“Yey!” Kali ini Sonnya bangun dengan gembira. Hari ini, iya, hari senin, hari yang paling dibenci Sonnya. Sonnya bangun lebih awal, setelah mencuci mukanya ia bergegas mandi, memakai seragam, dan turun ke lantai 1. Ternyata yang ada id meja makan bukanlah nenek, namun ibu. Ibu menyambut kedatangan Sonnya, “Selamat pagi, Sonnya...”. Sonnya menyambut balik. “Selamat pagi, ibu!” Sonnya tersenyum. Ibu juga ikut tersenyum, ibu mengajak Sonnya untuk makan bersama. Setelah selesai makan, Sonnya hanya tinggal menunggu nenek untuk siap mengantarkannya.
Nenek keluar dari kamar, tanda sudah siap. “Selamat pagi Sonnya. Wah, cucuku bangun pagi” sindir nenek pada Sonnya. Sonnya membalasnya dengan tertawa kecil. Nenek mengantarkan Sonnya kesekolah, Disana ia melihat fira yang sudah datang duluan. “FIRA!!! YEY!!!” Sorak Sonnya. “Ohh, heyy!” Fira menjawab. Setelah Sonnya menaruh tasnya, ia mampir ke meja Fira. “Hey Fir, kamu gimana kabarnya?” Tanya Sonnya. Fira tidak menjawab, Sonnya mengulangi pertanyaannya, kali ini dengan suara yang lebih keras “Fir..kamu gimana kabarnya?...” masih tidak ada jawaban. “FIERRRR, kamu mikirin apa astaga...”. Lamunan Fira buyar, duh maaf tadi
aku ngelamun. “Waduh tanda-tanda nih” kata Sonnya. “Tau aja kamu, hahaha” jawab Fira. “OOOH...GARA-GARA SI ANAK BARU YAA...” tebak Sonnya. Fira menjawab “Ya...begitulah”. “BTW Jangan keras-keras kek dia ada di belakang tu lo, liat gak?” Bisik Fira pada Sonnya. “OH, LAH LAH DALAH GAK LIAT” Jawab Sonnya malu. “Yok kenalan, ayolah Fir aku lakukan ini untukmu lho” ajak Sonnya bangga, “Astaga...erm...oke oke”
Mereka berdua mengampiri meja Leo. “Halo, selamat pagi” sambut Sonnya. Leo menjawab “Oh, Hello, selamat pagi juga”. Begitu mendengar suara Leo, muka Fira memerah. Sonnya berbisik pada Fira, “FIRRR KENDALIKAN FIRR, JANGAN MLEYOT”. Setelah itu, mereka mulai berkenalan, nama lengkap Leo memang sungguh susah bagi mereka. Pulang sekolah, mereka sepakat untuk bermain bersama dirumah Sonnya.
Mereka sampai di rumah Sonnya, setelah itu Sonnya mengenalkan Leo dan Fira ke ibu. “Ibu, ini temanku, Leo dan Fira.” Kata Sonnya. Ibu menyambut mereka dengan hangat, “Oiya, selamat datang semuanya...” Setelah itu, mereka masuk ke kamar Sonnya, mereka bermain banyak permainan, seperti catur, dan lainnya. Namun Fira tidak bisa bermain catur, sehingga yang bisa main ialah hanya Leo dan Sonnya. Saat Sonnya dan Leo sedang bermain catur, Fira yang kesepian karena hanya menyimak berkata “Jangan main catur, yuk” . “Sebentar, ini dah mau selesai, juga” balas Sonnya. Fira merengut.
Jam menunjukkan angka 2, “Sudah mau sore, aku izin pulang, ya” Kata Leo tiba-tiba. “Ow, okay...” jawab Fira. Segera setelah Leo meninggalkan kamar Sonnya Fira mendorong pelan Sonnya “Son, kamu tahu kan, gimana perasaanku sekarang?” Nada Fira mengancam. “E..iya?” Jawab Sonnya, “Jangan kamu kayak gitu lagi.” Segera setelah berkata seperti itu, Fira langsung pergi. Awalnya Sonnya tidak mengerti, apa yang dimaksud Fira. Maksudnya, Sonnya tahu kalau Fira..., tapi kenapa harus sampai seperti ini? Dalam hatinya Sonnya membayangkan apabila suatu saat nanti persahabatannya runtuh dikarenakan seorang anak laki-laki, Sonnya tidak ingin itu terjadi. Tapi bagaimana caranya untuk sekaligus menjaga hati sahabatnya itu yang mudah pecah? “Aku tidak bisa dengan begitu saja menghindari atau mendiamkan Leo, karena dia itu juga temanku” kata Sonnya dalam hati. Sekarang Sonnya mengerti apa yang dimaksud Fira, Sekarang yang hanya ia lakukan ialah menentukan, apakah ia ingin berpihak pada Leo, atau Fira.
