Please note that Tapas no longer supports Internet Explorer.
We recommend upgrading to the latest Microsoft Edge, Google Chrome, or Firefox.
Home
Comics
Novels
Community
Mature
More
Help Discord Forums Newsfeed Contact Merch Shop
Publish
Home
Comics
Novels
Community
Mature
More
Help Discord Forums Newsfeed Contact Merch Shop
__anonymous__
__anonymous__
0
  • Publish
  • Ink shop
  • Redeem code
  • Settings
  • Log out

EXREA

A Creature Called Human — 5

A Creature Called Human — 5

Jun 28, 2025

Kembali ke waktu saat ini, bel sekolah telah berbunyi, menunjukkan waktu jam pelajaran pertama hampir dimulai. Terkecuali untuk kelas 3-5, dimana pelajaran jam pertama hingga jam ketiga merupakan mata pelajaran sejarah, sedangkan guru yang biasa mengajar mereka seharusnya diganti untuk sementara karena sedang libur, dan kelas tak pernah sunyi ketika guru belum hadir.


Terutama, ketika kelas tersebut merupakan kelas dimana satu murid terlihat lebih mencolok karena keangkuhannya saat berinteraksi dengan kedua teman bangku kanan-kirinya, kedua kakinya berada diatas meja, suara yang terdengar lebih keras saat bergurau, mengabaikan presensi murid di depannya yang punggung kursinya kotor disebabkan oleh sepatunya.


Rambutnya pirang, perawakannya yang terlihat lebih tinggi untuk remaja seumurannya, sekilas akan terlihat lebih mengintimidasi, itu ada benarnya, apabila saat mereka mengetahui dia berasal dari keluarga mana.


Ketika pintu kelas dibuka, suasana yang ricuh perlahan mereda, hampir semuanya menghening, bahkan murid yang paling berisik tadinya juga terdiam, saat melihat sesosok yang masuk kelas mereka. Bisik-bisik seperti, eh siapa itu bapak tampan? Guru baru kita? Dia terlihat muda sekali–dan masih banyak lagi. ‘Bapak’ yang dimaksud merupakan pria berkacamata berkulit gelap yang datang menggunakan mobil pagi hari ini. Ia berhenti di mejanya, kemudian mengambil sebatang kapur untuk menulis namanya dalam tulisan Isolon. Terlihat beberapa murid kebingungan saat berusaha membacanya, merasa tak familiar mengingat mereka saat ini berada di negara Vrisga–tentu saja, huruf yang digunakan juga berbeda.


“Selamat pagi, saya merupakan guru pengganti sementara guru sejarah kalian.” Yata-garasu–yang saat ini telah menuliskan namanya dengan Yamato Kotaro, mengetuk ujung kapur ke tulisannya, “apakah kalian tahu bagaimana membacanya?”


Was wes wos–seperti gemuruh kecil, ada yang memilih untuk diam, ada yang berusaha membuka buku pelajaran mereka, ada juga yang membuka kamus, terlihat berusaha mencari cara bagaimana membaca tulisan dari negara lain itu. Namun, satu murid tampak sengaja angkat bicara–tanpa mengangkat tangannya, murid berambut pirang dan kaki yang masih diatas meja tadi.


“Pak guru, tulisannya kuno sekali, memangnya bapak orang dari jaman baheula? Hahaha!”


Tadinya kelas yang bergemuruh, justru menghening, hanya terisi oleh gelak tawa mengejek dari murid dan teman-teman bangku kanan kirinya. Saat Yata-garasu melihat sebagian besar respon murid satu kelas terkecuali tiga murid tadi, mereka terlihat enggan untuk sekedar menimpali, apalagi menghentikan. Kesunyian yang terasa berat dan mencekat.


