Siang hari, di Institut Kesehatan Batavia atau IKB. Dr Fay sedang memberikan kuliah tentang kesehatan jiwa pada mahasiswanya, karena dia sedang menjadi dosen tamu yang diundang oleh IKB saat itu. Saat sudah selesai memberikan kuliah dan keadaan ruangan kelas sudah sepi, Munculah Gagak Hitam dihadapan Dr Fay. Tentu saja, akibat kemunculan Gagak Hitam ini yang tiba-tiba, membuat Dr Fay terkejut dan spontan memukul Gagak Hitam. Namun, Gagak Hitam bisa menangkis dan meminta Dr Fay untuk tetap tenang karena ia tak bermaksud untuk menyakiti Dr Fay. Gagak Hitam pun melepas mask yang menutupi seluruh kepalanya itu untuk memberi tahu siapa dirinya. Dr Fay pun terkejut ketika melihat siapa dibalik sosok mask itu, karena ternyata dibalik sosok Gagak Hitam itu adalah Budiman Nataprawira atau Budi yang kini wajahnya dalam keadaan setengah terbakar. Dr Fay tak menyangka bahwa Gagak Hitam adalah mantan pasien nya dahulu yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.
Mereka berpelukan untuk melepas rindu karena sudah tidak bertemu selama 14 tahun lamanya. Kemudian Dr Fay menanyakan apa yang terjadi pada luka bakar di wajahnya. Budi menjawab bahwa lukanya ini ia dapatkan pada saat menjalani pekerjaan nya sebagai seorang assassin. Dr Fay yang merasa penderitaan Budi sudah sangat berat, berusaha untuk mengajak Budi untuk menghentikan semua ini dengan berkata :
“Pulanglah nak….ayo kita pulang……”, sambil mengusap kepala Budi.
“Udah terlambat….aku ga bisa pulang….”, jawabnya dengan berlinang air mata.
Budi juga mengatakan bahwa ia harus melakukan apa yang seharusnya ia lakukan sejak dahulu dan meminta Dr Fay tidak menghalanginya sebelum ia menghilang menggunakan “Flash bomb” yang menyilaukan mata Dr Fay.
Setelah mengetahui secara langsung siapa orang dibalik sosok Gagak Hitam, Dr Fay menelpon Diana untuk bertemu karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan mengenai Gagak Hitam. Sesampainya di apartemen Diana, mereka membicarakan perihal Gagak Hitam dan kasus-kasus yang berkaitan dengan Gagak Hitam ditemani secangkir teh hangat. Setelah mengobrol cukup lama dan melihat waktu yang pas, Dr Fay mengungkapkan siapa sosok dibalik Gagak Hitam yang merupakan Budi kepada Diana. Tentu saja, Diana dan Marco yang mendengarnya, terkejut dan tidak mempercayai apa yang dikatakan mantan psikiater dari Budi itu. Namun, Dr Fay mengungkapkan bahwa Gagak Hitam lah yang menunjukan wajah dibalik mask nya pada dirinya secara langsung. Dari apa yang disampaikan Dr Fay tadi, Diana teringat dengan kasus kehilangan mayat dari seseorang bernama Robert Ananta, yang memiliki fisik yang sangat identik dengan Budiman Nataprawira atau Budi. Dari sini, Diana berkesimpulan bahwa Gagak Hitam atau Budi sengaja memalsukan kematiannya. Setelah semua yang diceritakan Dr Fay mengenai Gagak Hitam, Diana sadar bahwa ketidakadilan bisa memberikan malapetaka pada banyak orang. Hal-hal itu menjadikan alasan Diana menjadi kuat untuk menghentikan Budi. Namun, sebelum itu, ia berniat untuk bertemu dengan Hatma yang kini mendekam dipenjara akibat kasus pembunuhan dan keterlibatan nya dengan Gagak Hitam.
