Malam hari, di sebuah gedung tua yang sudah tertinggal, sedang diselenggarakan sebuah rapat antar orang-orang yang menjalankan bisnis haram. Mereka membahas tentang keberlangsungan bisnis mereka di masa-masa yang menenangkan untuk para penjahat seperti mereka, serta kekhawatiran mereka jika para vigilante melakukan pergerakan dengan menyamar menjadi orang-orang mereka, hal ini dikarenakan ada laporan mereka dari intel mereka yang mengatakan ada dua penyusup di laboratorium Bios yang terindikasi sebagai vigilante yang menyamar. Ditengah rapat, datanglah sosok Sang Iblis yang membuat satu ruangan menjadi terdiam melihat kedatangan sosok itu seolah sangat dihormati ditakuti oleh mereka semua. Sang Iblis menanyakan mengapa di masa-masa tenang ini mereka masih melakukan rapat di tempat yang tersembunyi juga terbengkalai layaknya pada masa vigilante masih menjadi pengawas. Salah satu orang dirapat itu mengatakan bahwa kini para vigilante melakukan pergerakan yang diluar perkiraan mereka. Sang Iblis mengetahui maksud dari mafia itu adalah kejadian dimana ada dua orang vigilante menyusup untuk mencuri sebuah informasi di laboratorium Bios dan ia juga mengetahui kedua orang vigilante itu adalah Kesatria dan juga asisten dari Zirah Elang, karena terlihat dari cara pergerakannya. Sang Iblis mengatakan bahwa ia telah memiliki rencana untuk menangkap Kesatria, Zirah Elang dan juga sang asisten untuk mengakhiri mimpi buruk para tuan-tuan dan puan-puan yang ada dirapat ini. Selain itu, Sang Iblis juga mengingatkan kepada mereka semua bahwa presiden dan pemerintahan sekarang ini mudah ia kendalikan. Tak lama setelah itu, salah seorang bodyguard dari Sang Iblis menodongkan pistol ke kepala mafia bertopeng iblis itu, namun Sang Iblis yang lebih cepat berhasil menembak duluan kepala dari bodyguard dan membuat orang itu tewas seketika, Sang Iblis juga menanyakan apakah mereka semua masih meragukan kehebatan dan rencananya. Kejadian itu membuat semua orang yang ada diruangan rapat itu terkejut terkecuali Sang Iblis, sehingga mereka mempercayai dan mau mendengarkan pria bertopeng iblis itu.
Siang hari, Dr Fay yang sedang melakukan konsultasi bersama anak yang kedua orang tuanya tewas secara mengenaskan, mendapat banyak informasi setelah ia berusaha berbulan-bulan mengurangi trauma pada anak itu, sang anak yang keadaannya sudah mulai membaik, menceritakan segalanya dan memberikan informasi terkait dalang dibalik kematian mengenaskan kedua orang tuanya. Setelah menyelesaikan sesi konsultasi yang berlangsung selama berjam-jam, Dr Fay menelpon Diana karena ia mempunyai informasi tentang dalang dibalik pembunuhan kedua orang tua dari sang anak. Mendengar itu, Diana mengajaknya untuk bertemu di rooftop nanti malam di tempat Kesatria dan Fitri biasa bertemu dan mendiskusikan permasalahan investigasi. Diana juga akan memberikan lokasi rooftop yang ia maksud kepada Dr Fay.
Malam hari, disebuah lift gedung yang interior nya sangat antik, terdapat Dr Fay yang sedang menunggu lift itu membawanya ke lantai paling atas yaitu rooftop. Sesampainya di rooftop, ia bertemu Kesatria, Fitri dan Zirah Elang. Kesatria memperkenalkan Dr Fay kepada Fitri dan Zirah Elang sebagai orang yang juga membantunnya menyelesaikan kasus-kasus. Kesatria juga menanyakan pada Dr Fay mengenai informasi yang berkaitan dengan dalang dibalik pembunuhan kedua pasangan suami istri yang meninggalkan anak mereka. Dr Fay memberikan informasi bedasarkan saksi dari anak itu bahwa ada pihak ketiga yang mempengaruhi sang ayah untuk membunuh sang ibu sendiri sebelum sang ayah membuhuh dirinya sendiri.