Dari perilaku yang seenaknya tanpa memberikan rasa hormat terhadap guru, Yata-garasu dapat menyimpulkan bahwa murid ini merupakan target mereka. Dari foto dan informasi yang mereka dapatkan, Yata-garasu telah mengingat seluruh nama dan wajah di sekolah ini, sehingga ia yakin bila wajah murid ini sesuai dengan fotonya. Bagaimana bisa ia melakukan hal tersebut dengan mudah? Pertanyaan itu akan terjawab suatu saat nanti.


Tak mengherankan bila guru sejarah sebelumnya mengambil cuti, gumam Yata-garasu dalam batin. Sang guru tak akan bisa menghadapinya, itulah sebabnya ia berlaku seenaknya seperti saat ini.


Akan tetapi, Yata-garasu tidak seperti guru sebelumnya. Seorang guru memiliki pekerjaan yang mulia, mengajarkan murid bukanlah hal yang mudah. Bila murid tidak memiliki keinginan untuk menjadi lebih baik, sudah sewajarnya untuk membantu ke jalan yang benar.


Sebatang kapur yang berada di tangannya melayang, terlempar dengan gerakan jari-jarinya secara minimal, melesat dan presisi mengenai dahi murid berambut pirang itu. Lantas, murid satu kelas serempak menolehkan kepala mereka, menganga, kala menyaksikan murid itu terdorong jatuh ke belakang. Hampir, hampir salah satu murid menyelipkan tawa saat ia mati-matian menahannya, seketika batal saat melihat ekspresi Yata-garasu yang serius. Keseriusan yang terpancar dengan mimik wajah tanpa adanya senyuman, melainkan hanya tatapan, bisa terasa mencekam seperti ini? 




“OUGH!! Sialan–Sakit banget bangsat!!”


Tak cukup terjatuh karena terkena sentilan kapur, murid itu mengumpat, hendak bangkit dengan wajah memerah seperti tomat–malu, ia telah jatuh sedemikian rupa.


Suara dari hak sepatu Yata-garasu terdengar membalas perlahan, menggema seisi ruangan, berjalan mendekati bangku si pirang. Ketika ia berhenti tepat di depannya, yang mana si pirang belum sepenuhnya bangkit dari kursinya yang ikut jatuh saat ia terkena kapur tadi, sang murid terpaku, menyadari bahwa Yata-garasu telah begitu dekat dengannya.


“... Aksara, bahasa, merupakan penemuan bersejarah yang memiliki andil dimana sosial dapat dilakukan diantara dua jenis entitas, menghasilkan sebuah komunikasi untuk membangun peradaban tanpa perlu menggunakan cara konservatif–yakni, kekerasan.”


Yata-garasu mengambil kapur yang tergeletak di dekat sang murid.


“Zaman dahulu, ketika entitas masih banyak yang hidup di hutan belantara, aksara dan bahasa bukanlah hal yang menjadi pilihan utama–sebab, yang terkuatlah akan memakan yang lemah. Primitif, namun adaptif, suatu saat yang mampu bertahan hidup, mereka akan berevolusi, dan itu semua terjadi di waktu yang sangat lampau.”


Yata-garasu menggunakan kapurnya untuk menulis sesuatu di meja remaja itu. Sebuah tulisan yang lagi-lagi, ditulis menggunakan huruf Isolon. Namun, berbeda dengan jenis aksara yang ia tulis di papan, tulisan yang ia tulis di meja ini terlihat lebih kuno dan rumit. 


Hargailah waktu anda sebelum giliran anda tiba.


“Kita adalah masa depan dari sejarah tersebut. Tanpa adanya sejarah, kita tak akan di sini. Orang yang tak mempelajari sejarah, maka ia akan diberi ganjaran untuk selamanya terkutuk oleh pengulangan sejarah tersebut–entah untuk yang baik, maupun buruk.”


Dari beberapa murid, ada yang kembali menganga, ada pula yang telah secara sadar menggunakan tangan mereka untuk menulis apapun yang Yata-garasu ucapkan barusan. Pun, Yata-garasu melangkah kembali menuju mejanya, menunjuk ke papan tulis, terutama namanya.