Sesampainya di penjara, ia mengunjungi Hatma yang kala itu sedang membaca buku. Hatma menyambut Diana dengan sangat baik layaknya seorang sahabat. Namun Diana yang kecewa, bersikap sedikit cuek dan langsung menanyakan tentang box hitam yang tidak diketahui siapa pengirimnya. Hatma menjawab bahwa ia yang mengirimnya untuk mempersiapkan pertemuan junior nya dengan sosok Gagak Hitam. Diana bertanya mengapa Hatma mau bekerjasama dengan dengan Gagak Hitam seorang pembunuh. Hatma menjawab bahwa sistem negara ini sudah korup dan menurutnya, hukum di negara ini sedang sekarat. Tentu hal ini membuat Hatma menjadi frustasi, sampai datanglah Gagak Hitam pada dirinya yang menawarkan sesuatu yang ia inginkan, yaitu terbuka matanya orang-orang tentang keadilan yang harus ditegakan, sekalipun dengan cara yang salah. Mendengar penjelasan dari Hatma mengenai frustasinya akan hukum di negeri ini, Diana sebenarnya merasa iba dengan senior nya itu, karena sebenarnya di kantor, Hatma adalah polisi yang berbeda dari polisi kebanyakan. Diana yang merasa speechless dengan semua penjelasan senior nya itu, memutuskan untuk meninggalkan Hatma dari ruang kunjungan. Sebelum Diana benar-benar pergi, Hatma menyarankan Diana untuk keluar dari kepolisian, karena baginya tak ada lagi yang bisa diselamatkan.
Saat sedang mencari udara segar sambil melihat-lihat suasana kota di rooftop tempat Diana bertemu pertama kali dengan Zirah Elang. Sosok vigilante itu menghampiri Diana dan menanyakan apakah ada perlu dengannya. Diana menjawab bahwa dia hanya sedang bersantai sebelum ia harus bertarung melawan sang Gagak Hitam. Mendengar hal itu, Zirah Elang menawarkan sebuah bantuan untuk melawan Gagak Hitam bersama. Namun, Diana menolak tawaran itu karena sekarang ini adalah masalah ia dengan Gagak Hitam, terlebih Diana sekarang sudah mengetahui orang dibalik sosok Gagak Hitam. Zirah Elang yang merasa Diana tak akan sanggup melawan Gagak Hitam sendiri, memberikan alat komunikasi darurat jikalau kehadiran Zirah Elang dibutuhkan. Juga, Sosok vigilante elang itupun memberikan Diana sebuah senjata yaitu retractable sword yang kemungkinan besar Diana membutuhkan senjata ini. Melihat itu, Diana mengambil dua benda itu dan berterima kasih pada Zirah Elang karena sudah mau membantunya.
Malam hari, Sesampainya di pelabuhan tanjung priuk di bagian pelabuhan yang gelap dan tak terjamah oleh keramaian, Diana dengan kostum tempur dari box yang ia dapatkan, sedang menunggu kehadiran dari Gagak Hitam dalam keadaan fisik yang siap dan kuat karena telah melatih fisiknya untuk momen ini. Gagak Hitam pun muncul dari kegelapan tanpa sepatah kata. Diana berkata :
“Gw tau siapa orang dibalik mask itu…. Dan gw pengen dia tau kalau dia ga sendiri…. Dia punya gw, Marco, Dr Fay….”, dengan lirih.
“Dia sudah mati.....”, sahutnya dengan dingin dan mengerikan akibat voice changer pada mask nya.
“Maaf jika melakukan apa yang harus dilakukan“ pada Gagak Hitam dengan keadaan siap untuk memulai sebuah pertarungan dan Gagak Hitam pun menerima ajakan bertarung dari Diana itu.
Pertarungan sengit antara Diana dan Gagak Hitam pun terjadi, mereka saling melontarkan serangan dan menangkis serangan. Di pertarungan ini terlihat sebenarnya Gagak Hitam jauh lebih unggul dibandingkan Diana, namun Gagak Hitam ingin menyesuaikan kadar bertarungnya dengan lawannya ini agar lebih adil.