Sang ayah melakukan dua hal itu dengan tatapan kosong seolah seperti mayat dan rasa ketakutan menghindari sesuatu yang baru saja ia alami, hilang begitu saja secara instan, selain itu sang anak mengatakan sang pelaku menggunakan sebuah mask yang menutupi mulut berwarna merah dan juga gaun merah dengan terbuka di beberapa bagian. Mendengar semua itu, Diana dan Zirah Elang memiliki kesimpulan bahwa pelaku yang membunuh sang ayah dan sang ibu, adalah wanita Lady Hypnos yang tak lain adalah Adela Saphira. Mendengar apa yang dikatakan Kesatria dan Zirah Elang, Dr Fay dan Fitri benar-benar terkejut karena mereka berdua tak menyangka bahwa Adela Saphira adalah seorang manusia dengan kekuatan super. Kesatria juga mengatakan bahwa semuanya harus bersatu untuk melawan dan menangkap Lady Hypnos ini, agar menghentikan kekacauan ini.
Saat menyebutkan kata Lady Hypnos, tiba-tiba terdengar suara yang seolah mengkoreksi sebuah nama panggilan dengan mengatakan :
“Madam Merah, sayang.” dengan terdengar sangat jelas seolah suara itu berasal dari belakang mereka berempat.
Mereka terkejut karena kedatangan Madam Merah dan juga Sang Iblis yang sedari tadi sudah mengawasi mereka ditempat itu. Sang Iblis mengatakan bahwa mereka telah kalah dan tak siapapun bisa mengalahkannya. Madam Merah langsung mengarahkan tangannya kearah Kesatria yang seketika membuat vigilante itu mengalami pusing dan mendengar suara-suara Madam Merah dalam kepalanya.
Selain banyak suara yang membisikan mengenai hal-hal-hal traumatis, Madam Merah juga memberikan Kesatria ilusi dirinya yang menjadi Diana kecil yang sedang mengalami pengalaman traumatis di masa lalu seperti momen dimana Diana kecil sering mendapat penganiayaan dari pengurus panti asuhan, Diana bersama anak-anak panti lain diperlakukan layaknya budak dan momen dimana ia secara tak sengaja membunuh pemilik panti asuhan karena mempertahankan dirinya yang hendak diperkosa oleh manusia bejat itu, momen itu menjadi traumatis karena itu adalah pertama kalinya menghilangkan nyawa orang. Momen terjebak dalam memori traumatis dan tubuh Diana kecil berlangsung cukup lama, sehingga ia merasakan kepedihan yang begitu mendalam.
Dibelakang layar, Marco yang mengawas dibalik komputer, melihat Kesatria bergerak tidak karuan dan melihat ada sosok Sang Iblis dan Madam Merah yang sedang memanipulasi pikiran vigilante itu. Menyaksikan semua itu, Marco memiliki ide untuk mengaktifkan alat pelacakan yang sudah dipasang pada kostum Kesatria untuk mempermudah mencari vigilante itu. Selain itu, Marco menghubungi Nandar untuk segera menjemputnya untuk berjaga-jaga jika mereka harus pergi ke suatu tempat untuk menyelamatkan Kesatria, Zirah Elang, Dr Fay dan Fitri sang detektif kepolisian.
Saat ilusi itu berakhir, Kesatria tersadar dengan keadaan tangan terborgol di sebuah ruangan tahta berukuran sangat besar yang didominasi dengan ornamen-ornamen iblis, Sang Iblis duduk di kursi tahta juga ada Madam Merah yang duduk disamping Sang Iblis, selain itu juga terdapat bawahan-bawahan Sang Iblis yang berdiri menghadap sang vigilante dari mulai penegak hukum, pejabat negara, public figure, para pemilik perusahaan, para tokoh masyarakat hingga preman-preman jalanan. Melihat Kesatria sudah sadar, Sang Iblis menyambutnya di istana megahnya, Sang Iblis memuji kegigihan Kesatria dan teman-temannya dalam melindungi kota dan memberantas kejahatan yang ia umpakan sebagai utusan Tuhan, namun orang bertopeng iblis itu mengatakan kalau Kesatria tak akan bisa menghentikannya, karena kini ia menguasai negara ini. Kesatria mengatakan hal itu tidak akan terjadi, karena ia telah merekam semuanya lewat contact lens miliknya. Sang Iblis mendekati dan melepaskan topeng dan juga rambut panjang palsunya dihadapan Kesatria dan mengatakan bahwa contact lens nya telah ia lepas sehingga barang bukti telah hilang. Kesatria terkejut, mengetahui orang dibalik Sang Iblis adalah Arya Gunawan sang Presiden.
