang atas kedatangan anakmu?” Tanya nenek lembut. “Hah??? Anak? Aku anaknya..? Lah, beliau…ibuku? Ibu?… sudah beda, deh! Terakhir kali aku bertemu ibu..ketika ulang tahunku yang berumur 2 tahun..” Kata Sonnya dalam hati. Ibu segera bangkit dari sofa dan memeluk Sonnya. “Sonnya…anakku..” Ibu memeluk Sonnya, matanya berkaca-kaca. “Eeee…” Sonnya masih bingung, apa yang sedang terjadi saat itu. “Sonnya, cucuku. Dia adalah Castirine, atau pendeknya Asti. Ialah Ibumu.” Kata Nenek. Sonnya terkejut. Ia diam seribu bahasa. “Ibuku Asti, Castirine?” Gumamnya. Ia merasa bahagia, namun juga khawatir. Yang ia khawatirkan ialah kebebasannya, apakah ibu memiliki sifat yang sama seperti nenek yang membebaskannya? Dan apakah kedatangan ibunya yang menggantikan nenek, pertanda bahwa nenek harus pergi meninggalkannya. Sonnya menarik napas dan memejamkan matanya, ia sadar kalau ini ialah pertemuan ibu dan anak yang sudah sekian lama terpisah, ia mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap positif. “Aku tidak akan mengacaukan momen ini!”. Dalam sejenak ia membalas pelukan ibunya. Ibu menangis, namun Sonnya tidak. Sonnya masih belum mengerti, karena Sonnya masih kecil. Ia belum mengetahui betapa berharganya momen ini ketika suatu saat nanti ibu benar-benar pergi meninggalkannya dan tidak kembali. Didalam pejaman matanya ia berpikir, ia mencoba mengingat-ingat ibunya, setelah 9 tahun tidak berjumpa. “Wajahnya bagai rembulan, Cerah matanya mengalahkan cahaya dari bintang-bintang dilangit, Suara lembutnya bagai angin sepoi-sepoi yang melambaikan pelan sang alang-alang, dan…pelukannya yang lebih hangat daripada teriknya sinar mentari. Ya, ini ialah ibuku, Asti, yang kusayangi.” Seketika Sonnya membuka matanya. Ibu masih memeluknya, setelah beberapa saat, ibu melepaskan pelukannya. Dengan suara lembutnya ia berkata sambil mengusap kepala Sonnya “Oh, anakku Sonnya, Kamu sudah tumbuh besar, sayang. Ibu sangat merindukanmu”. “I-iya” hanya itu yang bisa Sonnya katakan, saat itu ia tidak tahu mau menjawab apa. “Asti, kamu pasti lelah, kan? Istirahatlah dikamar Atas.” Tawar nenek. “Tidak, ibu. Saya tidak lelah, saya ingin menghabiskan waktu dengan Sonnya dahulu” jawab Ibu. “Ayolah, anakku.” Bujuk nenek. Akhirnya ibu menurut, Setelah memeluk Sonnya sekali lagi, ibu pergi ke kamar atas. Setelah ibu pergi, saatnya Sonnya menanyakan seribu pertanyaan yang ada di kepalanya. Sonnya berjalan menuju nenek. Nenek yang melihat Sonnya datang kepadanya mengetahui niat cucunya itu. Bergegas ia pergi menghindari Sonnya. Sonnya bingung, kenapa nenek terus menghindarinya. Sonnya terus mengikuti nenek yang berusaha kabur. Akhirnya nenek masuk ke kamarnya, sedangkan Sonnya masih di depan pintu kamar nenek. Sonnya mengetuk pintu kamar nenek “Tok…” tidak ada jawaban, sekali lagi, “Tok…” masih tidak ada jawaban. Akhirnya dengan muka kecewa ia pergi menjauh dari pintu kamar nenek, entah apa yang dia lakukan setelahnya. Sementara didalam kamar, Nenek mulai  menangis dibalik pintu yang tertutup itu “Maafkan aku, cucuku, Sonnya. Kamu masih terlalu muda untuk mengetahuinya.” Katanya sambil memegang selembar foto tua. “Tok..” ada seseorang mengetuk pintu kamar nenek, ya, ia adalah Sonnya, lagi. Nenek terkejut, ia segera menghapus air matanya dan membuka pintu. “Sonnya, apa yang kamu lakukan disini. Apakah kamu menguping?” Tanya nenek dengan tegas. Sonnya menjawab gemetaran “T-tidak, Nek. Aku hanya ingin erm… membawakan biskuit ini dan segelas susu untuk nenek.” “Baiklah, terimakasih cucuku.” Kata nenek, setelah itu nenek tidak segera menutup pintu, namun memperhatikan Sonnya. Melihat itu,Sonnya langsung menjauh, ia berusaha untuk lari senatural mungkin agar tidak ketahuan kalau ia berbohong bahwa ia tidak menguping. Sebenarnya Sonnya mendengar semua yang dikatakan nenek tadi. Sonnya segera masuk ke kamarnya. “Maafkan aku, cucuku, Sonnya. Kamu masih terlalu muda untuk mengetahuinya.” “Ugh!” Geram Sonnya. “Apa maksud kalimat itu?” “Ada sesuatu yang disembunyikan nenek?” “Maksudnya apa dari semua ini?” semua pertanyaan serupa terus menggema di kepala Sonnya. Lelah memikirkan itu semua, Sonnya tidak sengaja tertidur.

