Pertama kali ku melihatnya, aku bisa merasakan rasa kehilangan mendalam, takut begitu besar akan nasibnya ditempat ini dan amarah yang begitu membara pada dirinya. Aku tak tahu apa yang Kesatria Berzirah itu rencanakan padanya, namun sepertinya itu bukanlah hal yang terlihat baik.
Aku melihat ia dilatih dengan amat sangat keras oleh Kesatria Berzirah itu, disiksa dan menghadapi misi-misi berbahaya. Seringkali aku mendapatinya dalam keadaan penuh darah dan luka-luka pada tubuhnya. Aku merawatnya, menjahit luka-lukanya dan menemani dirinya dikala aku harus berada disampingnya.
Ketika aku melihat matanya baik saat selesai disiksa maupun selesai latihan bertarung, aku melihat kebencian dan kemarahan yang begitu mendalam seolah ia perlahan akan menjadi seorang kesatria kelam dan bengis layaknya Kesatria Berzirah yang sering menyiksaku. Oleh karena itu, aku perlahan juga membencinya karena seolah aku bisa mengetahui masa depannya. Namun, aku tetap merawatnya jika ia terluka atau cedera, itupun aku lakukan jikalau sang Kesatria Berzirah atau ayahku yang menyuruh.
Kebencianku semakin membara ketika ia mengenakan zirah serba hitam pemberian sang Kesatria Berzirah yang memiliki paruh layaknya burung dan sang Kesatria Berzirah menamai dirinya sebagai “Gagak Hitam” seorang kesatria bengis tanpa perasaan. Di dalam pikiran juga hatiku, terdapat rasa penyesalan karena aku memberikan bantuan untuk melahirkan dan merawat seekor monster selain Kesatria Berzirah itu. Aku sungguh menyesal namun aku tak bisa berbuat apa-apa.

Comments (0)
See all