Please note that Tapas no longer supports Internet Explorer.
We recommend upgrading to the latest Microsoft Edge, Google Chrome, or Firefox.
Home
Comics
Novels
Community
Mature
More
Help Discord Forums Newsfeed Contact Merch Shop
Publish
Home
Comics
Novels
Community
Mature
More
Help Discord Forums Newsfeed Contact Merch Shop
__anonymous__
__anonymous__
0
  • Publish
  • Ink shop
  • Redeem code
  • Settings
  • Log out

EXREA

A Creature Called Human — 6

A Creature Called Human — 6

Jul 05, 2025

Jam istirahat telah tiba dan Keiron terjebak di situasi yang super menyebalkan–baginya.


“Matamu dimana, hah!? Jalan yang benar, bisa-bisanya menabrak orang? Tukang bebersih rendahan!”


Seorang guru yang tingginya tak mencapai Keiron, terlihat menunjuk-nunjuk ke batang hidungnya dengan amarah tak terbendung. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Mari kita sedikit memundurkan waktu menuju dua jam sebelum jam istirahat tiba.


Keiron, sesuai pekerjaan yang ia dapat, ia terlihat sedang membersihkan halaman sekolah. Suasana yang tenang, pikirnya, dikarenakan sebagian besar sedang belajar di kelas. Sebagian kecil? Beberapa kelas menggunakan lapangan untuk pelajaran olahraga. Para murid yang berlari secara bergantian untuk dinilai waktu kecepatannya. Disisi lain, satu kelas sedang berolahraga kasti dengan pengawasan guru mereka masing-masing.


“Hooh, ini baru pertama kalinya aku lihat bocah berolahraga di sekolah. Lari mereka lambat banget dah. Kalau aku jadi siswa disana pasti sudah mendahului mereka semua. Heh.”


Bergumam sendiri dengan seringai kecil, kegiatan menyapunya berhenti sejenak. Lagipula memang jarang ada manusia yang bisa menyaingi kecepatannya, maka tak heran bila ia seperti itu–sombong. Lantas angin tiba-tiba bertiup, tepat mengarah ke dedaunan yang ia kumpulkan tadi setelah disapu, Keiron terkejut karena dedaunannya jadi menyebar.


“Eh, sial–Kerjaanku!” Buru-buru ia menahan dengan sapu lidinya, merasa terkena sial karena barusan sudah sombong. Tak mau mengulang banyak, akhirnya ia melanjutkan pekerjaannya, mengumpulkan ke dalam tong sampah, hendak membuangnya ke tempat pembuangan. Dirasa-rasa pekerjaan ini cukup mudah, terutama saat menyeret tong sampah yang besar itu seperti tak ada beban. Jaraknya, hanya saja, lumayan memutari lingkungan sekolah, apalagi dia belum begitu hafal tata letaknya.


Sadar ia salah arah dan menyasar, kakinya sudah bersiap untuk berputar balik, kalau saja telinganya yang tajam tak mendengar suara berisik jauh dari posisinya. Sebelah alisnya terangkat, suara berisiknya dirasa terlalu aneh, terlebih saat beberapa kalimat yang terdengar malah diluar nalar. Tangannya yang kebetulan di dalam saku, kemudian langsung ia keluarkan dengan mode merekam, perlahan mendekati sumber suara tersebut yang rupanya berasal dari sebuah gudang.


“Kalau kau memang cewek, harusnya gak masalah dibuka bajunya, ‘kan? Buktikan kalau beneran cewek, bukan cowok jejadian!”


“Mana ada cewek yang rambutnya segitu ‘kan? Jangan-jangan cowok tuh!”


Hei, seruan-seruan yang berbahaya sekali, batin Keiron yang sudah dekat gudang, mengangkat ponsel kameranya ke arah lubang jendela yang tak ada kacanya. Sembari mengintip, akhirnya ia menyaksikan sebuah pertunjukkan yang seharusnya cuma ada di drama tv, justru sedang nyata dilakukan oleh bocah kemarin sore. Empat siswa yang mengepung satu siswi, beberapa dari mereka memang terasa familiar, terutama seorang siswi yang dikepung tersebut. Dimana ia merasa pernah melihatnya?


