Di sebuah lorong istana bergaya eropa yang di dominasi warna merah, berjalanlah seorang wanita bergaun merah menuju sebuah ruang tahta.
Sesampainya di ruang tahta, wanita bergaun merah itu melaporkan pekerjaannya yang telah ia kerjakan pada atasannya, tak lupa ia juga memberikan informasi bahwa kini Kesatria dan satu detektif kepolisian berhasil menggagalkan sang penembak jitu. Atasannya yang sedang duduk di kursi tahta itu memiliki sebuah ide dan memberikan sebuah perintah untuk mengelabui dan memecah belah orang-orang dengan kemampuan yang wanita itu miliki. Wanita bergaun merah itu menyatakan keraguan pada atasannya itu dan mengancam akan menjadikan atasannya itu sebagai budak selamanya. Sang atasan memberikan bukti-bukti bahwa selama sang wanita bergaun merah itu bekerja dan menuruti perintahnya, rencana-rencana mereka berjalan dengan lancar, walau terkadang ada hambatan tetapi semua masih bisa dikendalikan, sang atasan juga mengatakan pada wanita bergaun merah itu dengan sebuah pernyataan yang sangatlah jahat.
“Negeri ini dan pemimpinnya akan mengikuti penguasa neraka.” sambil mengepalkan tangan kirinya dengan penuh kesombongan.
Pagi hari, di sebuah lapangan indoor di daerah BSD, Diana sedang melatih Karate pada murid-muridnya dari yang tua hingga yang muda bahkan juga yang masih kecil-kecil. Diana adalah sosok pelatih yang banyak dikagumi oleh murid-muridnya bahkan juga rekan sesama pelatihnya dan senior nya. Diana adalah sosok pelatih yang asik juga friendly dengan murid-muridnya.
Namun di satu sisi, Diana juga sosok pelatih yang tegas dan sedikit perfeksionis, hal itu dikarenakan ia adalah sosok yang amat sangat peduli dengan perkembangan murid-muridnya supaya ilmu yang ia berikan berguna untuk murid-muridnya.
Selesai mengajar Karate dari pukul 07.00 hingga 10.00, Diana hendak menuju mobilnya yang terpakir persis di depan lapangan tempat ia mengajar. Saat sedang jalan ke mobilnya sambil melihat smartphone nya, Diana ditelpon oleh Marco untuk segera pulang, karena ada undangan syukuran dari teman lama mereka yaitu Arya Gunawan kini dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia. Diana yang merasa sebenarnya malas dikarenakan lelah baru selesai mengajar, dengan terpaksa menuruti keinginan suaminya itu karena mereka sudah lama tak mendatangi acara-acara yang semacamnya. Diana langsung menghidupkan mesin mobilnya dan langsung pulang ke apartemen nya untuk mandi dan mengganti pakaian.
Sesampainya di tempat acara, Diana yang mengenakan kebaya dan Marco yang mengenakan batik, berusaha membaur dengan tamu-tamu yang lain.
Mereka mencicipi beberapa makanan dan minuman yang dihidangkan oleh istana, mereka juga mendengarkan pidato-pidato yang disampaikan oleh para Menteri bahkan juga Presiden yang baru saja dilantik juga memberikan pidato dan juga janji-janjinya untuk menegakan keadilan dan mensejahterakan seluruh rakyat. Setelah mendengarkan pidato, Diana dan Marco hendak duduk dan beristirahat sambil meminum es teh yang dihidangkan oleh istana. Saat Diana dan Marco duduk, mereka berdua dihampiri oleh Arya yang senang karena bisa bertemu kembali setelah bertahun-tahun mereka tidak bertemu. Mereka mengobrol dari mulai tentang kabar mereka, kesibukan masing-masing hingga masalah politik yang sedang terjadi, keseruan obrolan itu hingga tak terasa mereka telah mengobrol selama satu jam lamanya.
Merasa obrolan ini sudah cukup lama, Diana dan Marco berpamitan pulang dengan Arya setelah obrolan yang cukup lama bahkan sampai keliling-keliling istana kepresidenan. Saat sudah dari keluar istana dan Arya mengantar mereka keluar, tiba-tiba ada orang yang entah bagaimana berhasil menembus keamanan istana, dan hampir menyerang Arya sambil berkata :
“Presiden Sampah!” dengan suara yang keras.
Melihat kejadiaan itu, para penjaga berusaha menjauhkan orang tak dikenal itu agar tidak membahayakan presiden juga tamunya yaitu Diana dan Marco. Melihat orang tak dikenal itu berhasil dijauhkan oleh para penjaga, Arya merasa lega karena dirinya selamat dari sesuatu yang buruk. Arya berkata pada Diana dan Marco orang-orang seperti itu merupakan korban dari kegagalan pemerintahan sebelumnya, ia tak menyalahkan orang-orang yang menjadi vigilante bahkan mengapresiasi semangat dan perjuangan mereka, ia merasa kini adalah tugasnya merangkul banyak orang dan kalangan kemudian membenahi sistem bersama. Diana merasa apa yang dikatakan Arya itu sedikit relate dengan dirinya yang kini menjadi vigilante bernama Kesatria, mengapresiasi apa yang dikatakan teman lamanya yang kini menjadi seorang presiden.
