Sang gagak dibayar dan ditugaskan untuk membantu regu oposisi dan membunuh raja beserta keluarganya juga perdana menteri yang menjadi tangan kanan mereka. Sementara aku ditugaskan sebagai tenaga medis tambahan yang merawat orang-orang oposisi juga rakyat sipil yang terluka akibat perang saudara ditambah sebagai perawat dari si gagak jika ia terluka.
Di saat gagak itu menjalankan misinya sebagai seorang pembunuh bayaran, aku menjalankan tugasku sebagai seorang perawat yang harus merawat banyak orang. Jujur, aku ingin sekali setidaknya berbuat sesuatu untuk menghentikan monster gagak itu dengan cara apapun. Maka dari itu, aku memutuskan untuk memberikan informasi mengenai gagak itu ke pihak rezim agar mereka bisa membunuhnya tanpa aku terlibat secara langsung, namun aku tidak memberikan informasi mengenai para pejuang oposisi ini ke mereka, hanya gagak itu saja.
Aku pikir dengan aku melakukan pertemuan rahasia dengan pihak rezim di tempat antah berantah semua aman terkendali dan si gagak akan tewas di tangan mereka. Namun, aku salah, ternyata mobil yang kukendarai dipasang alat pelacak dan pihak rezim berhasil membantai sebagian besar pihak oposisi dan rakyat sipil. Aku sungguh menyesal banyak darah ditanganku akibat dari ego dan ambisi bengisku sendiri. Aku yang terpojok hanya bisa pasrah melihat pembataian ini sebelum pasukan rezim mengeksekusiku, seolah aku layak mendapatkan semua ini.
Disaat-saat sebuah pistol ditodongkan ke kepalaku, tiba-tiba si gagak itu muncul dan menyelamatkanku juga orang-orang yang tersisa. Ia bertarung dan membantai satu per satu pasukan rezim yang hendak menyakitiku juga para rakyat. Saat semua pasukan rezim telah berhasil dibantai oleh gagak itu, ia mengulurkan tangannya ke diriku yang saat itu sedang terjatuh terduduk di tanah.
Ketika ia mengulurkan tangannya untukku, aku melihatnya bak seolah ia adalah kesatria penyelamat dan bukanlah seekor monster ganas. Aku menggenggam uluran tanganya dan ia membantuku untuk berdiri kembali, ia juga menanyakan apakah diriku ada yang terluka akibat serangan tadi. Karena perlakuan baiknya, aku merasa sangat yakin untuk mengungkapkan sebuah rahasia padanya dimana aku membocorkan informasi tentang dirinya agar para pasukan rezim bisa membunuh pria berzirah gagak yang sedang berbicara denganku ini. Namun, ia telah mengetahui lebih dahulu kejadian sebenarnya dan ia sudah memaafkanku, ia juga memaklumi tindakan-tindakanku selama ini disebabkan oleh kesalahan pahamandan kebaikan yang inginku lakukan. Karena perlakuannya yang begitu baik terhadapku, membuatku menangis karena rasa bersalahku. Kemudian, ia memeluk dan menenangkanku yang sedang menangis. Setelah diriku tenang, ia mengatakan bahwa ia harus pergi lagi untuk menyelesaikan tugasnya yaitu menggulingkan rezim. Aku yang awalnya tak acuh dengan dirinya, kini mengkhawatirkannya. Aku sempat melarangnya untuk pergi dan mengajaknya untuk kabur dari misi, namun ia mengatakan Bahwa kita tak bisa membiarkan orang-orang ini menderita karena keinginan pribadi. Disitu aku melihat bahwa ia sebenarnya adalah orang yang peduli terhadap orang lain sehingga aku membiarkannya menjalankan misinya, namun sebelum ia pergi aku berpesan padanya.
“Kembalilah untukku….”.
Sang gagak menganggukan kepala sambil tersenyum padaku lalu kemudian ia pergi menjalankan misinya.
Aku terus menunggu dan mengkhawatirkan keselamatannya selama menjalankan misi, aku tak tahu apa detik ini ia masih hidup atau sudah mati, aku sangat ingin menyusulnya ketempat misi hanya untuk memastikan keadaannya baik-baik saja, namun aku teringat pesannya untuk mengesampingkan keinginan pribadiku ditengah orang-orang yang sedang membutuhkanku. Hingga pada akhirnya, di televisi aku melihat berita dimana para rakyat, berhasil menduduki istana dan kompleks kerajaan seolah para rakyat kini telah menguasai kerajaan. Sementara itu, raja beserta keluargannya juga orang-orang pemerintahan lainnya telah terbunuh oleh seorang pembunuh bayaran misterius yang mengenakan pakaian dan jubah serba hitam serta mengenakan topeng hitam berparuh seperti burung. Saat aku menyaksikan televisi dan berharap-harap cemas tentang keselamatannya, tiba-tiba aku mendengar suara dari belakang berkata :
“Tenang, aku udah disini kok.” dengan telah melepas helm gagaknya dan memperlihatkan senyumannya.
Aku langsung menghampirinya dan kami berpelukan erat untuk melapas rindu, aku sangat senang bisa melihat wajahnya kembali. Setelah kami selesai berpelukan, aku memberikan selamat atas keberhasilannya dalam menjalankan tugas, ia juga meminta maaf padaku karena telah membuatku khawatir. Kini aku baru melihat sisi yang tak pernah ia tampilkan selama tujuh tahun bersama, dan itu membuatku kini jatuh cinta pada dirinya. Suasana hangat ini membuat kami berdua terbawa suasana sehingga kami berciuman di malam itu.
Malam itu begitu sangat spesial meskipun di aku dan dia berada di tempat yang sedang kacau.
Sejak malam yang Indah itu, hari-hari kami menjadi jauh berbeda dari sebelumnya. Kami kini menjadi sepasang kekasih yang sering mencuri-curi waktu untuk menghabiskan waktu bersama dikala sedang waktu luang atau bersama dan menghadapi suka dan duka bersama. Jujur, selama aku menjalani hubungan ini aku tak mengetahui siapa nama aslinya, dan ia tak pernah mau mengatakan nama aslinya karena itu berkaitan dengan kisah kelamnya di masa lalu. Pada akhirnya, aku memanggilnya “Adam”.

Comments (0)
See all