Malam hari di sebuah apartemen di daerah Cipete, sebuah berita tentangtewasnya Iwan Kusuma akibat dibunuh pelaku misterius terpampang di televisi dan juga media sosial. Tentu hal ini membuat Marco, suami dari Diana menjadi sangat khawatir karena istrinya adalah seorang detektif kepolisian dan bisa saja, istrinya menjadi sasaran sang pembunuh misterius itu.
Disaat sedang panik-paniknya, ada yang mengetuk pintu apartemen. Marco yang berjaga-jaga karena ia baru saja melihat berita mengerikan di televisi, namun suara dibalik pintu itu mengatakan :
“Ini aku beb.....”, dengan suara lelah seolah habis melalui hari yang melelahkan.
Marco mengetahui kalau itu suara istrinya Diana, namun ia memeriksa kembali lewat lobang pintu untuk memastikan bahwa itu istrinya dan bukan orang yang berniat jahat kepadanya. Saat sudah melihat lubang kunci dan itu adalah Diana, Marco membukakan pintu dan mereka saling berpelukan dengan erat penuh kerinduan bak mereka sudah terpisah sangat lama. Hal ini wajar karena Diana sering pulang ketika sudah larut malam atau menginap di kantor karena pekerjaan, dan kini Diana pulang lebih cepat dari biasanya.
Diana langsung duduk di sofa ruang keluarga dengan suaminya untuk melepas penat dengan kesibukan kasus yang ia sedang kerjakan. Untuk membuka pembicaraan, Marco menanyakan bagaimana pekerjaan istrinya tadi, Diana menceritakan betapa rumitnya kasus yang sedang ia kerjakan, bahwa ada seorang pembunuh yang senang meninggalkan jejak berupa pisau berukiran sayap burung dan bulu burung berwarna hitam, Diana berpendapat kalau itu adalah ulah dari seorang psikopat gila, namun Marco berpendapat bahwa ini bisa saja ulah dari kelompok sekte atau vigilante, karena semenjak kematian Budi karena bunuh diri akibat dibungkam oleh orang-orang “berduit”, muncul orang-orang yang menjadi seorang vigilante untuk menegakan keadilan dengan cara mereka sendiri. Kalau untuk dugaan sekte sendiri, Marco pernah mendengar rumor tentang sekte bernama “Anak-anak kebenaran” yang banyak dikaitkan dengan hewan-hewan burung sebagai persembahan ritual mereka atau simbol mereka.
Setelah memberi masukan-masukan pada Diana, Marco ingin menyudahi obrolan mengenai pekerjaan Diana dan ingin mengatakan sesuatu pada Diana, Marco menyarankan istrinya itu untuk berhenti dari kepolisian karena resiko bahaya yang akan datang pada istrinya sangatlah besar. Diana yang sudah memahami kekhawatiran suaminya sejak dulu itu tidak marah sama sekali, Diana mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja, yang ia perlukan hanyalah support dari suaminya. Marco yang kecewa dengan jawaban Diana yang tidak sesuai dengan keinginannya, ia ingin sekali melarang Diana untuk tidak menjadi seorang detektif, namun dia tidak ingin istrinya sedih karena tidak bisa membayar hutangnya pada Budi. Marco sangat takut sekali kehilangan Diana, bahkan ketakutan ini terlihat ketika sedang ia memeluk istrinya ketika tidur. Pelukan dari Marco ini membuat Diana menjadi merasa bersalah karena sering membuat suaminya khawatir karena banyak bahaya yang ia hadapi.
Keesokan paginya, Diana bergegas berangkat ke kantor dan pergi keruangan atasanya untuk mengajukan cuti bulanan nya, sebenarnya ia tak yakin apakah atasan nya ingin memberikan cuti padanya. Karena melihat Diana adalah seorang pekerja keras dan juga kinerja Diana yang juga sangat baik, atasan nya itu pun memberikan jatah cuti bulanan yaitu satu hari. Diana amat sangat senang dengan keputusan dari atasan nya itu, karena ia setidaknya bisa meluangkan waktu bersama suaminya.
Satu hari cuti itu, ia manfaatkan untuk meluangkan waktu bersama Marco suaminya, hari itu mereka jalani dengan kebahagiaan, keceriaan tampak diwajah pasangan muda itu. Mereka memanfaatkan momen itu untuk berkencan layaknya orang sedang kasmaran satu sama lain, mereka mengunjungi tempat
yang belum mereka pernah kunjungi untuk berkencan, tak lupa mereka berbelanja untuk kebutuhan saat sudah mau pulang kerumah.
