Sesampainya di depan pintu apartemen, Diana mengetuk pintu dan dibukakan oleh Marco. Mereka langsung berpelukan karena Diana merindukan suaminya, sementara Marco merasa lega istrinya selamat karena suasana diluar sangatlah kacau. Diana meminta maaf pada Marco kalau ia tak sempat mengambil motornya yang tertinggal dan tidak sempat diambil di kantor polisi. Memahami keadaan istrinya, Marco tak mempermasalahkan hal itu dan mengatakan bahwa motor itu masih bisa diganti dengan yang lain. Untuk menghilangkan penat, Marco mengajak Diana istrinya itu untuk istirahat dengan duduk santai di sofa sambil membicarakan mengenai perkembangan kasus yang sedang Diana tangani. Istrinya itu menceritakan bahwa ada kemungkinan besar seorang pengendali pikiran dibalik kejadian para vigilante mengamuk di publik, hal ini diperkuat karena ada kejadian janggal pada perilaku dari beberapa orang seperti kasus pembunuhan seorang wanita yang kemudian pelaku membunuh dirinya sendiri dan Zirah Elang yang membunuh Dewo Pramono secara keji, juga ditambah dengan adanya aktifitas amigdala yang meningkat dan tidak aktifnya pre frontal cortex pada mayat vigilante yang ia selidiki saat di markas Zirah Elang tadi. Menurut Marco, kemungkinan adanya pengendali pikiran itu bisa jadi nyata atau itu hanyalah rekayasa. Karena, dahulu pernah tersebar semacam video jurnal yang di unggah oleh sebuah akun bernama “drunknown” pada tahun 2006. Di video itu memperlihatkan seorang gadis kecil berusia sekitar lima tahun dan dua laki-laki dewasa yang sedang bertarung, pertarungan mereka sangatlah brutal seolah mereka ingin membunuh satu sama lain. Namun, tak lama kemudian gadis kecil itu menggerakan tangannya dengan melambaikan sekali kearah dua orang yang sedang bertarung itu. Hasilnya sangat mengejutkan, kedua pria yang sedang bertarung itu tiba-tiba pingsan secara mendadak seolah lambaian tangan gadis kecil itu yang membuat kedua pria itu tak sadarkan diri. Dari video itu sebenarnya bisa-bisa saja menjadi bukti adanya orang yang bisa mengendalikan pikiran orang lain. Namun, akun itu telah memberikan sebuah klarifikasi bahwa video yang ia unggah hanyalah sebuah rekayasa semata. Marco menyarankan Diana untuk sementara ini jika mau melakukan sebuah aksi, tak harus menjadi sosok Kesatria, melainkan bisa menggunakan penyamaran lain selain jika ingin melakukan sebuah aksi atau misi. Marco juga menyarankan istrinya untuk tidak melakukan aksinya sebagai seorang Kesatria untuk sementara, karena situasi sedang tidak kondusif untuk vigilante tampil di publik. Menyadari situasi yang sekarang, Diana merasa sangat bersedih dan takut akan sesuatu yang menurutnya akan terjadi. Sebagai suami yang baik, Marco bertanya apa yang istrinya itu takutkan. Diana menjawab :
“Aku sedih ga bisa bayar membayar janji-janjiku ke Budi dan aku takut suatu hari nanti dia datang karena aku gabisa menepati janjiku….” sambil meneteskan air mata.
Marco yang melihat Diana mulai menangis, langsung memeluk dan mencium kening istrinya sambil berusaha menenangkan agar tidak bersedih secara terus menerus.
Waktu terus berlalu selama dua bulan semenjak kejadian para vigilante mengamuk dan membuat kekacauan, keadaan justru semakin parah dan banyak aparat penegak hukum dan orang-orang yang tak berdosa menjadi korban keganasan dari para vigilante. Presiden secara terpaksa mengajukan undang-undang yang melarang secara tegas aktivitas vigilante dan memperbolehkan aparat penegak hukum mengeksekusi para vigilante di tempat jika orang itu dikenal sebagai vigilante atau orang biasa yang melakukan tindakan yang menjurus ke aktifitas layaknya para vigilante lakukan, pengajuan undang-undang yang diajukan oleh presiden ini, disahkan dan langsung diterapkan sebagai aturan yang berlaku dan pasukan polisi bersenjata disebarkan dimana-mana untuk siap menjaga dan mengeksekusi jika ada vigilante yang beraksi di publik demi keamanan bersama.
