Please note that Tapas no longer supports Internet Explorer.
We recommend upgrading to the latest Microsoft Edge, Google Chrome, or Firefox.
Home
Comics
Novels
Community
Mature
More
Help Discord Forums Newsfeed Contact Merch Shop
Publish
Home
Comics
Novels
Community
Mature
More
Help Discord Forums Newsfeed Contact Merch Shop
__anonymous__
__anonymous__
0
  • Publish
  • Ink shop
  • Redeem code
  • Settings
  • Log out

Kesatria : Iblis

Anti Vigilante

Anti Vigilante

Aug 16, 2025

This content is intended for mature audiences for the following reasons.

  • •  Physical violence
Cancel Continue

  Melihat semua itu, Kesatria langsung menghampiri Zirah Elang dan bertanya mengapa sang vigilante elang itu membunuh orang yang belum tentu benar-benar bersalah itu, Zirah Elang mengatakan bahwa ini adalah hal yang seharusnya dilakukan sejak dahulu. Mendengar semua itu, Kesatria menjadi sangat kesal dan langsung menyerang Zirah Elang. Pertarungan yang sangat sengit pun tak bisa terhindarkan, diantara mereka saling mengeluarkan serangan, menangkis setiap serangan dan menghindari serangan-serangan, pada awalnya Zirah Elang menguasai pertarungan dan mampu membuat Kesatria kewalahan, namun seiring waktu dan pertarungan berlangsung, Kesatria mampu menguasai pertarungan bahkan membuat vigilante elang itu pingsan dibuatnya.


Kesatria tak menyangka bahwa salah satu vigilante yang ia percaya ternyata bisa membunuh orang dengan sangat keji. Melihat semua ini, Fitri dan Arya menyarankan Kesatria untuk membawa Zirah Elang ke kantor polisi untuk diinterogasi.

  Setibanya di kantor polisi, Zirah Elang digeletakan di kasur ruang perawatan di kantor polisi. Setelah melihat pembunuhan Dewo Pramono oleh Zirah Elang terbagi dua kubu di kepolisian melihat kejadian Zirah Elang membunuh Dewo Pramono. Kubu pertama adalah kubu yang merasa bahwa Zirah Elang ini sebenarnya adalah penjahat yang mempunyai niat buruk yang tersembunyi selama ini, kubu kedua adalah kubu yang percaya bahwa Zirah Elang ini sebenarnya mungkin sedang dalam pengaruh sesuatu sehingga kemungkinan sang vigilanteelang itu tak sadar telah melakukan pembunuhan pada Dewo Pramono. Bagi kubu yang meyakini kalau Zirah Elang adalah seseorang dengan niat jahat yang tersembunyi, membantah pendapat yang mengatakan kalau Zirah Elang melakukan pembunuhan secara tak sadar, mereka juga mengejek bahwa meyakini Zirah Elang dalam pengaruh sesuatu dan melakukan nya secara tak sadar, itu sama saja meyakini kalau ada orang yang bisa melakukan pengendalian pikiran layaknya di film-film atau cerita fiksi. Dari pihak yang menganggap Zirah Elang adalah orang jahat, mereka tak sabar ingin membuka mask dari Zirah Elang  dan mengungkap identitas dibalik vigilante elang itu. Namun Zirah Elang yang sudah dalam keadaan sadar dan menyadari ada orang yang berusaha membuka mask nya, langsung menangkis tangan orang itu dan hal itu membuat polisi-polisi yang ada di ruang perawatan menodongkan pistol karena takut Zirah Elang yang telah sadar akan menyerang. Zirah Elang yang telah sadar itu berusaha menjelaskan bahwa ia tidak mengingat kalau pernah membunuh Dewo Pramono. Tentu saja, perkataan dari Zirah Elang ini tidak dipercaya oleh kebanyakan anggota kepolisian, karena bagi mereka mempercayai apa yang Zirah Elang katakan sama saja mempercayai kalau sang vigilante itu sedang diambil alih oleh sesuatu atau seseorang, yang mana bagi mereka itu terdengar tidak masuk di akal dan terdengar seperti dibuat-buat. Fitri disitu berusaha menengahi orang-orang yang ada di ruang perawatan agar tidak terjadi keributan yang lebih besar lagi, ia juga akan berbicara pada Zirah Elang dan juga Kesatria karena mereka berdua kemungkinan tidak dipercaya lagi setelah kejadian pembunuhan Dewo Pramono. 