Disaat beres belanja dari supermarket dan Marco sedang ke toilet, Diana melihat orang mencurigakan sedang mengikutinya dari awal mereka masuk ke mall itu. Awalnya Diana tidak menghiraukan, karena bisa saja orang itu kebetulan memiliki arah yang sama dengan nya. Namun semakin lama orang itu terlihat benar-benar sendang menguntit ia dan suaminya, Diana memiliki ide untuk mengecoh dengan berpura-pura pergi ke sebuah lorong pendek yang disitu ia bisa bersembunyi lalu menangkap nya. Disaat penguntit itu hendak menghampiri lorong itu, Diana langsung menangkap penguntit itu dan menanyakan mengapa orang itu menguntit dirinya. Belum sempat mendapatkan jawaban, sang penguntit itu memukul wajah Diana lalu kabur. Diana yang tak ingin membiarkan orang itu lolos begitu saja, langsung mengejar balik orang itu.
Kejar-kejaran terjadi di dalam mall itu, diantara mereka saling berlari, yang satu untuk menghindar dan yang satu untuk menangkap. Sang penguntit melakukan segala cara untuk memperlambat langkah Diana, bahkan sampai merusak barang dagangan orang pun menjadi korban. Namun pada akhirnya Diana berhasil menangkap penguntit itu tepat di tempat parkir. Sang penguntit yang sudah merasa kesal mulai melayangkan serangan pada Diana, sehingga perkelahian sengit pun terjadi, mereka saling melayangkan serangan demi serangan. Hingga pada akhirnya Diana berhasil membuat sang penguntit kewalahan, Diana yang sudah melihat penguntit itu kewalahan langsung menarik kerah pakaian dan membuka penutup muka sang penguntit lalu menanyakan mengapa sang penguntit ini melakukan hal ini. Sang penguntit hanya mengucapkan :
“Dia mencarimu!”, dengan napas terengah-engah.
Diana yang merasa dipermainkan, memukul orang itu dan menanyakan apa maksud dari perkataan orang itu. Orang itu hanya menjawab :
“Dia mencarimu!”, secara berulang-ulang.
Tentu hal ini membuat Diana bingung dengan sang penguntit itu.
Tak lama kemudian, terdapat peluru melesat mengenai kepala sang penguntit dan membuat orang itu tewas ditempat, hal itu membuat Diana bingung dan mencari keberadaan sang penembak jitu. Tak lama kemudian, sebuah peluru melesat dari belakang dan menggores lengan kanan dari Diana. Sungguh misterius sang penembak jitu.
Beberapa lama kemudian area tempat parkir itu dipenuhi garis polisi dan menjadi TKP dan Diana juga ada disana, ia melihat Marco dari kejauhan, ia melihat tatapan suaminya yang campur aduk, ada sedih, khawatir, marah dan kecewa. Setelah Diana menghampiri Marco dan meminta maaf karena sudah membuat suaminya itu khawatir, namun Marco yang sudah terlanjur kecewa karena Diana mendatangi bahaya diluar tugasnya, mengacuhkan istrinya yang sedang meminta maaf dengan dirinya. Diana memohon-mohon maaf dan meminta pengertian dari suaminya itu sampai mereka berdua sampai kerumah mereka. Marco yang sudah geram dengan Diana yang memohon-mohon maaf darinya, langsung mengeluarkan semua kekesalan nya pada istrinya dan pekerjaan istrinya. Marco yang sedang dikendalikan kemarahan nya juga mengatakan :
“Yang kamu perjuangin itu cuman mayat yang gabakal bisa ngehargain kamu!”, dengan nada yang tinggi.
Mendengar perkataan itu, Diana menjadi sangat marah dan menampar Marco, Diana merasa selama ini usaha nya tidak dihargai sama sekali. Diana yang sudah terlanjur marah meninggalkan Marco dan mulai masuk ke kamar tidur. Marco yang merasa bersalah karena telah menyakiti istrinya berusaha memohon maaf karena memperturutkan api di hatinya. Alhasil Marco terpaksa tidur di sofa.
Keesokan harinya Diana yang datang ke kantor dengan keadaan muka yang masam, ia masih tidak menyangka suaminya bisa berkata seperti itu padanya. Saat sudah duduk di mejanya, Hatma menghampiri Diana yang mood nya sedang tidak enak itu. Hatma yang sudah mengetahui junior nya sedang ada masalah dengan suaminya, berbagi roti bakarnya dengan Diana dengan tujuan menghibur junior nya itu. Diana yang diberi roti bakar untuk sarapan nya itu, sedikit membuat mood nya membaik. Hatma juga sedikit memberi advice pada Diana. Setelah Hatma melihat Diana bisa diajak kerjasama, Hatma memberikan informasi mengenai kepolisian yang kini meningkatkan penjagaan karena sang pembunuh berhasil membunuh Iwan Kusuma.

Comments (0)
See all