“Oi, kau tuli dan bisu ya!? Jawab kalau ditanya!”


Bocah laki-laki itu dengan kasar mendorong bahu sang siswi, karena dorongan yang kuat tersebut siswi itu kehilangan keseimbangan dan punggungnya menghantam beberapa kardus tua yang disimpan di gudang ini. Bau debu yang menyengat semakin tercium, berterbangan di sekitar gudang, beberapa bocah itu terbatuk karena debu tersebut.


“Uhuk–Hei, Jim! Gara-gara kau, sekarang debunya kemana-mana!” Bocah yang dipanggil Jim, balik membentak ke kawannya, tak terima disalahkan.


“Katakan itu kepadanya! Aku bicara baik-baik saja dia tak membalas apapun! Apalagi kalau dia bukan bisu?”


Keiron yang mengintip, mulai merasa kalau drama ini sama sekali tidak menarik. Kalau bisa memberi penilaian, dia akan berikan penilaian bintang satu–sudah bagus karena mereka terlihat berusaha.


Sepertinya ia akan menyesali pemberian penilaiannya yang terlalu cepat karena siswi yang di dorong tadi, akhirnya mulai terlihat bergerak. Apakah dia akan menangis? Batinnya, mungkin akan merubah penilaiannya menjadi dua bintang, sembari memandang penasaran. Lagipula, ia sudah berencana akan mengirimkan rekaman ini ke Yata-garasu nanti sebagai barang bukti jika diperlukan.


“Peraturan keempat dari [Aturan Patrycja] adalah–lebih baik untuk tak memulai pertikaian.”


Keiron pun menaikkan sebelah alisnya, “ooh~?” ketika di sisi lain, bocah-bocah yang berada disitu mulai bingung mengapa gadis itu berkata demikian.


“Wah, ternyata bisa ngomong! Tapi sepertinya kau ngelantur, ya?”


Seakan ejekan dan tawa mencemooh mereka tak masuk telinganya, sang siswi terlihat meregangkan badannya. Seringai Keiron terlihat melebar saat ia menyadari ancang-ancang gadis itu lakukan.


“Peraturan kelima, ada dua jenis orang di dunia ini yang pantas dipukul dan pantas diabaikan. Setelah kuhitung semenjak aku masuk sekolah ini, lebih tepatnya–saat aku menghalangi kelompok kalian menindas salah satu murid di kelasku.”


Raut wajah Jim perlahan berubah, terutama saat mulai menyadari bila pergerakan gadis ini berbeda dari biasanya–ketika mereka merundungnya, siswi ini tak terlihat melawan, seakan-akan seruan dahulu untuk membela siswa yang dirundung oleh kelompoknya tak pernah terjadi. Dari informasi yang di dapat, mereka tahu bahwa siswi ini tak memiliki orang tua–sehingga, dengan kesadaran penuh, mereka semakin jelas melakukan perundungannya terhadap gadis ini.


Awal yang hanya mengubah target perundungan, dari secara verbal, hingga fisik, mereka tak tanggung-tanggung mencemoohnya hanya karena ia tak memiliki wali. Gadis itu menahannya, seakan-akan tak mempermasalahkan perundungan itu, jika itu artinya ia bisa mengalihkan fokusnya dari murid sekelasnya. Akibatnya, gadis itu justru dijauhi karena murid-murid sekelasnya takut turut menjadi target baru.


Ia tak masalah. Selama hanya dipukuli dan dicemooh.


Puncaknya adalah saat perundungan mulai memasuki ranah pelecehan, ia tak lagi menerimanya. Dan yang terjadi saat ini merupakan titik perubahan supaya ia tetap teguh dengan prinsipnya.


Sesaat, murid yang paling dekat dia tak sadar apa yang akan terjadi. Suara gedebuk terdengar, tubuhnya terhempas ke belakang, seketika merintih memegangi perutnya.


“Peraturan ketujuh–bila ada yang memaksakan wilayah seksual tanpa persetujuan kedua belah pihak, jawabannya adalah menggunakan tinju sampai mampus!”


