Aku berusaha. Aku ‘tlah berusaha melupakan masa lalu kita. Kukatakan, yang aku ingat hanya diriku, itu bohong.
Tak bisa, menatap diriku sendiri di cermin, menerima kenyataan bahwa kita ‘tlah berpisah.
“Kalaupun kamu maya, kenapa, harus terasa sangat nyata?” pikirku, aku yang baru membuka mataku, masih terbaring di ranjang biru, aku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Masih, aku termenung, saat tiba-tiba nona berambut hitam pendek, berpakaian serba putih dan rapi menepuk bahuku lembut, menyadarkanku dari lamunanku.
Nona itu sangat cantik.
Nona yang tidak kukenal itu berkata, “Kak Sorra sudah sadar?!....” Aku masih termenung. Ya, pikiranku masih seperti benang kusut, aku tidak bisa… berpikir. Bibir ini bergetar, mengeluarkan kata-kata dengan suara yang kecil, lirih. “S-siapa? Sadar..?”, kataku, bertanya-tanya. Pertanyaanku masih belum terjawab, bahkan, aku terheran melihat nona itu terlihat panik dan segera keluar meninggalkanku.
“?..”
Kepalaku sakit.
“Aku..dimana?”, Sadarlah aku perlahan-lahan. Aku mulai mempertanyakan segala hal.
“Aku-..ini…” Cahaya lampu yang memancarkan terang membutakan mataku sekejap.
“AHH!” Aku berteriak karena mataku rasanya seperti terbakar.
Ketika aku mulai berteriak, nona yang cantik tadi tiba-tiba kembali ke aku. Dia meredupkan lampunya, tapi, aneh. Nona ini kembali ke kamarku membawa dua orang. Aku tidak kenal sama sekali. Ada dua orang perempuan. Mereka langsung memelukku. Aku mendorong diri mereka menjauh dari diriku.
“Kalian siapa?!...jangan pegang-pegang!” Kataku sambil berteriak ketakutan.
Aku tidak mengerti,
Ketika mereka berdua mulai menangis.
Oh…
Apakah..aku terlalu kasar?
Mereka menunduk, sampai akhirnya jatuh pada kaki mereka. Yang satu menangis terisak-isak, sedangkan yang satunya…seperti ada dendam ke aku. Yang itu kedua matanya berair, tetapi ekspresinya marah?
..Aku tidak tahu.
“Sorra?...Kamu tidak ingat mama?”
“Ini mama, Sorra, Yang ini, kakakmu, Suya.” kata wanita itu, sambil menggoncangkan pelan tubuhku. Wanita itu menangis sampai terisak-isak.
Siapa? aku..takut dengan wanita ini.
“Aku Sonnya. Bukan Sorra!” aku membantah wanita itu.
“Kamu Sorra, anakku.” Wanita itu mengusap matanya, ia membuka dompet coklatnya dan menunjukkan potret polaroid jadul. Wanita itu menunjukkan foto seorang anak kecil yang merayakan ulang tahunnya yang ke 4.
Aku melihat refleksiku di cermin yang ada didepanku,
“Anak kecil ini…aku akui mirip denganku..” kataku, seolah membenarkan wanita itu.
Terkejut, ketika melihat nama yang dituliskan di atas kue ulangtahun yang dipegang anak kecil itu. “Sorra”, itu namanya. “S-O-R-R-A.”
Hatiku terasa berat, entah darimana, aku merasa bahwa ini benar adanya.
“T-tidak! Lalu…Sonnya?!...
Aku kan, Sonnya ..!” Aku berteriak panik.
“Sonnya bukannya boneka favorit kamu dulu, ya? Itu boneka rambut cokelat, kamu kasih nama Sonnya. Lalu kamu kasih nama sahabatnya, si gajah, Fira. Udah 15 tahun kamu koma, Mama masih ingat, nak.”
Aku tak bisa berkata-kata. Aku sangat terkejut ketika mendengar perkataan wanita itu.
….
Jadi, Sonnya,... selama ini tidak nyata?
Atau..
Sonnya pernah ada.
Mungkin, dia pernah ada, cuma pergi (?).
Sama seperti yang dulu akrab,
Pernah akrab, pernah dekat, nyaman, menjadi rumah
Ternyata, hanya kesenangan sementara
Ketika ada yang lebih, maka, tega aku ditinggalkannya.
Tapi, terimakasih sudah singgah.
Aku kan melanjutkan hidupku,
Walaupun mengulang semuanya dari awal..

Comments (0)
See all