     Fitri menarik Kesatria dan Zirah Elang ke dekat pintu untuk berbicara empat mata, Fitri terlihat memarahi Zirah Elang atas aksinya tadi, padahal yang tidak para anggota kepolisian itu ketahui, Fitri sebenarnya sedang membantu Zirah Elang dan Kesatria untuk kabur dari kantor kepolisian itu secara diam-diam memberikan jalan kabur dari kantor kepolisian dan meminta kedua vigilante itu menyelesaikan masalah ini secepatnya, Fitri juga memerintahkan Kesatria untuk memukul wajahnya agar bisa memberikan alasan kalau mereka berdua bisa kabur dari sang detektif kepolisian yang ceritanya sedang menginterogasi Zirah Elang dan juga Kesatria tanpa harus membuatnya terlihat melepaskan mereka dengan mudah yang bisa membuatnya ditangkap karena telah berkomplot dengan kedua vigilante itu. Pada awalnya Kesatria tidak menginginkan memukul wajah Fitri, namun setelah diyakinkan oleh detektif kepolisian itu, Kesatria pada akhirnya memukul wajah Fitri lalu segera kabur meninggalkan detektif kepolisian itu yang terjatuh di lantai. Tentu hal ini membuat para polisi yang melihat itu terkejut dan langsung mengejar Kesatria dan Zirah elang yang sedang berlari mencari jalan keluar dari kantor kepolisian. Kejar-kejaran pun tak bisa terhindarkan, Kesatria dan Zirah Elang menghadapi banyak rintangan agar bisa menghindar dari tangkapan para polisi. Hingga mereka sampai di sebuah pintu bagian belakang kantor kepolisian yang mengarah ke sebuah gedung parkir. Zirah Elang mengarahkan Kesatria untuk lari bersamanya menaiki gedung parkir hingga lantai paling atas, sesampainya di lantai paling atas, Zirah Elang memerintahkan Kesatria untuk lompat bersamanya dari gedung parkir karena ia telah memanggil pesawat jet canggih miliknya yang ia sebut “Sayap Elang”. Tentu, Kesatria awalnya menolak karena jika meleset, ia akan jatuh dan ditangkap oleh para polisi dalam keadaan patah tulang. Namun, Zirah Elang meyakinkan bahwa, Kesatria hanya perlu mengikuti arahan dan juga aba-abanya maka akan selamat juga tidak meleset. Melihat tidak punya pilihan lain, Kesatria pun lompat bersama Zirah Elang dengan arahan dan aba-aba yang diberikan oleh vigilante elang itu. Alhasil mereka berhasil memasuki Sayap Elang dengan melompat secara tepat hingga masuk kedalam cockpit pesawat.


Polisi yang melihat Kesatria dan Zirah Elang telah masuk kedalam sebuah pesawat jet canggih, terus menembaki pesawat itu hingga rusak agar mereka bisa menangkap kedua vigilante itu. Namun usaha para kepolisian terlihat sia-sia karena Sayap Elang memiliki badan yang tahan dengan peluru dan juga pesawat jet telah melesat kencang meninggalkan gedung parkir kantor kepolisian.

  Kesatria dan Zirah Elang pun kini merasa aman karena para polisi telah tertinggal jauh dari mereka berdua, juga Zirah Elang mengaktifkan camouflage mode pada Sayap Elang yang membuat pesawat jet itu tak terlihat oleh mata dan tak terdeteksi oleh radar penerbangan. Kesatria bertanya pada Zirah Elang kemanakah sekarang mereka berdua akan pergi sekarang. Zirah Elang menjawab : 

   “Ketempat yang aman.” dengan singkatnya.

