Please note that Tapas no longer supports Internet Explorer.
We recommend upgrading to the latest Microsoft Edge, Google Chrome, or Firefox.
Home
Comics
Novels
Community
Mature
More
Help Discord Forums Newsfeed Contact Merch Shop
Publish
Home
Comics
Novels
Community
Mature
More
Help Discord Forums Newsfeed Contact Merch Shop
__anonymous__
__anonymous__
0
  • Publish
  • Ink shop
  • Redeem code
  • Settings
  • Log out

Kesatria

Pengkhianatan

Pengkhianatan

Jun 11, 2025

This content is intended for mature audiences for the following reasons.

  • •  Physical violence
Cancel Continue

 Lima hari setelah kejadian di klub malam Dionysus dan serangkaian pembantaian yang terus Gagak Hitam lakukan setelah kejadian di Dionysus, Kepolisian kini berusaha untuk memperbaiki keamanan dengan cara melakukan penjagaan dimana-mana. Hal ini dilakukan agar sang pelaku Gagak Hitam mempersempit ruang geraknya untuk melakukan aksi-aksi kejahatan berikutnya. Akibat kejadian ini banyak masyarakat yang melakukan aksi demo di depan kantor kepolisian untuk menuntut kepolisian menangkap sang Gagak Hitam yang telah menebar teror di tengah masyarakat.

 Ditengah situasi yang sedang tegang ini, Diana tetap bekerja demi bisa menangkap dan mengungkap siapa identitas dibalik sosok Gagak Hitam atau siapa yang membayar Gagak Hitam, ia mulai dari menyelidiki benda yang umum dibandingkan pisau berukiran sayap burung yang bentuknya aneh dan susah dikenali. Diana memutuskan memulai menyelidiki jenis peluru yang menembak orang yang menguntitnya kala itu dan yang menggores lengannya, saat dilihat dan diamati secara teliti, jenis peluru itu cocok dengan sebuah senjata tembakan dual canggih bernama “DG-01” yang biasanya hanya dimiliki oleh kepolisian dan militer.


Diana memiliki kesimpulan, bahwa ada pengkhianat di dalam kepolisian atau senjata ini telah tersebar di pasar gelap.

 Hatma yang menghampiri Diana yang sedang meneliti peluru yang telah membunuh penguntit misterius dan yang melukai junior nya itu. Hatma menanyakan bagaimana hasil dari penyelidikan dari peluru yang sedang diteliti pada junior nya itu. Diana mengatakan bahwa peluru ini cocok dengan sebuah tembakan dual bernama DG-01 yang pada umumnya hanya dimiliki oleh instansi pemerintahan seperti kepolisian dan juga militer, sehingga Diana berkesimpulan bahwa ada pengkhianat diantara mereka semua. Namun, Hatma berpendapat kalau senjata seperti itu juga sudah umum dijual di pasar gelap dan bisa saja pelaku hanyalah kriminal biasa yang mendapatkan senjata itu dari pasar gelap. Hatma juga menambahkan bahwa pembunuh yang memiliki senjata DG-01 ini hanyalah kriminal biasa yang memanfaatkan teror dari Gagak Hitam. Diana yang merasa masih membutuhkan penyelidikan lebih lanjut, memutuskan untuk menginvestigasi lebih lanjut. Namun Hatma mengatakan tidak perlu melakukan investigasi lebih lanjut, tanpa alasan yang jelas.

 Malam hari nya di suasana yang cukup sepi di kantor "Netnesia", Marco yang merupakan pegawai dari perusahaan itu hendak beranjak dari meja kerjanya untuk pulang karena sudah menyelesaikan semua pekerjaan lemburnya dan hendak menuju lift. Sesampainya di depan lift, ia tak langsung memasuki lift karena ia harus menunggu lift itu terlebih dahulu. Disaat menunggu, Marco membuka berita melalui smartphone nya dan melihat berita tentang demo di kantor kepolisian akibat kepanikan masyarakat tentang sosok Gagak Hitam. Hal ini tentu membuat Marco menjadi risau, karena semakin chaos nya suasana di sekitarnya, ia juga membayangkan betapa dalam bahaya istrinya yang merupakan seorang anggota kepolisian dan ditugaskan untuk menangkap sosok pembunuh itu. Namun, Marco berusaha untuk tidak terlalu berfokus pada kekhawatiran nya dengan menarik napas secara perlahan. Sesampainya lift itu dan terbuka pintu lift itu, Marco melihat sosok yang tak asing bagi dirinya.

 Diana yang kala itu masih di kantor, hendak menghubungi Marco namun tak diangkat juga oleh Marco berkali-kali, padahal ia tau jam pulang lembur suaminya. Diana sempat berpikir, apakah Marco masih kesal karena semenjak konflik kemarin, mereka relatif diam dan berkomunikasi hanya seperlunya saja. Tentu hal ini membuat Diana merasa bersalah karena telah membentak dan mencaci-maki suaminya itu. Saat Diana sudah pulang dan sampai di apartemennya, Diana yang mencoba memanggil-manggil Marco tak kunjung mendapat jawaban, mencoba mencari Marco di apartemennya. Saat sedang menuju ke kamar tidur untuk mencari Marco, Diana melihat tulisan “Ini sudah waktunya ”dan dibawah tulisan itu terdapat alamat “Jl Jenggala II no 10”. Diana yang melihat tulisan itu, merasa kini suaminya sedang dalam bahaya, yang bisa saja ini adalah permainan dari Gagak Hitam. Tak lama kemudian, sang Zirah Elang muncul dibelakang Diana yang tentu saja membuatnya terkejut hingga hampir menembak sang vigilante itu. Sang Zirah Elang menawarkan sebuah bantuan untuk mencari dan melindungi Diana beserta suaminya. Diana yang merasa tak punya pilihan untuk menghadapi semua ini, menyetujui tawaran dari Zirah Elang untuk membantunya menemukan suaminya. Mereka pun menyusun rencana untuk menyelamatkan Marco.