“Maafkan aku, cucuku, Sonnya. Kamu masih terlalu muda untuk mengetahuinya.” “Ugh!” Geram Sonnya. “Apa maksud kalimat itu?” “Ada sesuatu yang disembunyikan nenek?” “Maksudnya apa dari semua ini?” semua pertanyaan serupa terus menggema di kepala Sonnya. Lelah memikirkan itu semua, Sonnya tidak sengaja tertidur.

“Ugh…kepalaku pusing” keluhnya. Ia terbangun, segera ia melihat jam, “Jam 3.30…. Hoahm, aku mau minum dulu, baru cek whatsapp buat cek tugas” kata Sonnya. Sonnya membuka kulkas mini nya. Ia minum segelas air “Glek..glek”. Setelah itu ia menyalakan smartphone nya. “Buka grup ah, Wah 19.873 pesan…ada apa ya? Males ngescroll. Tanya Sekar saja

“Oh…spam” kata Sonnya. “Duh..aku capeek banget hari ini…” Sonnya berbaring melintang di kasurnya, sambil menghembuskan nafas, ia kembali menutup mata, dan jatuh tertidur. “Hari ini adalah hari yang besar”.

custom banner
aroeniahna
unipunipie

Creator

This chapter is kinda short but yEs

#bahasa #Indonesia #journal #Sonnya #Karya #Anak #Bangsa #2

Comments (0)

See all
Add a comment

Recommendation for you

  • What Makes a Monster

    Recommendation

    What Makes a Monster

    BL 76.7k likes

  • Frej Rising

    Recommendation

    Frej Rising

    LGBTQ+ 2.9k likes

  • Primalcraft: Sins of Bygone Days

    Recommendation

    Primalcraft: Sins of Bygone Days

    BL 3.4k likes

  • Silence | book 1

    Recommendation

    Silence | book 1

    LGBTQ+ 27.3k likes

  • Primalcraft: Scourge of the Wolf

    Recommendation

    Primalcraft: Scourge of the Wolf

    BL 7.2k likes

  • Secunda

    Recommendation

    Secunda

    Romance Fantasy 43.4k likes

  • feeling lucky

    Feeling lucky

    Random series you may like

Journal Sonnya
Journal Sonnya

942 views2 subscribers

[Series ini ditulis sebagai tugas teks deskripsi saya ketika kelas 7, jadi mohon maaf jika banyak kesalahan, ya!]

Kehidupan dari Sonnya LaRue, anak kecil kelas 5 SD yang takut dengan dunia yang besar ini, ia merasa kehidupannya sial dan membosankan. Sonnya dengan rasa keingintahuannya yang tinggi berusaha untuk menemukan kenyataan dari asal-usul keluarganya yang masih ditutupi.
Suatu hari.. dia menemui kenyataan yang benar-benar mengubah hidupnya,
“Huft…Pembelajaran hidup yang sangat berarti.” katanya.
Sesuatu apakah itu?
Subscribe

6 episodes

S1 | Chapter 2 | Sebuah Kenyataan

S1 | Chapter 2 | Sebuah Kenyataan

122 views 3 likes 0 comments


Style
More
Like
List
Comment

Prev
Next

Full
Exit
3
0
Prev
Next