Ketika Keiron membuka pintu kantor janitor, kantor ini hanya memiliki sedikit meja dan kursi, sebuah lemari loker yang terlihat jarang diganti karena hampir usang, disenggol sedikit mungkin sudah ambruk untuk sekedar mempertahankan diri kala menyimpan barang-barang para pekerja.
Merupakan sebuah catatan kecil untuk Keiron supaya lebih berhati-hati ketika melangkah, tinggi pintu bangunan ini rata-rata hampir menyamai kepalanya–ia harus sedikit menunduk, daripada harus melihat kusennya membentuk kepalanya.
Di ujung ruangan terlihat sebuah ruang kecil yang dibatasi sekat, tertata sebuah kompor kecil yang dilengkapi tempat untuk mencuci piring hingga kulkas kecil, bisa dikatakan kalau tempat itu adalah dapur. Langkah orang tua janitor yang tak diketahui namanya oleh Keiron terlihat berjalan ke dapur kecil.
Ketika pandangan mata Keiron mengedar di seluruh ruangan, orang tua itu kembali lagi dengan dua gelas teh hitam yang masih hangat, kemudian ia menaruhnya ke meja.
“Duduklah. Apa kamu suka teh hitam?”
Keiron terlihat tak langsung menjawab dan memilih duduk terlebih dulu, sebab ada kursi di dekat meja dengan teh hangat tadi. Ia mengambil gelas berisi teh hitam itu dan menyeruputnya, cuma untuk mengucur keluar lagi seperti air mancur dari mulutnya, sebab terlalu pahit bagi lidahnya. Seumur-umur ia meminum teh, teh yang disediakan di kantor EXREA terasa lebih enak dari ini. Mungkin kualitasnya memang berbeda?
“Dih, pahit banget! Pak tua, punya gula ‘gak?”
Pria yang rambutnya sudah beruban itu hanya tertawa renyah, “bisa ambil sendiri di dapur sana, ya.” sambil menunjuk dapur tadi.
Karena diizinkan untuk mengambil sendiri, Keiron berdiri dari duduknya bersama segelas tehnya, melangkah ke dapur untuk memasukkan dua sendok makan gula pasir ke gelasnya, diaduk hingga gulanya larut, baru ia kembali ke kursinya tadi.
“Terus, apa yang mau dibicarakan?” Sembari menyesap teh hangat yang lebih manis, Keiron bertanya secara langsung. Untuk suatu perihal, ia merasa canggung jika sekedar berbasa-basi. Walau ia merasa berterima kasih sudah dihentikan kekesalannya setelah dihina sedemikian rupa, ia hanya bisa menebak kalau orang tua ini hendak memberinya peringatan karena sudah membuat masalah.
Ketika ia memperhatikan raut wajahnya, pria tua itu hanya mengukir senyuman tipis.
“Saya tadi melihat kinerjamu. Tidak banyak orang mau mengambil pekerjaan seperti ini, sehingga orang tua seperti saya ini kadang kesusahan, hoho. Terima kasih ya, nak.”
Lagi, Keiron termenung saat mendengarkan ucapan terima kasihnya. Perasaan, baru saja tadi ia merasakan pahitnya diledek oleh orang tua bangkotan, namun–saat melihat orang tua ini, pendapatnya yang tadi acapkali membuatnya berpikir lebih dalam.
Manusia itu aneh. Mereka sangat emosional, di sisi lain, mereka juga akan sangat mudah merasa bersyukur.
“... Apa ‘sih, ‘kan memang kerjaanku.” Keiron menghela napas, tehnya tak terasa tinggal sedikit, lalu ia taruh di meja, tak sadar bila pandangan matanya sudah beralih dari bertemu pandang dan menurun, tak sengaja melihat tag nama di seragam janitor orang tua ini. Bordiran sebuah nama terpampang jelas, Kaleo–nama janitor tua ini.
“Jangan merasa kapok, ya. Tidak semua guru seperti Pak Berne–bisa dikatakan, beliau merupakan salah satu contoh untuk lebih baik tidak berurusan dengannya.”
Mendengar topik yang diangkat sepertinya menarik perhatiannya, akhirnya Keiron kembali menatapnya.
“Iya ‘kah? Astaga, ngerinya! Sepertinya aku sudah apes sekali ya, Pak Kaleo!” Dengan wajah yang sengaja dibuat memelas supaya menghayati bersedih, Keiron pun melanjutkan, “tapi, kenapa begitu? Bukankah mereka cuma guru yang mengajar?”
Raut Kaleo mulai prihatin. Sepertinya ia benar-benar merasa kalau Keiron sedih karena telah tertindas akibat hari pertamanya. Tentu saja ia dapat memakluminya.
“Dari mana mulai berceritanya, ya…”
Saat kalimat itu terucap, Keiron menyesal tak siap sedia sepaket berondong jagung karena diluar dugaan, ceritanya cukup panjang ketika ia mulai mendengarkan.
Kaleo, kurang lebih telah 40 tahun bekerja sebagai janitor di sekolah ini, merupakan pekerja terlama jika dibandingkan dengan pekerja kerah biru lainnya di sekolah ini seperti juru masak maupun satpamnya. Pekerja janitor pun juga tak pernah lebih dari lima orang, kebetulan beberapa akhir tahun ini janitor hanya dirinya–dan Keiron. Keiron juga tak heran jika pekerjaan ini memang tak akan populer, pasalnya, siapa yang mau bekerja untuk membersihkan sekolah seluas ini dengan upah yang tak seberapa itu?
“Eh, tapi sudah berapa lama kamu sendirian, Pak? Katamu, baru beberapa tahun ini janitor tinggal Pak Kaleo saja. Apa mereka mangkir karena tak kuat diledekin kayak aku tadi?” Tanya Keiron penasaran.