 Sesampainya di lokasi yang tertera, Diana tak melihat kalau tempat itu adalah sebuah tempat terbengkalai seperti lokasi penculikan di film-film, melainkan sebuah rumah yang terawat seperti ada yang menghuni dan merawat rumah tersebut. Diana memasuki rumah itu dan melihat Marco yang sedang tidak sadarkan diri duduk dalam keadaan terikat di sebuah kursi di ruang makan. Diana yang melihat itu mencoba menyadarkan suaminya itu dengan segala cara yang ia mampu. Tak lama setelah itu, suaminya bangun dari pingsannya dalam keadaan bingung ia sedang dimana. Diana mencoba menanyakan apa yang terjadi pada suaminya, namun Marco tak begitu ingat apa yang terjadi sebelumnya. Tak lama setelah itu, terdengar suara Hatma berkata :

  “Akhirnya lu dateng juga, Diana.”, sambil berjalan menampakan dirinya dihadapan junior nya itu. 

Diana terkejut karena ia tak menyangka kalau senior sekaligus teman baiknya itu tega melakukan hal itu pada dirinya. Namun, Hatma mengakui kalau dia adalah dalang dibalik sebagian kejahatan yang telah terjadi dengan alasan bahwa ia melakukan ini semua untuk kebaikan semua orang yang telah ditindas oleh penegak hukum yang sudah terjadi selama bertahun-tahun. Hatma juga mengatakan :

  “Dia menunggumu….”, yang tentu saja perkataan nya itu tidak dipahami oleh junior nya itu. 

Diana langsung memanggil skuad kepolisian untuk berjaga-jaga jika ada penyerangan, skuad polisi pun tiba dan langsung memerintahkan detektif senior itu untuk menyerahkan diri, Juga Zirah Elang pun tiba untuk membantu kepolisian. Hatma tertawa seraya berkata :

  “Kalian semua bakal binasa nanti”, sambil menunjuk semua orang yang hendak menangkapnya.

Hatma merasa semua ini lucu karena baginya yang akan datang nanti tak sebanding dengan yang akan datang nanti.

 Hatma pun kini tangan nya diborgol karena telah dinyatakan bersalah atas tindakan-tindakan kriminal yang ia lakukan, namun semua itu tak membuatnya merasa bersalah sedikitpun karena ini adalah hal yang benar baginya. Hatma yang sudah terborgol itu memberontak dan menghampiri Diana dengan berkata :

  “Ada sesuatu buat lu, yang bakal lu butuhin.”, sambil tersenyum kemudian ditarik paksa oleh beberapa polisi untuk diamankan. 

Diana bingung dengan apa yang dimaksud Hatma, begitupun juga dengan Marco yang bertanya apa maksud dari perkataan dari mantan detektif itu. Zirah Elang menduga itu adalah sebuah barang yang Diana akan perlukan.

 Diana dan Marco pulang kerumah dengan perasaan yang bercampur aduk, ada rasa takut, marah, kecewa, namun juga ada rasa lega karena pada akhirnya mereka bisa kembali pulang ke apartemen mereka dengan selamat. Saat setelah mereka berdua membersihkan diri dan hendak untuk tidur. Marco menemukan sebuah box hitam bertuliskan “Pelabuhan Tanjung Priuk, 120330” yang cukup berat yang isinya tidak diketahui. Melihat hal itu Diana mengetahui maksud dibalik tulisan itu, kemungkinan ini pesan dari Hatma untuk bertemu Gagak Hitam di Tanjung priuk tanggal 12 Maret tahun 2030. Saat Diana membuka isi box itu, terdapat sebuah kostum tempur berjubah beserta helm pelindung yang sepertinya ditujukan untuk bertarung dengan Gagak Hitam. Marco sempat melarang untuk Diana tidak bertarung melawan sang Gagak Hitam, karena bisa saja Gagak Hitam akan membunuh Diana dan Marco tak mau kehilangan istri yang sangat ia cintai itu. Namun Diana berkata :

  “Banyak nyawa yang jadi taruhan, dan…. Doain aku yang baik-baik aja, sayang”, sambil mengusap wajah suaminya itu dan melihat isi yang ada di dalam kotak itu.


duniakesatria3
Dunia Kesatria

Creator

Comments (0)

See all
Add a comment

Recommendation for you

  • Blood Moon

    Recommendation

    Blood Moon

    BL 47.7k likes

  • Silence | book 2

    Recommendation

    Silence | book 2

    LGBTQ+ 32.3k likes

  • What Makes a Monster

    Recommendation

    What Makes a Monster

    BL 75.4k likes

  • Invisible Boy

    Recommendation

    Invisible Boy

    LGBTQ+ 11.5k likes

  • Touch

    Recommendation

    Touch

    BL 15.5k likes

  • The Last Story

    Recommendation

    The Last Story

    GL 46 likes

  • feeling lucky

    Feeling lucky

    Random series you may like

Kesatria
Kesatria

45 views0 subscribers

Seorang detektif kepolisian bernama Diana, sedang menangani serangkaian kasus pembunuhan yang ternyata ada hubungannya dengan kasus kematian sahabatnya 14 tahun lalu.
Subscribe

7 episodes

Pengkhianatan

Pengkhianatan

5 views 0 likes 0 comments


Style
More
Like
List
Comment

Prev
Next

Full
Exit
0
0
Prev
Next