“Sudah dua tahun, sejak aku kehilangan sahabatku, Fira. Dan juga sudah 2 tahun, sejak
aku kehilangan nenek. Rasanya aku tidak bisa, membiarkan nenek pergi.” Kata Sonnya pada dirinya sendiri. Di minggu pagi itu, dengan suasana hujan rintik-rintik, Sonnya ingin menangis, ia sangat merindukan kehidupan lamanya, yang penuh dengan keceriaan, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri “Kenapa ini semua terjadi padaku?” “Kenapa aku anak sial?”. Hujan semakin deras, begitu juga air mata yang jatuh di pipi Sonnya. Sejak kejadian itu, Sonnya sudah tidak lagi bersemangat di sekolah, ia merasa diperlakukan tidak adil oleh Tuhan. Di sekolah ia suka menyendiri, di pelajaran istirahat suka menangis, dan suka menghilang kemana-mana. Leo sudah ia tinggalkan, ia sudah tidak kuat lagi, ingin lepas dari apa yang memerlukan interaksi sosial. Tiba-tiba, Sonnya mendapatkan pesan dari Fira. Sonnya terkejut kegirangan “HAH, FIRA!” Ia cepat-cepat membuka pesan itu,
“Maaf ya, Sonnya atas kelakuanku selama ini, hari ini, aku nginep dirumahmu semalam, ya? Tapi kali ini tanpa Leo aja”
Sonnya sangat senang, ia maju satu langkah menuju kedamaian. Sonnya langsung menjawab “Oke, aku juga minta maaf” setelah itu, pesan Sonnya hanya dibaca, pembicaraan berhenti.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara ketukan di pintu. “Tok.tok..” rupanya Fira yang datang. Sonnya sangat senang, ia menyambut Fira hingga kekamarnya, mereka mulai memngobrol, dan mereka sepertinya kembali akrab. Segera setelah itu, Sonnya menjelaskan tentang misteri foto nenek, dan...perkataan nenek pada waktu itu, yang sangat ia benci. Fira terkejut mendengarnya, ia menyuruh Sonnya untuk masuk ke kamar nenek, dan mengambil foto itu. Akhirnya, Sonnya menuruti perintah Fira, ia kembali ke kamar nenek, dan mengambil Foto itu. Sementara Sonnya mengambil Foto, Fira berjaga diluar kamar, tiba-tiba ia berkata “ Oh, ambil juga kalung yang ada botolnya berisi kayak debu itu, yang ada di sampingmu.”. “oke” jawab Sonnya sungkat. Setelah mengambil foto dan kalung, ia lari keluar kamar Nenek. Mereka kembali ke kamar Sonnya bersamaan. “Boleh aku melihat kalung itu?” Tanya Fira. “O-oke” jawab Sonnya dengan santai. Sonnya memberikan kalung itu pada Fira, tiba-tiba, Fira menjatuhkan kalung itu, debu yang ada didalam botol itu berhamburan kemana-mana “ADUH, TIDAK SENGAJA, maafkan aku son” katanya. Tiba-tiba, ada portal hitam terbuka, Fira tersedot kedalamnya “TOLONG AKU, SONNNYAA, AAA” Jerit Fira. Belum sempat menangkap Fira, Portal itu menghilang, dengan Fira didalamnya. Sonnya sangatlah panik “OH TIDAK, KEMANA PERGINYA