Tempat aman yang dimaksud Zirah Elang adalah markasnya yang berada di pinggiran kota dan terletak dibawah tanah. Saat turun dari Sayap Elang, Diana terkagum-kagum melihat markas bawah tanah yang dimiliki Zirah Elang yang bernama “Sarang”. Karena markas bawah tanah itu memiliki hanggar yang cukup besar untuk mendaratkan Sayap Elang secara vertikal, selain itu Sarang juga memiliki komputer yang sangat canggih, laboratorium forensik, tempat menaruh banyak senjata dan tempat display kostum yang Zirah Elang pakai selama aksinya. Vigilante elang itu juga meminta Diana melepaskan helm nya karena markasnya ini adalah tempat yang aman, namun Diana menolak karena tak mau mengungkapkan identitas di depan orang yang belum ia kenal betul. Tetapi Zirah Elang mengatakan bahwa ia sudah mengetahui orang dibalik kostum itu adalah Diana Saraswati, mantan detektif kepolisian yang kini keluar dan menipu orang-orang dengan menjadi guru karate yang sebenarnya itu hanyalah kedok untuk menutupi tujuan yang sebenarnya. Merasa identitasnya sudah terbongkar, Diana melepaskan helm nya. Melihat Diana sudah mengungkap identitasnya, Zirah Elang pun membuka tudung dan juga mask nya yang membuat Diana terkejut dengan sosok vigilante elang itu. Ternyata sosok dibalik topeng dan tudung Zirah Elang adalah seorang milyader kaya dan pemilik "PT Angkasa Enterprise" bernama Reza Raditya. Melihat itu, Diana tak menyangka bahwa orang yang selama ini dia anggap buruk karena terlihat suka berfoya-foya dengan kekayaan yang dimiliki, ternyata merupakan orang yang berbeda dari pandanganya selama ini. Diana juga bertanya mengapa sang vigilante elang itu mau mengungkap identitasnya sendiri padanya. Reza mengatakan untuk membangun rasa percaya lalu menyodorkan tangan nya untuk berjabat tangan dan kemudian Diana menjabat tangan Reza sebagai bentuk rasa percaya.

.  

  Setelah saling berjabat tangan, Reza mengajak Diana untuk ke laboratorium forensiknya untuk memperlihatkan sesuatu. Sesampainya di laboratorium, Diana melihat mayat yang tergeletak di meja pembedahan yang di kepalanya dipasang alat ukur gelombang otak. Diana bertanya pada Reza mengapa mayat ini dipasang alat ukur gelombang otak, Reza menjelaskan bahwa ia sedang meniliti mayat ini yang sebelumnya ia adalah seorang vigilante yang dengan terpaksa di bunuh oleh kepolisian karena membuat kekacauan di publik. 


Bagi Reza ada yang tak beres dengan perilaku vigilante ini, karena biasanya orang ini hanya melakukan vandalisme yang berkaitan dengan kritiknya pada pemerintah dan tidak sampai menyakiti orang, dan baru kali ini sang vigilante menyerang orang  secara sembarangan tanpa adanya sebab secara membabi buta sebelum ditembak secara terpaksa oleh polisi. Hal ini membuat Reza merasa tak wajar apalagi setelah melihat bagian amigdala dari vigilante itu mengalami peningkatan yang sangat tinggi dan pre frontal cortex nya tidak aktif. Dari semua informasi yang telah Reza berikan mengenai vigilante yang menyerang orang-orang ini, Diana mempunyai dua kesimpulan yaitu ada yang menghasut sang vigilante ini untuk menyerang orang-orang yang tak bersalah, atau ada kekuatan pengendali pikiran yang mengendalikan vigilante ini untuk melakukan tindakan penyerangan orang dengan tujuan tertentu. Setelah mendengar kesimpulan-kesimpulan yang diberikan Diana, Reza berpendapat bahwa kemungkinan ulah dari orang yang memiliki kemampuan mengendalikan pikiran itu ada, karena sebelumnya Reza melakukan kejahatan yaitu membunuh Dewo Pramono dalam kondisi tak sadar, seolah ada yang menggerakan pikiran dan tubuhnya.