Gadis itu telah berkuda-kuda dengan tangan kanan terkepal erat membentuk pukulan, suaranya yang keras agak mengejutkan para perundung yang masih berdiri.


“Dia cuma sendiri!! Kepung dia!!”


Selaras dengan perintahnya, ketiga bocah itu pun bersamaan menyerang murid itu. Keiron telah berekspektasi kalau gadis itu mungkin akan berteriak atau setidaknya ketakutan saat diserang bersamaan oleh ketiga orang lebih besar darinya.


Saat Keiron melihat sorot matanya, tatapannya tajam, tak ingin terlihat menunjukkan kelemahannya. Karena ketiganya menyerang bersamaan, gadis itu menggunakan tubuhnya yang kecil dan secara gesit, ia menghindarinya dengan menggeser tubuhnya ke sisi samping yang kosong. Alhasil, karena terjangan bersamaan, ketiganya saling berbenturan.


Teriakan memekik kesakitan secara berbarengan pula terdengar, gadis itu pun berlari ke arah pintu gudang, hendak membukanya–yang entah mengapa, ternyata terkunci. Apakah mungkin bila kuncinya dibawa oleh salah satu dari mereka?


“Kau… Bangsat, ternyata kau bisa bela diri?”


Ketika gadis itu mencoba membuka paksa, Jim yang tersungkur karena dipukul tadi mulai bangun meskipun tertatih-tatih sambil memegangi perutnya. Gadis itu akhirnya mengabaikan pintu, kembali berkuda-kuda, hendak menyerang lagi supaya tak memberinya kesempatan–


Sampai pintu di belakangnya terbuka paksa oleh seseorang, seakan eksistensi kunci di pintu hanyalah sebatang kayu yang telah rapuh, mudah hancur.


“Oke~ Bocah-bocah sialan, sudah saatnya kalian kembali ke kelas~”


Keiron yang membuka pintu gudang dengan satu tangannya, terlihat sosoknya yang memegang ponselnya dalam keadaan merekam–dan hal itu membuat mereka, perundung, kocar-kacir dari posisinya, berusaha keras untuk tak tertangkap kamera.


“Hah–Awas kau, urusan kita belum berakhir!”


Mereka yang berhamburan, tersisa Keiron yang akhirnya mematikan mode merekam dan seorang gadis yang kini menatapnya, merasa familiar–lalu spontan menunjuknya.


“Ah! Om yang kapan hari itu!” Ucapannya sang bocah perempuan sedikit menyenggolnya, Keiron memasang raut tidak suka.


“Hei, jangan panggil aku om! Aku masih muda tahu! Masa’ wajah ini dianggap om-om?!” Protesnya, ekornya berkibas cepat–secara naluri, Keiron tak memiliki kuasa bila ekornya bergerak seperti itu karena mengikuti perasaannya, dan gadis itu jelas-jelas melihat ekor yang berkibas tersebut. Matanya mengerjap, lalu melihat kepala Keiron, yang semakin jelas terlihat bahwa pemuda ini memang mempunyai sepasang tanduk.


“Kalau ‘gitu, kasih tahu namamu!” Gadis itu mendekati Keiron, bertanya dengan tingkat rasa penasarannya yang tinggi. “Bajumu itu, berarti kerja di sini ya? Sejak kapan? Kok aku baru tahu!?”


Keiron agak berjaga jarak–kenapa gadis ini seperti tidak takut untuk mendekatinya? Tak lama kemudian, ia pun mencium bau darah dari gadis ini.


“Mendingan kita ke UKS sekarang, bocah. Kamu terluka, ‘kan? Sini kuantar, daripada mendekam di tempat kotor ini.”


“Eeeh, aku bukan ‘bocah’, aku punya nama! Kirie, om!”


Keiron tak ingin mendengar ocehannya, menggotong tubuh gadis itu, Kirie, seperti mengangkat karung, “–sudah kubilang, aku bukan OM! Keiron! Namaku Keiron!”


