Semuanya meremehkan gadis itu.
“Aku tidak melakukannya.” Gadis itu, Kirie, setelah tak terlihat ingin mengatakan apapun, akhirnya berucap, seakan-akan sedang berteguh dengan keinginan kuatnya untuk memberikan testimoni sebenarnya.
“Meski aku tak mempunyai uang, aku tak akan mengambil secara paksa–apalagi memalak orang, lebih-lebih memukulnya. Mereka duluan yang mendorongku dan melakukan hal-hal buruk, aku hanya membela diri. Mengapa aku harus minta maaf kalau tidak salah?”
Kebenaran. Gadis itu mengutarakan testimoni sebenarnya. Suaranya menggaung di tengah keheningan, lantas terpecahkan seketika dengan wajah tak percaya—terutama wajah para ‘korban’ dan walinya. Sangatlah palsu, menuai rasa jemu Yata-garasu, sebab ia sudah tahu betapa munafiknya manusia-manusia ini.
“Apa kamu menuduh anakku yang tinggal di keluarga berada, justru memalakmu? Apa kamu sudah gila? Mana buktinya? Dari semua orang, kamulah yang seharusnya dicurigai, terutama kamu yang tak memiliki orang tua! Berani-beraninya—!”
Salah satu wali langsung menuding Kirie, tak terlihat mendengarkan testimoninya, tetap terus membela anaknya. Keadaan rapat yang terasa hanya mengeksekusi Kirie, kembali gaduh.
Bila mereka adalah manusia yang waras, sudah seharusnya mereka menginvestigasi kasus ini supaya tak berat sebelah. Yata-garasu telah berpikir demikian, mulai mengambil kesimpulan bahwa mereka sepertinya–para wali dan beberapa guru di komite ini–berkomplotan, sikap yang hanya ingin menyelamatkan ‘wajah’ mereka.
“Nak Tenmujin, kamu tidak boleh berbohong seperti itu. Bagaimana kalau kamu katakan sejujurnya, atau kami panggil walimu ke sekolah besok?”
Bagaikan panah beracun telah ditembakkan dan menembus hatinya, Kirie merasakan hatinya melengos, dengan dahi yang mengkerut dan menatap balik guru yang tetap memojokkannya seperti ini.
“Aku tidak berbohong. Panggil saja waliku.” Gadis itu tetap bersikeras, meskipun ia tahu bila menemukan walinya sepertinya akan lebih sulit. Yata-garasu menahan diri untuk bertepuk tangan karena keteguhannya. Untuk anak seumurannya, bila sudah diintimidasi, biasanya akan merasa takut–apa yang sedang ia pikirkan dengan menantang mereka tanpa kekuatan seperti itu? Apakah ia akan menerima nasibnya begitu saja dan membawa kebenaran sampai mati?
Rapat ini terpaksa dihentikan secara menggantung, keputusan berakhir dengan kedua pihak memutuskan untuk menginvestigasi lebih lanjut. Semua orang tak terkecuali Yata-garasu melangkah keluar ruangan, hendak kembali ke kantor guru dan mempersiapkan diri untuk jam pelajaran terakhir.
Kalau saja tak ada seseorang yang kini menghampirinya, mengatakan bahwa ia dicari dan sedang ditunggu di suatu tempat. Memiliki firasat bahwa ini akan berjalan tidak baik, ia mengirimkan pesan ke dua orang melalui ponselnya, kemudian mengikuti orang itu ke suatu tempat. Yata-garasu mengingat wajah orang yang menyampaikan pesan ini, ia adalah seorang guru matematika mengajar kelas 1, akan tetapi bukan itu yang membuatnya merasa curiga terhadap isi pesannya—mengapa wajahnya terlihat ketakutan?
Yata-garasu pun menemukan jawabannya saat tempat yang ia datangi justru di gerbang sekolah. Terdapat dua orang menunggu, pakaian mereka terlihat rapi karena menggunakan jas setelan formal, menggunakan kacamata hitam, seperti seorang pengawal khusus. Ketika Yata-garasu menolehkan kepalanya ke guru yang memberikan pesan, guru tersebut telah pergi tanpa pamit.
“Anda adalah Yamato Kotaro? Lebih baik anda ikut kami untuk membicarakan hal penting.”
Pada awalnya, Yata-garasu tak terlihat akan berkompromi, ekspresinya tak berubah selain menatap mereka dengan tatapan datar, namun terasa menusuk. Kedua pengawal itu sempat terlihat goyah, terutama saat melihat Yata-garasu yang ternyata lebih tinggi dari mereka–walau hanya beberapa senti, ada sesuatu yang lain dari Yata-garasu membuat naluri mereka merinding. Akan tetapi, tugas adalah tugas, kedua pengawal itu tak bisa pergi hanya karena merasa takut.
Takut? Takut akan apa? Dia hanyalah seorang guru. Apa yang ditakutkan?
“Pertama-tama,” Yata-garasu akhirnya membuka mulutnya, suaranya yang tenang dan tak berguncang dengan perawakan pengawal itu sempat membuat kedua pengawal terheran, “saya masih ada jam mengajar. Jika anda memiliki keperluan yang penting, ada baiknya untuk menunggu hingga jam pulang.”