IA?” Tanpa basa basi, ia langsung menelepon Leo, dan beruntungnya telponnya Leo angkat. “Ada apa?”Tanya Leo dalam telepon. “Fira menghilang!” Jeritnya. Akhirnya Sonnya memberitahukan semuanya pada Leo. “Gawat, itu...sihir Howard..., sihir yang kuat!” Kata Leo. “Hah, sihir? Mana ada, btw kamu sihir-sihir ini athu dari mana? Nonton film?” Sindir Sonnya. “Percayalah padaku, Son. Aku lulusan Magic Academy.” Leo meyakinkan Sonnya. Sonnya berkata. “Tidak ada waktu untuk bercanda, apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanya Sonnya panik. “Aku bisa membuktikannya” kata Leo. Tiba-tiba, Leo berteleportasi ke samping Sonnya. “ASTAGA! Ternyata itu nyata?!” Sonnya terkejut. “Sudah kubilang...“ kata Leo tiba-tiba. “Oke, jadi, itu dia pake sihir Howard, kita harus ke orang yang pintar sihir Mathew, untuk memecahkannya.” Jelas Leo. “Eh, jelasin dulu apa maksudnya” kata Sonnya bingung. “Jadi, Fira masuk ke dunia lain, jadi kalung itu sebenarnya kalung yang berisi roh yang terperangkap, dan dilihat kalau Fira tersedot, berarti roh itu marah, dan mengirim Fira ke dunia Darkwood, kita harus kesana dengan orang yang pintar sihir Mathew, untuk ngeluarin Fira dari situ” Jelas Leo. “Ooh..begitu, t-tapi terus itu debu rohnya siapa?” Sonnya ketakutan. “Aku kurang tahu, Tapi, ayo kita cari Fira dahulu. Aku tahu, orang yang pintar sihir Mathew, si kembar Adwaniel Wellington dan Ajwad Wellington! Kuantarkan kesana sekarang!” Mereka terteleportasi ke dalam suatu kubah yang gelap, namun juga memiliki aura yang mistis. Sonnya dan Leo bertanya soal masalah yang menimpa mereka, Adwa menjawab sambil membuka buku sihirnya“Oh, sihir Mathew...”. Ajwa mengikuti dibelakang “Sihir itu lumayan susah, kami baru mempelajarinya. tapi...kami memiliki kakak yang sudah lulus test sihir itu.”. “Kak..” panggil Adwa. “Iya?” Si kakak datang. Si kakak melangkahkan kakinya, pertama kali melihatnya, Sonnya langsung kagum dengan keanggunannya. Ternyata, namanya ialah Millicent Viance, rupanya ia adalah kakak tiri Adwa Ajwa. Adwa dan Ajwa memberitahukan semuanya pada Kak Millie. Segera setelah itu, Kak Millie bertanya, “Kamu yakin? Oh iya, aku tidak bisa membantumu masuk kesana, karena portal ini akan tertutup nantinya”. Sonnya awalnya terdiam, namun karena ini untuk sahabatnya, ia mengangguk “Yakin!” Kata Sonnya. Beberapa saat kemudian, Kak Millie mengucapkan mantranya “Yoyoyoyoyo” katanya. Sonnya merasa aneh, karena ternyata ritual sihir itu tidak seseram yang di film-film. Seketika muncul portal hitam,
terlihat sangat gelap . Sonnya takut, ia melihat kearah Leo, Leo mengangguk, memantapkan hati Sonnya.