Malam harinya, di rooftop yang sama tempat mereka bertemu, ada Fitri yang sedang menunggu Kesatria karena ia memiliki sesuatu yang ingin diutarakan. Tak lama kemudian, Kesatria sampai dan langsung bertanya apa yang sekiranya bisa dibantu. Fitri mengatakan ada orang yang ingin menemui pelaku yang hendak melakukan penyerangan presiden tadi saat di istana. Kesatria bertanya apakah kepolisian sudah berhasil menemukan pelaku yang bernama Dewo Pramono, dari data ia seorang karyawan minimarket. Kesatria juga menanyakan dimana Dewo tinggal atau dimana tempat selain tempat tinggalnya yang jadi tempat yang sering dikunjungi Dewo. Fitri menjawab bahwa ia sudah memiliki alamat tempat tinggal dan tempat yang sering dikunjungi Dewo. Kesatria yang melihat kejadian penyerangan presiden ada kaitan nya dengan pembunuhan suami istri yang meninggalkan satu anaknya, menyarankan agar segera mendatangi dan menemui Dewo, agar mendapatkan petunjuk dan dengan cepat mengungkapkan siapa dibalik semua ini. Namun sebelum mencari keberadaan Dewo, Fitri mengatakan bahwa ada orang yang ingin ikut dalam pencarian Dewo ini, orang ini juga ternyata adalah orang ingin menemui Dewo. Ternyata orang yang ingin ikut adalah Arya, si Presiden yang baru saja dilantik itu meminta Fitri untuk diikutkan dalam pencarian Dewo ini agar bisa membantu orang tersebut. Arya mempunyai firasat ada orang yang menyuruh Dewo untuk berbuat demikian dan ia ingin memberikan perlindungan pada Dewo. Kesatria sebenarnya tidak setuju dengan diikutkannya Arya dalam pencarian ini, karena beban dan bisa saja identitasnya terungkap jika ia melakukan kesalahan sedikit namun fatal. Namun, semua yang diinginkan Kesatria tak bisa terwujud karena Arya sangat memaksa ingin terlibat dalam penyelidikan ini untuk membantu Dewo, dan jadilah mereka bertiga mencari dan menyelidiki Dewo dan menuju alamat tempat tinggal Dewo. Kesatria menaiki motornya, sementara Fitri bersama Arya menaiki mobil polisi.
Sesampainya di lokasi yaitu sebuah kos-kos an khusus putra, Mereka bertiga dihampiri oleh seorang bapak pemilik kos dan menanyakan apa maksud kedatangan mereka kemari, bapak kos itu bertanya karena ada kehadiran Kesatria dengan kostum tempur mencoloknya dan juga kehadiran Arya yang dikenal sebagai presiden. Fitri mengatakan bahwa ia adalah anggota kepolisian yang sedang mencari seseorang bernama Dewo Pramono. Bapak kos mengatakan bahwa Dewo sudah tidak pulang berhari-hari ke kos ini, bapak kos juga menambahkan bahwa Dewo sudah berkali-kali dihubungi handphone nya, namun tidak ada jawaban sama sekali. Melihat situasi ini, Kesatria menyarankan Fitri dan juga Arya untuk segera pergi ketempat biasa Dewo kunjungi. Kesatria mempunyai dua kemungkinan, yang pertama kalau Dewo adalah orang yang kecewa dengan pesimis dengan kinerja pemerintah sebelumnya yang dinilai gagal, kemungkinan kedua adalah Dewo sedang berada dalam tekanan oleh orang yang menyuruhnya untuk menyerang presiden. Mendengar dua kemungkinan itu, Mereka bertiga memutuskan untuk bergegas pergi ke lokasi berikutnya.
Sesampai di lokasi berikutnya yang ternyata adalah sebuah taman di daerah Barito yang bernama Taman Langsat. Mereka bertiga langsung mencari dimana Dewo. Ditengah pencarian, Mereka melihat seorang pria yang sedang duduk termenung di balik pohon pada titik di yang gelap sehingga luput dari pengelihatan orang-orang. Mereka bertiga menghampiri pria itu dan menanyakan apakah orang tersebut bernama Dewo Pramono. Mendengar itu orang itu langsung panik lalu mengakui kalau ia bukan Dewo dan langsung bergegas pergi dari tempat itu. Namun sebelum Dewo pergi, Kesatria menahan tubuh Dewo agar tidak kabur dari mereka bertiga yang hendak bertanya mengapa Dewo menyerang presiden saat ada acara syukuran di istana. Dewo dengan frustasinya mengatakan :
“Kalian semua bakal binasa kalau coba cari tau semua ini….”. dengan napas terengah-engah.
Arya berusaha menenagkan Dewo dengan mengatakan bahwa akan mendapat perlindungan jika Dewo mau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Butuh waktu yang cukup lama untuk meyakinkan Dewo bahwa sekarang ia sudah aman karena ada polisi dan presiden yang akan memberikan perlindungan padanya.
Saat Dewo sudah tenang dan hendak bicara tentang sebenarnya apa yang terjadi dengan nya, tiba-tiba sebuah pisau melesat dan menancap dahi Dewo yang membuatnya seketika tewas ditempat.
Tentu kejadian ini membuat Kesatria, Fitri dan Arya kaget apalagi setelah melihat pelakunya yang ternyata adalah Zirah Elang. Orang-orang yang ada di taman yang melihat kejadian itu langsung ketakutan dan mendengar teriakan Dewo langsung lari karena ketakutan.

Comments (0)
See all