Arya mengatakan tujuan yang sebenarnya yaitu mewarnai dunia ini dengan kebebasan layaknya tujuan iblis membebaskan dari aturan dan kekangan Tuhan, dengan cara apapun walau harus mengorbankan banyak hal sekalipun, karena baginya itu adalah harga yang harus ia bayar. Arya juga meyakinkan Kesatria bahwa ia bukanlah orang jahat seperti yang banyak orang katakan mengenai sosok Sang Iblis, ia justru ingin membantu vigilante itu memahami mengenai arti kebebasan yang sesungguhnya. Kesatria mengatakan bahwa tahu bagaimana kebebasan itu seperti apa, dan mengatakan bahwa kebebasan yang Arya pahami itu sama sekali salah. Tak menyerah dengan Kesatria, Arya mulai memanipulasi pikiran dengan membawa-bawa masa lalu dari Kesatria yang pernah direnggut kebebasannya saat masih kecil, selain itu ia membuat vigilante itu mempertanyakan aksi-aksi vigilantisme yang dicap sebagai tindakan yang selama ini diyakini sebagai menegakan kebenaran atau sebatas melampiaskan dendam akibat dendam sejak kecil, ini dikarenakan terkadang Kesatria menghajar para kriminal secara brutal walaupun sebenarnya pelaku kriminal itu tak melakukan tindakan kriminal yang tidak bisa diampuni, ia juga mengatakan bisa memberikan apapun yang Kesatria inginkan termasuk terciptanya keadilan dan kebebasan yang berjalan secara bersamaan. Akibat perkataan dan rayuan-rayuan dari Arya, Kesatria mengalami konflik dalam dirinya bahwa apakah yang selama ini ia lakukan adalah hal yang benar atau sebuah kesalahan yang tak ada bedanya dengan pelaku kriminal lainnya.
Ditempat lain, Fitri, Dr Fay dan Zirah Elang yang mask nya telah dibuka, pada akhirnya tersadar dari pingsan mereka, terbangun di dalam sel penahanan yang dijaga ketat oleh para anak buah Sang Iblis. Menyaksikan semua ini, Fitri dan Dr Fay tak menyangka kalau ada manusia super yang bisa memanipulasi pikiran orang lain, karena mereka juga merasakan pikiran mereka dimanipulasi dengan dimunculkan memori-memori yang terlihat sangat nyata padahal tidak, Dr Fay menceritakan pengelihatannya mengenai momen ketika dahulu suaminya masih hidup dan sedang berdansa dengan diiringi instrument jazz dirumah mereka, sementara Fitri mengalami pengelihatan masa lalunya dimana ia menemani ibunya yang dirawat di rumah sakit dan menyaksikan ibunya meninggal dihadapannya. Berbeda dari mereka berdua, Reza tak dimanipulasi pikirannya, melainkan Zirah Elang atau Reza bertarung melawan Sang Iblis, yang ternyata tak hanya bersama dengan Madam Merah saja, melainkan juga bersama anak buahnya yang sedari awal bersembunyi di tempat mereka bertemu tadi, sehingga ia harus bertarung melawan mereka semua. Pada awalnya, Zirah Elang bisa melumpuhkan kebanyakan dari mereka termasuk Sang Iblis itu sendiri, namun dengan kelicikan yang dimiliki orang bertopeng iblis itu, berhasil menemukan celah kelemahan pada kostum Zirah Elang yang tidak dilindungi oleh bahan kebal peluru dan sayatan, sehingga Sang Iblis bisa menyayat bagian yang tidak terlindungi itu dengan pisau miliknya hingga vigilante elang itu kewalahan karena banyaknya luka pada tubuhnya. Agar memastikan Zirah Elang benar-benar tidak melawan lagi, Sang Iblis menyetrum vigilante elang itu menggunakan taser gun miliknya hingga Zirah Elang pingsan.
Saat sedang bercerita di dalam jeruji, datanglah dua anak buah Sang Iblis yang mengagetkan Reza, Dr Fay dan juga Fitri karena dua anak buah Sang Iblis itu menembak para anak buah Sang Iblis lainnya yang menjaga sel kemudian membukakan pintu sel mereka bertiga. Agar tidak dicurigai, kedua anak buah Sang Iblis itu membuka topeng iblis mereka yang ternyata adalah Marco dan juga Nandar yang berhasil melacak mereka semua dengan kostum yang sudah dipasang pelacak. Marco dan juga Nandar memberikan senjata dari penjaga yang sudah tewas ke Fitri, Dr Fay dan juga Reza untuk berjaga-jaga jika bertemu anak buah Sang Iblis lainnya atau bahkan sampai bertemu Sang Iblis itu sendiri. Mereka pun kini hendak meninggalkan sel penahanan, namun sebelum benar-benar meninggalkan sel penahanan Reza mengambil mask Zirah Elang yang diambil oleh para anak buah Sang Iblis sewaktu masih menjaga sel penahanan.