Mereka memasuki portal, setelah beberapa detik, mereka terteleportasi, dunia itu gelap, banyak pohon, seperti di hutan. Tiba-tiba ia mendengar suara tertawa “HAHAHAHA”. “Siapa itu?” Pikir Sonnya. Leo menggandeng tangan Sonnya, mengajaknya untuk bersembunyi. “AHAHAHA, KALIAN TIDAK BISA BERSEMBUNYI” kata suara misterius itu. “TUNJUKKAN DIRIMU!” Kata Leo. “BAIKLAH...” Tiba-tiba, muncul monster hantu besar didepan mereka. “AAA” Sonnya berteriak. “Siapa kamu? Kembalikan Fira! Dimana kamu menyembunyikannya.” Leo mencoba berbicara baik-baik pada monster hantu itu. “Hahaha” monster hantu tertawa kecil sambil menunduk. “Aku, FIRA!” Kata monster hantu. “Hah, BOHONG!” Sahut Sonnya. “Ini, aku Son,” tiba-tiba Monster hantu itu berubah menjadi Fira. “Hah? Fira!’ Sonnya berlari kearah Monster hantu itu. “Sonnya, jangan!” Teriak Leo. Terlambat, jarak Sonnya sudah dekat dengan Monster hantu. Monster hantu melempar Sonnya, untungnya Leo mengaktifkan sihir pelindung pada Sonnya, karena Sonnya manusia biasa, ia tidak sesakti Leo. Setelah Sonnya mendarat ditanah dengan selamat, ia berpikir, “kenapa? Apakah dia benar-benar Fira?”. Sonnya berdiri, “Siapa kamu! Jelaskan!” Bentak Sonnya. “Oh, kamu masih tidak mengerti, aku Fira, ya, Fira, mantan sahabatmu! Kamu tidak tahu, bagaimana menderitanya aku? Kamu tau gak sih, nilaimu sangat bagus, dan aku, hanya dibelakangmu! Lagipula, kamu selalu menghalangiku! Kamu orang yang perfect, baik, dan aku, sahabatmu yang selalu berada dibelakangmu apa ini, hah?! Ck...Selama ini aku cuma nggunain kamu, buat membuka portal ke darkwood forest ini, dunia yang gelap, dan memancingmu kemari, UNTUK MELENYAPKANMU. Tch, Kukira hanya sendiri yang datang, rupanya Leo juga datang. Kalau kamu enggak tau, sejak 2 tahun yang lalu, aku belajar dark magic untuk menjebakmu ini. SETIAP SAAT, KAMU SELALU MERUSAK PERASAANKU, ORANGTUAKU SELALU MEMBANDINGKANKU DENGAN KAMU, AKU SUDAH TIDAK TAHAN LAGI!”. Segera setelah mendengar itu, Sonnya menunduk, ia menangis, Segera setelah mendengar itu, Sonnya menunduk, tidak tahu kenapa, tetapi ia menangis, ia merasa, persahabatannya dengan Fira, selama ini sia-sia, apa yang ia lakukan, semua momen berharga dengan fira, dalam hidupnya, itu semua sebenarnya tidak berarti, karena sebenarnya Fira tidak menyayanginya kembali, tidak seperti yang ia lakukan. Kenyatannya, Fira menghianatinya. “Oh, tidak, Sonnya, jangan!’ Leo berteriak. Segera setelah itu, kembar Adwa Ajwa, Luna, Danar, Ame, dan Athila masuk lewat portal. “Teman-teman!” Teriak Leo menyambut kedatangan mereka. “Oh, hahaha jadi kamu membawa teman?” Kata Monster Hantu. Dengan mudahnya Monster Hantu melempar mereka. Monster hantu yang besar itu menggengam Sonnya yang dari tadi terpungkur menangis. Sonnya sadar bahwa dirinya dalam bahaya, ia mengusap air matanya segera lari, namun tubuh Monster Hantu yang besar dapat dengan mudah menangkap Sonnya “Aa...Fira! Lepaskan aku,” Jerit Sonnya, “akh, uhuk-uhuk”. Fira tersenyum kecil, ia menghadap ke Leo dan teman- temannya dan berkata, “Temanmu ini,” ia menggenggam kepalannya lebih erat dan lebih erat, “Fira, kamu...jangan lakukan ini, Fira! F-fira...” lirih Sonnya.“Sonnya, Tidak!” Leo berteriak sambil menangis. Teman-teman yang lain berusaha menahan Leo. Sekarang yang ada di kepalan tangan Monster Hantu ialah debu-debu roh, Monster Hantu menjatuhkan debu itu dengan santainya. Leo menggunakan sihirnya untuk menangkap debu-debu itu, karena tidak hanya sekedar debu, ia adalah debu roh yang berisi sahabatnya, Sonnya. Leo sudah tidak tahan lagi, ia berdiri. “Monster itu sangat kuat, kita tidak akan bisa melawannya dengan kekuatan fisik!’ Kata Danar panik. “Fira, lihat dirimu sekarang. Apa yang kamu lakukan?”. Monster Hantu terdiam, “Aku...”, katanya bingung. “F-fira....”, “Jangan...” Tiba-tiba kalimat itu menggema dikepalanya, ia muerasa pusing, “AKU..aku...” Katanya lagi kebingungan. Ia mulai menyadari, perlahan-lahan