Diangkat seperti itu, Kirie seperti bocah yang terbang, karena Keiron jauh lebih tinggi darinya, meskipun ia memprotes untuk menghindari UKS, sepertinya harus menerima nasib. Secara terpaksa, tak membutuhkan waktu terlalu lama, mereka sudah sampai di UKS. Kebetulan guru yang menjaga sedang tidak ada, sehingga Keiron langsung masuk ke dalam dan menaruh Kirie diatas kasur supaya dia duduk.


“Tunggu di sana bocah, aku panggilkan yang harusnya jaga UKS.” Keiron melengos begitu meninggalkan Kirie yang duduk, setengah cengo, tampaknya terlambat untuk menghentikan pemuda itu.


Baru saja mencapai pintu, Keiron menabrak seseorang yang berjalan masuk ke dalam UKS dan orang itu terjatuh seketika, karena terasa seperti menabrak dinding bergerak. Keiron mengerjapkan matanya, terheran, yang terjatuh telah mengaduh sambil mengusap jidatnya. Seorang wanita berambut panjang dengan jas putih. Mungkin guru yang menjaga ruangan UKS.


“Ow, ow… Bukannya sudah kubuka… Eh? Siapa kamu?”


“Kebetulan sekali. Ada murid yang sedang terluka. Itu tugasmu untuk mengobatinya.” Ketimbang menjawab pertanyaannya, Keiron menunjuk ke dalam UKS dengan jempolnya sebelum melangkah pergi tanpa membantunya berdiri.


Mengabaikan tatapan bingung dari wanita tadi, Keiron telah meninggalkan ruang UKS. Di tengah perjalanannya melewati lorong sekolah, dia sedang berpikir akan memberikan rekaman ini ke Yata-garasu. Perundungan memang terjadi di tempat manapun itu–sejauh ia tahu dari laporan Yata-garasu berikan, atau saat ia membaca koran yang Yata-garasu beli. Akan tetapi, saat ia melihatnya secara langsung seperti tadi, Keiron menjadi tak habis pikir akan kelakuan mereka.


Masih muda ‘kok sudah begitu? Tatkala ia membatin terheran, suara bel istirahat yang dinanti seluruh penjuru sekolah ini tunggu pun berbunyi. Suaranya keras sekali, ia hampir terkejut karenanya.


“Tidak kerasa, ya?” Gumamnya, mulai berjalan untuk ke ruang dimana petugas sepertinya berkumpul. Petugas pekerja kasar, lebih tepatnya, ruangannya tepat di belakang kantin, sehingga ia harus melewati kantin yang sangat ramai itu dalam hitungan menit ia berjalan.


Tapi yang namanya makhluk setengah tembus pandang, meskipun ia sudah bertindak lebih berhati-hati untuk menghindari benturan yang tidak penting, tidak perlu waktu lama sampai Keiron harus tak sengaja menabrak seseorang–kali ini, orang itu adalah seorang guru pria yang perawakannya lebih kecil, namun dari bentuk wajah yang sudah berkeriput dan rambut sedikit memutih, umurnya setidaknya sudah hampir setengah abad.


Hanya karena bahu yang tersenggol, naas makanan pria itu terselip dari genggamannya, satu nampan makanan berceceran di lantai.


“Ah–” Sial, batin Keiron, sekarang dia bakalan harus membersihkannya, mau tidak mau. “Wah, aku tak sengaja, biar ku bersihkan dahulu–”


“Matamu dimana, hah!? Jalan yang benar, bisa-bisanya menabrak orang? Tukang bebersih rendahan!”


Nampaknya guru tua itu merasa tak terima karena Keiron sama sekali tak merasa bersalah setelah menabraknya–itu yang ia rasakan, sebab ia yakin tak melihat Keiron di sampingnya. Keiron, yang juga memang merasa disenggol, merasa tak perlu meminta maaf, tindakan yang ia ambil seharusnya sudah bisa dilakukan tanpa dibesar-besarkan–yakni membersihkan makanannya yang jatuh.


“Ha, tentu saja karena kau masih muda, makanya kau bersikap seenaknya, ya? Lihatlah, meminta maaf saja tidak, kau mau pergi begitu saja? Pantas saja anak muda zaman sekarang semuanya sama saja!”


