Suasana semakin rumit dan runyam, media-media telah memberitakan serangkaian pembunuhan yang diduga besar pelakunya adalah pelaku yang membunuh Dodi Hartanto. Banyak spekulasi yang beredar di masyarakat kalau pelaku adalah seorang vigilante yang identitasnya tidak diketahui yang sudah muak dengan ke korupan sang anggota dewan, ada yang mengatakan sang pelaku adalah seorang pembunuh yang dibayar seseorang untuk membunuh target dan menebarkan teror, juga ada yang mengatakan sang pembunuh adalah monster burung yang mengerikan, karena terdapat bulu burung pada korban yang ia bunuh dan pelaku bisa saja mengukir pisau buatanya sendiri.
Kepolisian kini mengadakan meeting yang akan membahas mengenai pembunuhan dan teror dari sang pelaku pembunuhan yang sangat misterius. Banyak yang menduga kalau ini adalah ulah seorang vigilante ekstrim yang menilai pemerintahan sekarang adalah pemerintahan yang korup, karena maraknya orang-orang yang menjadi sosok vigilante. Namun, Diana mempunyai pendapat yang lain, dari hasil analisanya, sang pelaku kemungkinan besar adalah seorang psikopat dengan latar belakang pembunuh bayaran elit yang sangat handal. Hal ini bisa terbukti dari pisau yang dimiliki pelaku terbuat dari “Syranium” yang merupakan salah satu besi terkuat dan terlangka di dunia. Namun, kesimpulan Diana ditentang oleh cukup banyak anggota kepolisian karena untuk apa pembunuh bayaran mahal mau menerima pekerjaan dengan menakut-nakuti orang dengan cara yang konyol seperti ini. Namun Hatma mengingatkan bahwa ini bisa jadi masalah serius jika kita masih berleha-leha. Pimpinan kepolisian yang sebenarnya menganggap apa yang disampaikan Diana itu sedikit tidak masuk akal, pada akhirnya tetap memerintahkan pengusutan karena khawatir jika kepolisian namanya tercoreng jika si pembunuh tidak diusut.
Pagi, siang, malam, para kepolisian terus melakukan investigasi dan penangkapan pada orang-orang yang diduga sebagai pelaku atau yang terkait dengan sang pelaku. Hari demi hari mereka jalani dengan menangkap dan menginterogasi orang. Namun pelaku masih belum ketahuan juga atau baunya belum tercium juga. Beberapa dari mereka mulai menganggap Diana dan orang-orang yang sependapat dengan nya ada benarnya. Mereka yang awalnya tidak yakin dengan pendapat Diana, mulai meyakini pendapatnya dikarenakan beberapa alasan dan motif-motif lainya.
Sampai di suatu malam, ketika itu mereka sedang dalam misi mengawasi kota dengan dua cara. Diana dan salah satu anggota kepolisian bernama Dede menjadi agen lapangan yang menyamar menjadi masyarakat, sementara Hatma bersama dua anggota kepolisian Kevin dan Naryo menjadi agen dibelakang komputer yang mengawasi kota melalui drone. Diana, Dede, Hatma, Kevin dan Naryo terus mencari dan menunggu sosok pelaku pembunuhan itu, namun tak juga mereka batang hidung dari pelaku itu muncul. Mereka penasaran seperti apa sosok dari pelaku pembunuhan ini. Ada rumor yang mengatakan pelaku adalah kesatria berjubah hitam layaknya karakter-karakter di komik pahlawan super, ada juga yang mengatakan pelaku berwujud seperti monster yang amat sangat menyeramkan, layaknya makhluk mitologi-mitologi di kebudayaan masa lalu. Mereka terus menjadikan rumor-rumor itu sebagai sebuah kemungkinan dari tampak rupa sang pelaku.
Sampai pada akhirnya, ada sebuah penampakan sosok bertudung dan berkostum ksatria dengan elemen burung pada kostumnya, tampak dari drone sedang berdiri di atas gedung di daerah Jakarta Pusat seolah sedang mengamati dan mengawasi kota.