matanya berkaca-kaca. Leo memetik setangkai bunga hitam, “Ini..untukmu” kata Leo. Monster hantu terdiam, ia menangis, dan saat mata airnya jatuh menyentuh tanah dunia itu, seketika ia menghilang, dan berubah menjadi wujud Fira aslinya. Leo meminta kawan-kawannya untuk menemukan kalung itu, tersembunyi di dunia ini. Karena walaupun satu kalung itu pecah, sesungguhnya ada dua, masing masing ada di dua dunia yang berbeda, yang pertama dunia manusia, dan dunia Darkwood ini. Beberapa saat, teman-teman kembali, Luna yang menjadi perwakilan mengantarkan kalung itu kepada Leo, dengan hati-hati, ia mencoba untuk mengembalikan roh itu. Setelah roh itu diselesaikan oleh Leo, kalung itu menyala. Seketika munculah Sonnya, namun dalam keadaan pingsan. Leo segera menangkap Sonnya. Beberapa lama, Sonnya siuman, dan Leo menceritakan semuanya. Setelah mendengar cerita Leo, Sonnya berlari kearah Fira, waktu itu wujudnya masih dalam Roh, dan tampak lemas menunduk, di tanah, walaupun Fira telah melakukan ini padanya, Sonnya tetap menyayanginya. Ia berlari kearah Fira, dan memeluk Fira dari belakang, seketika Fira berubah menjadi wujud manusia kembali. Fira menangis, mereka berpelukan. “M-Maafkan aku” katanya. “Tidak apa-apa, walaupun kamu menjadi monster sekalipun, kamu tetap sahabatku Fira yang kusayangi.” Kata Sonnya. Sambil mata yang berkaca-kaca kemudian Fira berkata, “Sonnya, kamu sangat beruntung, jangan katakan kalau kehidupanmu sial dan membosankan. Walaupun ada tantangan didepan sana, kamu kuat.” Jelas Fira menyemangati. “Iya, aku akan berusaha, terimakasih. Aku juga minta ma-”. “Gruduk Gruduk” terdengar suara benturan keras. “Kita harus segera meninggalkan dunia ini, karena inti dari dunia ini, atau si “Fira” sudah dikalahkan, maka dunia ini kehilangan kekuatannya. Kita harus segera pergi sebelum kita terjebak didunia ini!” Jerit Naifa. Mereka bersamaan berlari kearah portal, dan mereka bebas.
Sonnya masih terkejut, kalau ternyata beberapa teman kelasnya juga penyihir cilik, ia masih penasaran dengan beberapa hal ajaib yang barusan menimpanya, dan tentang misteri foto yang belum terpecahkan, namun ia menyimpan rasa penasarannya terlebih dahulu untuk saat itu. “Entah kenapa, Aku merasa....Fira mirip dengan nenek.” Pikir Sonnya.
Sejak kejadian itu, Sonnya bertekad untuk menjadi lebih positif, terhadap menjalani hidup- hidupnya, karena ia tahu, ada anak yang kurang beruntung darinya, diluar sana, dan yang paling penting...
Sonnya mengingat ingat kembali momen tadi,
Tuk tuk tuk.., terdengar suara langkah kaki cepat. Rupanya ialah Sonnya yang mengejar Fira dari belakang, ia mengejar Fira yang menuju pintu keluar rumahnya, saat itu Fira hendak pulang.
“Fira, tunggu!..Huft...” Panggil Sonnya sambil ngos-ngosan.
“Ya?” Jawabnya sambil menengok ke belakang.
“Hehehe, petualangan tadi sangat menyenangkan, tapi, um...kita...masih bersahabat, kan?” Tanya Sonnya sambil menunduk.
“....”
Fira meluruskan pandangannya
“Tentu saja, Sahabat untuk selama-lamanya!” Jawabnya sambil tersenyum.
Selesai.