Dari semua berita yang dilihat baik di media sosial dan tv, Membuat Diana secara terpaksa meninggalkan pekerjaan nya sebagai vigilante yang setiap malam memberantas kriminal dan hanya menjadi warga sipil biasa yang tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak ada kebahagiaan di dalam diri Diana diwaktu yang sebenarnya bisa ia gunakan untuk beristrirahat. hanya ada kesedihan, ketakutan dan kekhawatiran yang ada dalam diri Diana.
Melihat semua itu, Diana merasa tidak bisa diam dan menunggu sampai situasi sudah mulai membaik yang entah kapan bisa terjadi. Alhasil, Diana menghubungi sang presiden, Arya Gunawan untuk bertemu karena ada sesuatu yang ingin ia sampaikan mengenai situasi yang sangat kacau sedang terjadi diluar sana. Arya dengan kesibukannya sebagai presiden yang sedang mengerjakan banyak hal, mau menyanggupi untuk membicarakan perihal situasi yang sedang kacau diluar sana dengan mengundang Diana dan juga Marco untuk makan malam bersama secara privat di istana besok malam. Melihat itu sebuah kesempatan, Diana menyanggupi permintaan Arya yang mengundangnya sebagai tamu di acara makan malam, namun ia memberi tahu Arya bahwa Marco tak bisa datang ke acara makan malam karena harus lembur di kantornya, sehingga ia harus datang sendiri dan Arya paham akan hal itu. Selesai mengobrol di telepon, Marco yang sedari tadi mendengar pembicaraan Diana dan juga Arya, menyarankan agar istrinya itu menggunakan contact lens yang bisa merekam untuk melihat semua yang terjadi selama makan malam, karena ia sudah mulai mencurigai presiden kalau sebenarnya dalang dibalik semua ini, dan mereka nanti akan menganalisa hasil rekaman setelah ia selesai lembur.
Keesokan malamnya, Diana datang ke istana sendiri dan langsung disambut oleh Arya sendiri dan juga beberapa bodyguard nya. Diana langsung diajak masuk kedalam istana dan diantar langsung ke sebuah ruangan yang terdapat meja makan yang besar dan ia diarahkan untuk duduk di samping depan Arya. Sebelum makan malam dihidangkan, membicarakan tentang kabar masing-masing dan obrolan ringan lainnya sampai datang hidangan pembuka yaitu bakwan jagung. Setelah menikmati hidangan pembuka yaitu, datanglah hidangan pokok berupa soto betawi dengan nasi putih hangat yang ditaburi bawang goreng. Setelah hidangan pokok dihabiskan oleh mereka berdua, keluarlah hidangan penutup yaitu martabak keju susu yang sangat lezat rasanya, Diana mengatakan bahwa makanan yang dihidangkan dari hidangan pembuka higga hidangan penutup sangatlah lezat dan mengapresiasi semua orang yang telah menyiapkan semua ini.
Saat sedang menikmati martabaknya, Diana hendak membicarakan soal kekacauan yang terjadi diluar sana. Arya menjawab :
“Gua cuman mau negara ini jadi tempat yang aman untuk kita semua.” dengan memperlihatkan frustasi nya mengurus semua kekacauan yang terjadi.