Diana sempat kewalahan karena baginya setiap serangan yang dikeluarkan oleh Gagak Hitam terlalu cepat, bahkan Diana berusaha lama untuk mencari peluang untuk menyerang Gagak Hitam. Namun Diana bisa membalikan keadaan dan kini ia yang menguasai pertarungan. Diana bisa membuat Gagak Hitam kewalahan, bahkan bisa merusak mask nya Gagak Hitam dengan sebuah tendangan sehingga terlihat dibalik mask itu adalah Budi yang sudah kewalahan.
Diana melihat bagian wajah Budi yang memiliki luka bakar sambil memanggil
“Budi…..”, dengan lirih.
“Budi sudah tiada, hanya Gagak Hitam......”, jawab Budi dengan penuh kesedihan serta penderitaan
Diana yang melihat dan mendengar Budi menjawab itu meminta maaf sambil berlinang air mata karena pada saat itu ia tak bisa berbuat apa-apa, dan kini teman nya itu harus menjadi sebatang kara. Namun, Budi tak menyalahkan Diana sama sekali, ia hanya menyalahkan orang yang telah mempermainkan hukum dan ia tak akan berhenti menebar teror pada orang-orang yang berdosa. Diana memohon agar Budi menghentikan terornya dengan mengatakan bahwa ia akan menjadi seorang penegak hukum yang akan menegakan hukum dengan caranya sendiri, ia juga memohon agar Budi menghentikan terornya karena apa yang barusan ia katakan adalah sebuah janji ia pada teman lamanya yang kini menjadi sosok Gagak Hitam. Budi yang merasa fisiknya sudah kewalahan dan melihat kesungguhan dari Diana, memutuskan untuk mundur dan mengakui kalau Diana adalah petarung yang hebat dan layak. Mereka berdua pun berjabat tangan untuk mengakhiri pertarungan ini dan Budi berpesan
“Tegakan Keadilan.”, dengan tersenyum pada Diana.
Sesampainya di apartemen, Marco bahagia melihat istrinya kembali pulang dengan selamat walaupun terluka sedikit. Melihat Diana terdapat luka, Marco langsung bergegas mengobatinya sambil membicarakan pertarungan tadi. Marco tak menyangka bahwa ia melihat wajah Budi yang telah terbakar lewat contact lens yang ia berikan pada istrinya sebelum bertarung. Diana menjawab bahwa orang bisa saja bertindak gila dan niat kalau ada penyebabnya. Diana juga mengatakan maka dari itu kita harus bertindak yang baik dan adil untuk mencegah hal-hal itu terjadi. Marco setuju dengan apa yang dikatakan Diana dan memuji istrinya itu karena telah banyak belajar dari kejadian-kejadian yang ia alami. Marco juga menanyakan apa rencana Diana kedepan, apakah Diana akan tetap menjadi detektif kepolisian atau menjadi seorang vigilante berkostum. Diana hanya tersenyum.
Keesokan harinya di pagi hari, Diana ke kantor dan keruangan atasan nya untuk mengajukan pengunduran dirinya dari kepolisian, saat hendak ditanya alasan mengapa Diana ingin mengundurkan diri dari kepolisian, Diana hanya menjawab alasan yang ia buat-buat saja dan menyimpan alasan yang sebenarnya di dalam hatinya. Dan pada malam harinya, Diana sudah bersiap memakai kostumnya, contact lens, alat komunikasi agar bisa berkomunikasi dengan Marco yang membantu dari segi IT, senjata retractable sword nya dan helm nya yang kini ada tulisan “K” yang di tambahkan sendiri. Tulisan “K” sengaja Diana tambahkan sebagai inisial dari “Kesatria”, seorang vigilante yang akan memberantas segala tindak kejahatan dan menegakan keadilan dengan caranya sendiri.

Comments (0)
See all