“Ha! Cuma guru saja banyak tingkah.” Salah satu pengawal menyela, kemudian dilanjutkan oleh pengawal lainnya, “Apakah anda takut? Tidak akan lama kok, urusannya. Kami sudah bisa memastikan anda bisa kembali dengan utuh.”
Yata-garasu jelas merasakan adanya intonasi ancaman, sehingga tatapannya pun semakin tajam. Ternyata mereka memang tak berniat untuk menyembunyikan diri, ya?
“Saya mengajari anda etika, itu bila anda masih memiliki akal sehat dan tidak kosong.” Yata-garasu menegaskan sembari membetulkan letak kacamatanya, kedua pengawal itu tak sadar telah melakukan selangkah mundur kebelakang, lagi-lagi bingung, mengapa insting mereka mengatakan bahwa orang ini berbahaya?
“Jika anda mengerti, maka datanglah selepas jam sekolah usai di tempat yang sama. Saya hanyalah seorang guru, maka sudah sewajarnya bila saya menunaikan tugas terlebih dulu.”
Yata-garasu pun membalikkan badan, tak menggubris kedua pengawal tersebut yang sedang terpaku dan kembali ke dalam sekolah untuk mengajar.
Kirie telah diizinkan untuk pulang lebih awal karena keputusan rapat komite sebelumnya dan ia diarahkan untuk melakukan visum mengenai pengakuannya mendapatkan perundungan. Di ruang UKS, guru yang berjaga di sana telah membantunya, beruntung, sang guru merupakan wanita, sehingga Kirie tak perlu khawatir saat pengambilan foto bukti.
Ketika seragamnya telah dibuka, sang guru sempat tak mempercayai apa yang telah ia lihat. Luka memar hampir menutupi setiap sudut di badan Kirie, jika ada yang hampir sembuh, ada pula yang terlihat masih baru. Tak mengherankan bila mereka sengaja menghindari melukai wajah, supaya meyakinkan bila Kirie baik-baik saja.
Kirie tahu bila guru yang menjaga ruangan ini terlihat tak mengeluarkan sepatah kata, hanya memandangnya dengan rasa kasihan–rumor yang ia dirundung sudah menyebar akibat rapat hari ini. Merasa visum telah selesai dilakukan, ia menenteng tasnya dan melangkah keluar dari ruangan ini untuk pulang.
Gadis itu telah terbiasa dengan situasi ini, tak ada orang yang menolongnya, alih-alih seorang wali akan datang untuk menyelamatkan situasinya, karena situasinya yang unik. Sembari berjalan di koridor yang hening, Kirie setengah melamun, sepertinya tak kepikiran ingin langsung pulang.
Ia baru sadar ketika koridor yang dilaluinya tampak tidak asing, namun kekosongan area ini membuatnya merasakan hal yang lain. Celingukan, bingung, mengapa ia lupa jalan keluar area ini? Apakah ada sesuatu yang menjebaknya di sini?
“Ehh, ‘gimana caranya keluar ya..?” Gumam sang gadis, karena tak melihat arah ke depan, ia tak sadar bila ternyata akan menabrak seseorang–untungnya, jalannya tidak cepat, sehingga ia tak terdorong mundur akibat rekoilnya. Di hadapannya, ternyata seorang pemuda dengan setelan janitor, lengkap sebuah sapu di tangannya yang terbungkus sarung tangan.
“Ah, om Keiron!” Wajah Kirie sumringah, tapi wajah Keiron mengecut karena dipanggil om.
“Sudah kubilang, panggil aku ‘Kak’! Dih, aku masih muda tahu!” Protesnya, terlihat ekornya berkibas cepat, mirip sekali seperti saat anjing sedang marah. Kirie yang melihatnya, benar-benar jelas, bentuk ekornya yang berbeda–bersisik tajam? Ia penasaran, ingin menyentuhnya.
“Semuda apa, memangnya?” Penasaran, gadis itu bertanya akhirnya, lantas membuat Keiron terdiam sejenak, menolak untuk menjawab pertanyaan umur. Satu detik, lima detik, satu menit–Kirie menatapnya dengan penuh harap, polos, penasaran–Keiron mengalihkan wajahnya, tak mau melihat pandangan memohon itu.
“Aaah~! Lihat itu! Ada hantu!” Keiron, menunjuk ujung koridor sebagai pengalihan, Kirie yang termakan umpan, langsung menolehkan kepalanya sesuai Keiron tunjuk.
“Eh, benar!” Bukannya takut, Kirie juga ikutan menunjuk ujung koridor sana. Keiron mengira yang asal tunjuk, akhirnya ikutan menoleh ke arah ia menunjuk.
Sosoknya yang setengah transparan, masih remaja, kepalanya hanya terlihat setengah dengan tengkorak pecah mencuat dan darah mengalir melalui kepala setengahnya, bola matanya hanya satu dan satunya kantung kosong seperti pandangannya, wajahnya sedikit miring seperti membentuk karena benturan keras–menatap kedua orang yang menunjuknya, juga menggunakan jari telunjuknya yang bengkok, menunjuk dirinya. Intinya, ketiga makhluk itu sama-sama saling tunjuk, terlihat saling kebingungan.
“Tolong…?”

Comments (0)
See all