Diana mengatakan bahwa Arya tak harus membuat undang-undang anti vigilante, karena baginya para vigilante juga berkontribusi menjaga masyarakat dan mengingatkan pemerintah jika ada kekeliruan. Namun, Arya mengatakan bahwa sekarang semuanya telah berubah, para vigilante yang dulu pernah ia percayai sebagai penjaga masyarakat diluar kepolisian, kini bertindak seolah melawan pemerintah bahkan negara, yang hanya ia inginkan kini adalah kedamaian dan keamanan untuk rakyat-rakyat yang ia cintai. Diana bertanya pada Arya, siapakah yang akan menegakan keadilan dan meluruskan pemerintah jika berbuat kekeliruan. Arya menjawab bahwa untuk menerapkan undang-undang yang ia ajukan, para penegak hukum sudah dipilih sebagai orang-orang memiliki integritas yang tinggi dan track record bersih selama menjabat, ia juga mengatakan bahwa ada perbedaan antara orang pengkritik sungguhan dan tukang buat onar dengan dalih sistem yang korup, kini ia hanya melihat orang-orang yang memanfaatkan kekacauan dengan berkedok korupnya moral dan sistem. Oleh karena itu, Arya menciptakan sebuah sistem agar rakyat lebih mempercayai pemerintahnya dalam segala aspek dari mulai keamanan hingga keadilan. Diana yang kecewa dengan jawaban Arya, bertanya pada sang presiden :
“Pak presiden, apa anda pernah benar-benar turun ke jalan dan mendengar langsung frustrasi rakyat selama ini?” dengan senyum menyindirnya.
Mendengar itu, Arya hanya bisa diam seolah kehabisan kata-kata dan jawaban untuk pertanyaan yang Diana yang satu ini. Setelah membuat sang presiden kehabisan kata-kata, Diana mengutarakan kekecewaan nya pada pemerintah yang tak berusaha merangkul semua kalangan baik pada orang-orang pro pada kebijakan-kebijakan pemerintah maupun pada orang-orang kontra dengan kebijakan-kebijakan pemerintah. Diana mengatakan bahwasanya pemerintah hanya menganggap orang-orang yang setuju dengan undang-undang adalah rakyatnya sementara yang tidak setuju bukan rakyatnya. Diana juga mengutarakan rasa bersalah dan menyesalnya datang ke makan malam mewah ini bersama sang presiden disaat banyak orang-orang diluar sana kelaparan. Setelah mengutarakan semua kekecewaannya, Diana meninggalkan meja makan untuk segera pulang karena merasa tak perlu ada lagi yang didiskusikan. Saat sudah hendak berjalan meninggalkan Arya, Presiden bertanya :
“Kalo saya boleh tau, apa alasan anda keluar dari kepolisian?” sambil tersenyum.
“Itu bukan urusan anda, Pak!” dengan kesal lalu benar-benar pergi meninggalkan ruang makan istana.
Arya hanya tersenyum sambil seolah memahami perasaan yang Diana rasakan.
Sesampainya dirumah Diana segera melepas contact lens yang terpasang di matanya lalu diberikan kepada Marco untuk melihat rekaman selama berada di istana. Saat sedang meninjau ulang rekaman bersama, Marco melihat sosok wanita mengenakan mask merah yang menutupi mulut dan hidungnya dengan rambut berponi, ia merasa sosok itu tak asing baginya dan tak menyangka sosok itu menjadi bodyguard dari presiden. Diana menanyakan apakah suaminya itu tahu siapa sosok itu. Marco tak tahu pasti siapa sebenarnya sosok itu, namun sosok itu memiliki mata dan gaya rambut yang mirip dengan Adela Saphira, seorang influencer sosial media yang sangat terkenal dan juga pemilik brand fashion wanita beranama “Beauty & Elegant”. Diana merasa aneh, kalau orang ini adalah Adela Saphira, mengapa orang itu mau menerima pekerjaan menjadi bodyguard dari presiden, ia tahu kalau Adela Saphira sempat mendukung Arya dalam menjatuhkan presiden sebelumnya karena ketahuan melakukan korupsi dan penggelapan dana, tapi baginya ini berlebihan dan tak biasa. Namun, Marco mengingatkan istrinya itu, bisa saja itu hanyalah orang yang mirip dengan Adela Saphira, karena mereka belum melihat wajah bodyguard itu secara keseluruhan. Untuk saat ini mereka belum menemukan identitas dari bodyguard presiden itu yang padahal bisa saja menjadi sebuah petunjuk dalam investigasi ini.

Comments (0)
See all