Setelah keluar dari sel penahanan, mereka membagi dua berpencar dan membagi tugas, tim pertama yaitu Zirah Elang, Fitri dan juga Nandar akan mencari dimana Kesatria berada, sementara Marco bersama Dr Fay akan mencari jalan keluar juga akan mengarahkan Zirah Elang, Fitri dan juga Nandar ketika mereka sudah menemukan Kesatria. Mereka pun pada berpencar untuk menyelesaikan tugas yang telah mereka diskusikan tadi, Zirah Elang, Fitri dan Nandar terus menyusuri lorong demi lorong, memeriksa setiap ruangan untuk mencari Kesatria yang sedang ditahan entah dimana, bahkan juga di dalam pencariannya mereka bertiga menghadapi dan bertarung dengan para anak buah Sang Iblis yang sedang berpatroli di lorong-lorong. Sementara di tempat lain, Marco dan Dr Fay berhasil menemukan jalan keluar yaitu sebuah loading dock yang mengarahkan mereka keluar dari kastil Sang Iblis yang sepertinya terdapat di bawah tanah, juga terdapat sebuah truk yang bisa dicuri untuk segera pergi dari tempat ini. Karena sudah menemukan jalan keluar, Marco menghubungi Nandar yang sedang bertarung melawan para anak buah Sang Iblis kalau ia dan Dr Fay sudah menemukan jalan untuk keluar. Nandar meminta Marco dan Dr Fay untuk mencari tempat bersembunyi di sekitar jalan keluar mereka nanti. Setelah selesai berkomunikasi dengan Marco, Nandar beserta Zirah Elang dan juga Fitri melanjutkan pertarungan mereka dan berhasil mengalahkan para anak buah Sang Iblis yang ternyata kemampuan bertarung mereka tidak terlalu hebat dan diluar dugaan mereka. Saat lanjut bergerak untuk mencari Kesatria, tiba-tiba muncul Sang Iblis bersama Madam Merah dan yang tak terduga bersama Diana yang sedang dilepas helm Kesatria juga dalam keadaan tatapan yang kosong. Zirah Elang yang melihat Diana dalam keadaan seperti itu, langsung mengetahui bahwa wanita itu sedang dalam pengaruh dari Madam Merah. Sebelum menyerang, Diana mengatakan :
“Kalian menghancurkan hidupku….” Dengan tatapan kosong.
Tentu itu membuat Zirah Elang, Fitri dan Nandar menjadi kebingungan dengan maksud perkataannya lalu kemudian menyerang mereka bertiga. Pertarungan pun terjadi dengan Diana melawan Zirah Elang, Nandar juga Fitri begitu sengit bahkan brutal.
Hal ini dikarenakan selama pertarungan, Diana terus-terusan bergumam mengenai kejadian traumatis yang ada di panti asuhan. Sehingga, Zirah Elang memiliki kesimpulan kalau kemungkinan di pengelihatan Diana adalah orang-orang di panti asuhan nya dulu yang menyiksanya. Fitri yang melihat Sang Iblis dan Madam Merah hanya menonton mereka berempat sedang bertarung, hendak menembak mereka berdua dengan pistol yang ia ambil dari anak buah Sang Iblis saat di sel penahanan tadi. Namun, aksi Fitri ini berhasil digagalkan oleh Diana dan menyerangnya hingga Fitri kewalahan. Tak berhenti sampai disitu, Diana hendak memenggal kepala Fitri menggunakan retractable sword miliknya, namun aksinya itu berhasil digagalkan oleh Zirah Elang yang menangkis menangkap tangannya yang hendak mengayunkan pedang ke kepala Fitri, sehingga pertarugan antara Kesatria melawan Zirah Elang juga Nandar berlanjut dan berlangsung sangat sengit. Pada akhirnya Zirah Elang bisa mengalahkan Diana yang bertarung dengan sangat brutal.

Comments (0)
See all