Yang mana rentetan ucapan pria itu justru menarik perhatian orang disekitarnya. Bukannya dihentikan, sang pria tua itu tetap mengoceh dan memarahinya, ujung kewarasan Keiron untuk menahan diri supaya tidak memukul pria tua ini hanya tinggal setipis tisu.


Ketika tangannya mengeratkan kepalan tinju dan nyaris melayangkan satu pukulan ke guru ini, seseorang berseragam sama sepertinya tiba-tiba menyela, kemudian membungkukkan badannya hampir 45 derajat, mengejutkan Keiron yang akhirnya, mengurungkan niatnya barusan.


“Maafkan kami, Pak Berne, dia masih baru. Mohon dimaklumi untuk kelancangannya.”


Suasana seketika menghening. Pria yang menyela tadi, dari penampilannya terlihat lebih tua dari guru ini, mungkin sudah umur hampir pensiun? Berkat dia, amarah pak guru Berne tadi perlahan-lahan surut, seakan-akan ego yang menginginkan permintaan maaf telah terpenuhi–meskipun ia masih terlihat tidak puas, sebab bukan dari mulut Keiron sendiri yang berucap.


“Hah! Sudahlah, lebih baik kau bersihkan ini. Ajari dia bekerja lebih baik! Masih muda tapi kerjaannya hanya begini, pantas saja dia lancang.”


“Baik, Pak Berne. Mohon maafkan kami.”


Sepeninggalan guru itu dari tempat kericuhan, orang-orang yang mengerumuni mereka perlahan-lahan membuyar. Pria yang membantu Keiron tadi menghela napas lega, ketika Keiron masih memiliki hasrat untuk setidaknya memukul guru tadi.


Ini manusia-manusia kolot kenapa ‘sih?! Lagian, dia juga yang menyenggolku!


Seperti tak diizinkan untuk terus mengumpat, Keiron merasakan sebuah tepukan ke bahunya, menyadarkannya dari lamunan akan hasrat terpendam. Pria tua yang tadi, tersenyum lemah.


“Berat, ya? Kamu seperti hampir memukulnya. Maaf kalau saya menghentikanmu.”


Keiron menghela napas, terang-terangan menggulir matanya dengan acuh, “sudahlah, pak tua. Aku tahu ‘kok.”


Pria tua itu terkekeh pelan, suaranya terdengar agak parau karena sudah tua, “kalau begitu, saya minta tolong bersihkan, ya? Nanti temui saya di ruangan OB.”


Keiron menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sebenarnya mau bilang malas tapi akhirnya mengangguk saja dan mengambil sapu maupun pel untuk membersihkan kekacauan barusan. Daripada tidak dikerjakan sama sekali, bisa-bisa dipecat, padahal baru hari pertama menyamar.


makuva
M.K.V.

Creator

Comments (0)

See all
Add a comment

Recommendation for you

  • What Makes a Monster

    Recommendation

    What Makes a Monster

    BL 76.4k likes

  • Arna (GL)

    Recommendation

    Arna (GL)

    Fantasy 5.5k likes

  • Blood Moon

    Recommendation

    Blood Moon

    BL 47.9k likes

  • The Last Story

    Recommendation

    The Last Story

    GL 56 likes

  • Earthwitch (The Voidgod Ascendency Book 1)

    Recommendation

    Earthwitch (The Voidgod Ascendency Book 1)

    Fantasy 3k likes

  • Frej Rising

    Recommendation

    Frej Rising

    LGBTQ+ 2.8k likes

  • feeling lucky

    Feeling lucky

    Random series you may like

EXREA
EXREA

720 views2 subscribers

[ New Update Every Week on Saturday ] Perhaps you have been wondering whether there are any beings other than humans who reside in this world, whether we are living side by side. Excitement to interact or know more about them might be inevitable for some. Curiosity is a good thing, but have you ever consider the danger to delve deeper to seek the answer? Extravagant Bureau━known as EXREA might be able to help you answer those curiosity without endangering yourself. Are you brave enough to know the answer by coming to EXREA?
Subscribe

15 episodes

A Creature Called Human — 6

A Creature Called Human — 6

36 views 0 likes 0 comments


Style
More
Like
List
Comment

Prev
Next

Full
Exit
0
0
Prev
Next