  Ditengah kegiatan menganalisa mayat, ada seorang pria paruh baya masuk kedalam laboratorium forensik untuk memberi tahu Reza bahwa ada sesuatu yang mereka berdua dan menyuruh mereka untuk segera menuju ruangan komputer, karena ada informasi yang sangat penting. Reza dan Diana pun bergegas meninggalkan ruangan forensik dan menuju ke ruangan komputer dengan perasaan gelisah seolah mengetahui sesuatu buruk telah terjadi. Saat sudah di depan komputer dan melihat layar monitor, mereka menyaksikan berita banyak vigilante melakukan penyerangan, pengerusakan dan kekacauan lainnya di Jakarta, bahkan sampai memakan banyak korban. Karena kejadian yang sangat kacau ini, banyak pasukan khusus kepolisian yang disebarkan untuk menangani kekacauan yang disebabkan oleh para vigilante ini. Diana tak menyangka, bahwa kejadian ini terjadi dan ia menyaksikan dengan kepala dan matanya sendiri. Dari sini juga membuat Diana yakin, bahwa kemungkinan besar ada orang yang bisa mengendalikan pikiran orang lain, karena sangat tidak wajar baginya jika terjadi penyerangan dan pengerusakan secara masif dan serentak. Melihat semua yang terjadi, Diana berencana untuk kembali ke Jakarta dan menyelesaikan kekacauan yang telah terjadi. Namun, Reza menyarankan Diana untuk sementara ini tidak melakukan aksinya sebagai Kesatria sampai keadaan sudah mulai aman dan kondusif, begitupun juga dengan Reza yang meninggalkan sementara identitas Zirah Elang. Diana sempat bertanya pada Reza, siapa yang akan memberantas para kriminal saat Kesatria dan Zirah Elang tidak muncul sebagai pemberantas kriminal. Reza menjawab bahwa kemungkinan besar kepolisian bahkan militer akan menerapkan jam malam dan akan melakukan penjagaan di mana-mana, jadi untuk sementara, tugas mereka berdua digantikan oleh para polisi dan juga militer. Melihat situasi yang sedang tidak baik, Diana terpaksa istirahat dari tugasnya sebagai vigilante yang biasa memberantas kriminal dan pelindung kota. Reza juga menawarkan agar Diana diatar pulang oleh sang pria paruh baya yang ternyata merupakan asisten dari Reza dan juga Zirah Elang. Selain itu, Reza juga memberikan Diana pakaian ganti, karena tak mungkin Diana pulang masih mengenakan kostum Kesatria yang bisa membuat Diana ditangkap karena dikira vigilante yang ingin membuat onar. Tak lupa, Reza memberikan sebuah tas gym untuk membawa dan menyimpan kostum Kesatria agar tidak ketahuan orang-orang. Pada akhirnya Diana menerima tawaran untuk diantar pulang oleh sang asisten dan segera mengganti pakaian nya dengan pakaian yang diberikan Reza.

  Diana pun akhirnya diantar pulang menaiki mobil yang dimiliki oleh Reza dan disupiri oleh sang asisten. Selama perjalanan mereka membicarakan banyak hal, sehingga mereka menjadi akrab. Sang asisten itu memperkenalkan dirinya bernama Nandar Suhendar yang ternyata ia adalah paman dari Reza. Diana juga memperkenalkan dirinya dan sedikit menceritakan tentang dirinya agar suasana menjadi lebih cair. Ditengah suasana yang sudah cair, harus dibuat tegang ketika melihat suasana yang sangat kacau dan saat memasuki sebuah gerbang perbatasan kota Jakarta yang dijaga ketat oleh kepolisian dan sedang dilakukan pemeriksaan kendaraan yang hendak masuk ke Jakarta. Saat giliran mobil yang ditumpangi Diana diperiksa, ia berusaha tetap tenang dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan polisi yang sedang berjaga dengan lancar.


Melihat tidak ada yang mencurigakan, polisi mempersilahkan mobil yang ditumpangi Diana untuk masuk dan melanjutkan perjalanan nya.

duniakesatria3
Dunia Kesatria

Creator

Comments (0)

See all
Add a comment

Recommendation for you

  • Blood Moon

    Recommendation

    Blood Moon

    BL 47.7k likes

  • Silence | book 2

    Recommendation

    Silence | book 2

    LGBTQ+ 32.3k likes

  • What Makes a Monster

    Recommendation

    What Makes a Monster

    BL 75.4k likes

  • Invisible Boy

    Recommendation

    Invisible Boy

    LGBTQ+ 11.5k likes

  • Touch

    Recommendation

    Touch

    BL 15.5k likes

  • The Last Story

    Recommendation

    The Last Story

    GL 46 likes

  • feeling lucky

    Feeling lucky

    Random series you may like

Kesatria : Iblis
Kesatria : Iblis

78 views0 subscribers

Diana si mantan detektif kepolisian, kini menjadi sosok vigilante bernama Kesatria, sedang menghadapi sebuah kekuatan besar nan jahat yang telah menguasai pemerintahan.
Subscribe

11 episodes

Anti Vigilante

Anti Vigilante

8 views 0 likes 0 comments


Style
More
Like
List
Comment

Prev
Next

Full
Exit
0
0
Prev
Next