“Hmm… Mungkin saja? Tapi rasanya… Tidak separah ini. Saya rasa ini terjadi mulai dari dua tahun lalu silam.” Ketika Kaleo berusaha mengingat-ingat, ada satu kejadian yang masih membekas di ingatannya.
Namun, ia terlihat menimbangnya. Apakah hal ini harus dikatakan oleh pegawai baru? Ini bukanlah berita yang baik bila sampai keluar dari sekolah ini. Rasa bersalah yang menghantuinya, pertimbangannya perlahan-lahan meluntur, merasa bahwa ia sudah seharusnya menceritakannya. Pertama kalinya, Kaleo merasakan perasaan sekuat ini untuk membeberkan rahasia yang ia pikir, sudah semestinya ia bawa hingga ke alam kubur.
Tanpa ia ketahui bahwa semua ini terjadi karena Keiron yang berada di hadapannya. Keiron telah melakukan sesuatu, dan sesuatu akan sangat mudah terjadi selama manusia di dekatnya memiliki sedikit perasaan negatif telah menggerogoti hatinya.
Dengan senyuman penuh arti, Keiron mengambil kesempatan ini dan ia pun menyahut, “–bagaimana kalau kamu ceritakan semuanya padaku, Pak Kaleo?”
Sekolah ini memiliki total 15 kelas, dengan tiap tingkat memiliki lima grup, rata-rata satu kelas kurang lebih diisi 24 murid. Satu mata pelajaran guru akan mengisi setidaknya empat grup, termasuk guru pengganti sementara seperti Yata-garasu saat ini. Jam mengajarnya sudah selesai untuk hari ini, namun untuk suatu hal, ia telah dipanggil dan kini, ia sedang menghadap kepala sekolah.
“Yah, Pak Yamato—Saya cukup berkesan dengan cara anda mengajar, hanya saja…”
Teh hangat yang disajikan tak tersentuh oleh Yata-garasu. Ia hanya duduk di seberang sang Kepala Sekolah, Dustin Burnett, memberikan ‘nasihat’. Yata-garasu tidak terlihat akan membalas ucapannya, membiarkan sang Kepala Sekolah melanjutkan ucapannya yang sedang menggantung.
“Kami memiliki kurikulum tersendiri. Dengan mengganti materinya, arahan pembelajaran untuk sekolah ini sudah dapat dipastikan menuju sekolah yang memiliki kredibilitas sama—itulah mengapa, lebih baik untuk tetap fokus sesuai materi dari kurikulum kami.”
Ia tidak salah. Yata-garasu telah melakukan pengecekan akan materi yang diajarkan (meskipun ia sedang menyamar, ia tak akan menyamar dengan asal-asalan dan akan mengerjakan tugasnya sebagai guru dengan baik). Yata-garasu memiliki firasat bila dipanggilnya kemari memiliki maksud lain.
“Saya mengerti. Yang saya lakukan hanyalah mengenalkan nama saya, Pak Burnett.” Terang Yata-garasu, memberikan ‘pembelaan’ diri.
“Untuk saat ini saya maklumi, sebab hari ini merupakan hari pertama Pak Yamato.” Dustin mengangguk, begitu cepat ia memotong ucapan Yata-garasu dari nadanya ia mengucapkan balasannya barusan.
“Satu hal lagi yang ingin saya ucapkan, Pak Yamato,” tambah Dustin, seakan tak memberikan jeda, “ada baiknya bila anda berhati-hati dalam mengajar.”
Yata-garasu tidak banyak mengubah ekspresinya, selain sengaja terlihat seperti orang yang tak tahu apa-apa. Nada intimidasi yang jelas terasakan, sama sekali tak menyentuh perasaan Yata-garasu maupun membuatnya merasa takut.
“Timbal balik dalam mengajar, bukankah itu pekerjaan kita sebagai guru? Saya senang, murid-murid yang Pak Yamato ajarkan terlihat lebih bersemangat. Saya hanya berpesan untuk tidak keluar dari kurikulum sekolah ini.”
Seakan-akan menekankan bagian kurikulum, Yata-garasu mengangguk sekilas dan berpamitan untuk pergi setelah dirasa mereka tak memiliki pembahasan penting. Tak terasa bila waktu sudah memasuki jam pulang, ia merasakan getaran dari ponsel pintarnya. Sebuah pesan masuk dari Keiron.
[Yata, aku dapat info dari bapak janitor yang sudah lama kerja di sini.]
Yata-garasu cukup membalas dengan singkat dan cepat, memutuskan untuk bertemu di kantor mereka setelah ia membereskan perlengkapannya dari ruang guru. Ruang guru berada di lantai dua, ia harus turun satu anak tangga karena ruang kepala sekolah berada di lantai tiga. Karena sebagian besar murid maupun guru sudah pulang, ketukan dari suara langkah kakinya bersepatu hak terdengar lebih jelas.
“Tolong…”
Yata-garasu menghentikan langkahnya saat suara yang terdengar lemah dan dingin, meminta tolong. Suara tersebut menggema, ketika ia menolehkan kepalanya menuju arah dari suara itu datang… Yata-garasu tidak melihat siapapun. Suaranya hanya terdengar sekali dan cukup jauh. Bila ia mencoba untuk memfokuskan suara itu, samar-samar ia merasakan energi gelap, tampaknya roh bergentayangan yang terjebak, namun energi itu mengelilingi seluruh sekolah ini, sehingga membutuhkan waktu dan usaha lebih untuk mendeteksinya.
Sepertinya, ia perlu mengecek kondisi roh tersebut, setelah mengadakan pertemuan dengan Keiron nanti.

Comments (0)
See all