Mengetahui informasi yang disampaikan oleh Hatma dan tim dibelakang layar, Diana dan Dede segera menuju gedung dan rooftop tempat sang sosok bertudung itu berdiri. Sesampainya di rooftop gedung itu, sang sosok bertudung itu masih berdiri dengan keadaan tidak tegang sama sekali, Diana dan Dede yang mengira sosok itu adalah pelaku, menyerang dan tidak mendengarkan perkataan dari sosok itu yang sebenarnya mencoba untuk menyampaikan sesuatu, serangan demi serangan mereka terus keluarkan, namun sosok bertudung itu berhasil mengungguli kemampuan bertarung mereka, seolah sosok ini memiliki kemampuan beladiri di atas manusia pada umumnya.
Saat Diana dan Dede sudah kewalahan, sosok itu memperkenalkan dirinya yaitu “Zirah Elang” dan mereka bertiga memiliki target yang sama sekarang. Diana tak pecaya karena pisau berukiran sayap burung dan bulu itu sangat melekat dengan hewan burung. Namun, Zirah Elang menjelaskan kalau dia tidak memiliki pisau dan bulu burung yang Diana maksud, ia juga menjelaskan bahwa misinya adalah melindungi kota dari tindakan kejahatan. Zirah Elang menawarkan sebuah kerjasama untuk menangkap pelaku dan jika para kepolisian ingin bekerjasama temui ia di rooftop ini malam pukul 20.15 WIB. Sang Zirah Elang pun pergi meninggalkan Diana dan Dede dengan cara terjun dan gliding menggunakan jubahnya dan menghilang dibalik gedung-gedung. Tentu saja Diana tidak begitu percaya dengan ucapan sang Zirah Elang itu.
Sesampainya di kantor, para anggota kepolisian rapat mengenai apa yang baru saja dialami oleh Diana dan Dede yang bertemu dengan sosok Zirah Elang. Diantara mereka terbagi dua pendapat, ada yang meyakini bahwa Zirah Elang sebenarnya adalah dalang dari setiap pembunuhan-pembunuhan yang terjadi kemarin karena mengaitkan antara pisau dan motif dari kostum Zirah Elang, sementara kubu lain justru memandang sosok Zirah Elang ini sebagai orang yang baik yang sedang ingin menawarkan bantuan, karena track record Zirah Elang yang tak pernah membunuh dan tak pernah menyerang petugas penegak hukum tanpa sebab dari awal kemuculannya. Untuk mengatasi itu, Hatma memiliki rencana agar Polisi tetap membuat pertemuan dengan Sang Zirah Elang di rooftop gedung tadi, namun kepolisian harus memiliki rencana kontigensi untuk mengatasi Zirah Elang jika ternyata dia adalah pelakunya, pengkhianat atau memberontak.
Keesokan harinya pada malam hari pukul 20.15 WIB di rooftop gedung yang sama, Diana ditemani beberapa rekan polisinya sudah berada di tempat itu menunggu kehadiran sang Zirah Elang. Tak lama kemudian Zirah Elang muncul di hadapan mereka yang ternyata sebenarnya ia sudah memperhatikan mereka semua. Diana setuju untuk kerjasama dengan sang Zirah Elang untuk mencari sang pelaku yang masih berkeliaran, namun dengan syarat Zirah Elang tak boleh bertindak semena-mena dan tidak boleh mengacau pada misi ini, Diana juga mengancam Zirah Elang jika vigilante itu mengacau maka ia dan para polisi tak segan-segan melumpuhkan sang Zirah Elang itu, Diana berani berkata seperti itu karena kini Diana membawa beberapa personil kepolisian yang kemampuan bertarung menyamai sang Zirah Elang. Sang Zirah Elang setuju dengan syarat-syarat yang dimiliki sang detektif itu dan mau bekerjasama dengan kepolisian.

Comments (0)
See all