“Pelajaran saya, maka mengikuti peraturan saya. Ingatlah dengan baik tulisan ini, dibaca Yamato Kotaro, menggunakan aksara Isolon semenjak periode Nara. Kalian dapat menanyakan bagaimana caranya menulis ke guru bahasa asing bila tertarik mempelajari bahasa Isolon.” Yata-garasu mengetuk sekali ke papan tulis tersebut, seakan-akan ia menekankan sesuatu.


“Saya tidak peduli apakah kalian akan mencemooh nama, tutur kata saya, maupun pelajaran sejarah ini. Namun, jika kalian ingin dihargai sebagai entitas–sebagai orang, maka, dengarkanlah. Simaklah ketika orang lain memberikan pelajaran, angkatlah tangan untuk memberikan maupun menanyakan pendapat, niscaya, saya akan menjawab sesuai dengan kemampuan saya.”


“Ini juga berlaku ketika kalian berbicara dengan sesama, sebab kalian adalah entitas yang beradab, tentu kalian memiliki akal dan etika, bukan?”


Si remaja pirang itu akhirnya bangkit, mulai menggunakan kursinya untuk duduk dengan benar, yang ternyata teman bangku kanan-kirinya juga telah rapi–merasa merinding terhadap guru pengganti sementara mereka.


Yata-garasu menghela napas dengan tenang. Akhirnya, perhatian murid tak lagi terkecoh, ia membenahi kacamatanya dan mulai membuka buku pelajaran mereka.


“Tentunya, kalian masih memiliki alasan untuk tetap mengikuti pelajaran ini, benar?”


Anggukan antusias dari beberapa murid telah menjawab pertanyaannya, akhirnya, pelajaran sejarah telah dimulai dengan normal.


Seakan-akan hal luar biasa yang terjadi sebelumnya tak pernah terjadi, namun wajah yang memerah seakan aib baru telah mengakar di hati sang remaja pirang–Baraz Flannagon, sepertinya tak akan memaafkan Yata-garasu atas kejadian hari ini. Dalam hati, ia telah bersumpah macam-macam, menghapus goresan kapur yang ditulis di mejanya dengan tangannya gusar dan marah, masih enggan mengeluarkan bukunya untuk mencatat apapun di pelajaran ini.


Bodoh amat, keluh Baraz sampai tiba-tiba, kepalanya menimbulkan ide saat ia mengepalkan erat kedua tangannya di meja.

makuva
M.K.V.

Creator

Comments (0)

See all
Add a comment

Recommendation for you

  • What Makes a Monster

    Recommendation

    What Makes a Monster

    BL 75.6k likes

  • Invisible Boy

    Recommendation

    Invisible Boy

    LGBTQ+ 11.5k likes

  • Touch

    Recommendation

    Touch

    BL 15.6k likes

  • Silence | book 1

    Recommendation

    Silence | book 1

    LGBTQ+ 27.3k likes

  • Blood Moon

    Recommendation

    Blood Moon

    BL 47.7k likes

  • The Taking Season

    Recommendation

    The Taking Season

    Romance 6.5k likes

  • feeling lucky

    Feeling lucky

    Random series you may like

EXREA
EXREA

676 views1 subscriber

[ New Update Every Week on Saturday ] Perhaps you have been wondering whether there are any beings other than humans who reside in this world, whether we are living side by side. Excitement to interact or know more about them might be inevitable for some. Curiosity is a good thing, but have you ever consider the danger to delve deeper to seek the answer? Extravagant Bureau━known as EXREA might be able to help you answer those curiosity without endangering yourself. Are you brave enough to know the answer by coming to EXREA?
Subscribe

15 episodes

A Creature Called Human — 5

A Creature Called Human — 5

41 views 0 likes 0 comments


Style
More
Like
List
Comment

Prev
Next

Full
Exit
0
0
Prev
Next