Hari demi hari berlalu, terasa hubungan Sonnya dengan Fira semakin menjauh sejak kejadian itu. Fira suka menjawab pesan Sonnya terlambat padahal selalu online, Fira jarang menjawab ketika diajak berbicara, Fira. Suka menghindari Sonnya meskipun pada waktuistirahatnya, dan lainnya. Sonnya tidak bisa membiarkan ini, ia berencana untuk bertindak sebelum terlambat, akhirnya ia membujuk Fira untuk pergi bersamanya untuk suatu rekreasi kecil, dengan umpan kalau Leo juga akan datang, dan tentu saja Sonnya juga harus membujuk Leo untuk ikut karena ia tidak mungkin membohongi sahabatnya sendiri.
Malam sebelum rekreasi kecil itu, Sonnya sangatlah khawatir, takut jika terjadi sesuatu yang buruk kepada mereka, ia juga takut kalau ternyata tindakan ini sudah terlambat, atau tidak mempan. Mereka semua ternyata setuju untuk akan bertemu jam 8 nanti untuk dipickup. Sebelum jam 8, Leo dan Fira sudah datang ”Ternyata mereka tepat waktu” kata Sonnya kecil.
Tujuan rekreasi Sonnya ialah Danau, karena ia ingin tempat yang tenang, untuk mereka.
Mereka menuju ke sana diantarkan oleh nenek, semua berjalan seperti biasanya, mereka bermain kejar-kejaran, makan bersama, kecuali Fira, yang dari tadi diam. Fira daiajak berbicara dengan Sonnya tidak mau, sepertinya sama saja. Kemudian, Sonnya memutuskan untuk meminta maaf. Lagi-lagi, tidak ada jawaban. Sonnya sangatlah sedih. Sementara itu, Leo tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dua gadis itu. Ia penasaran, namun sepertinya tidak baik menanyakan sesuatu disuasana yang berhubungan dengan saat ini. Piknik kecil itu ternyata tidak berhasil, rencana Sonnya, semuanya, gagal. Pada akhirnya Sonnya memutuskan untuk mengakhiri piknik lebih awal. Sonnya mengubungi nenek
“Nenek, tolong jemput kami di tempat piknik tadi ya, nek”
“Iya, ini dijalan” Jawab nenek beberapa saat kemudian.
Sonnya menunggu kedatangan nenek, ia juga mengabari Leo dan Fira untuk berkemas
karena nenek mereka ada di jalan untuk menjemput mereka. Satu jam berlalu, dan nenek juga belum datang, Sonnya kembali memasang muka kesal. Mereka menunggu sejam lagi, namun nenek juga belum datang, akhirnya ia memutuskan untuk menelepon nenek, “Tuuuut...” , Sonnya menelepon nenek, namun, aneh, telponnya tidak diangkat. Ia menelepon lagi....tetap tidak diangkat. Sekarang Sonnya sangat khawatir. Tiba-tiba ia mendapat telpon, dari Ibu? Ia mengangkat telponnya, terdengar suara ibu yang sangat resah. “Ada apa, bu?” Tanya Sonnya. “Sonnya...nenekmu, meninggal, anak”. “Apa? Ibu jangan begitu dong, nenek barusan ku chat tad- “ belum Sonnya mengeselesaikan kalimatnya, ibu memotong. “Nak, Nenekmu meninggal. Kecelakaan. Cepat pulangkan temanmu, dan kembali. Ibu pesankan ojek online.” Kata Ibu singkat. Seketika semua yang ada di sana terkejut, mereka semua terdiam. Segera setelah itu, ojek yang dimaksud ibu datang, Leo dan Fira langsung menuju ojek itu karena mereka dengar apa yang ada di telepon tadi, mereka semua masuk, dan perjalanan pulang dimulai. Sonnya sengaja set volumenya ke full volume sehingga ia bisa menghindari kesalahpahaman. Pada titik ini, Sonnya lari dari masalahnya, ia ingin menyeselesaikannya, namun dalam hatinya berat, ia belum siap.
“Sudah dengan masalah persahabatan, sekarang nenek meninggal, aku sial sekali...” kata Sonnya dalam hati. Sambil menunduk, ia mencoba untuk menahan tangisnya keluar.
