Please note that Tapas no longer supports Internet Explorer.
We recommend upgrading to the latest Microsoft Edge, Google Chrome, or Firefox.
Home
Comics
Novels
Community
Mature
More
Help Discord Forums Newsfeed Contact Merch Shop
Publish
Home
Comics
Novels
Community
Mature
More
Help Discord Forums Newsfeed Contact Merch Shop
__anonymous__
__anonymous__
0
  • Publish
  • Ink shop
  • Redeem code
  • Settings
  • Log out

The Story of the End

Prologue

Prologue

Jul 04, 2018

Informasi awal:

Tokoh 'kau' yang disebut di bagian ini adalah kalian, para pembaca. Kalian adalah bagian dari cerita ini, dan kalianlah yang akan menyaksikan peristiwa demi peristiwa dari awal hingga akhir.

Selamat membaca!

.

.

Selamat datang. Terima kasih sudah mau datang ke rumah saya walaupun kau sedang sibuk. Masuklah. Kebetulan kali ini orangtua saya sedang pergi, jadi tidak perlu sungkan begitu. Kau bisa melepas sepatumu dan mengenakan uwabaki selama di sini.

Kalau diingat-ingat, ini pertama kalinya kau datang berkunjung, kan? Untuk perkenalan, bagaimana kalau saya mengajakmu melihat-lihat? Tidak banyak yang bisa dilihat sih, tapi kalau kau tidak keberatan...

Di sini ruang tamu—tidak terlalu besar, karena kami tidak terbiasa menerima banyak tamu. Seharusnya kita memang duduk di sini, tapi saya rasa akan lebih nyaman kalau kita berbincang-bincang di lantai dua.

Ini ruang tamu, dan ini ruang makan sekaligus dapur. Yang di tengah-tengahnya itu kamar mandi—biasanya untuk tamu. Nah, kamar orangtua saya ada di sebelah situ—itu, yang pintunya putih. Kalau pintu kayu itu sih, untuk memisahkan ruang keluarga dengan tangga. Jadi semisal kita naik-turun tangga, yang lainnya tidak akan merasa terganggu.

Kalau begitu kita langsung ke lantai dua saja, ya.

Pemilik rumah yang lama pasti pernah memasang foto di dinding sepanjang tangga—saya melihat banyak bekas paku di sini—yang seharusnya juga dilakukan oleh keluarga saya. Tapi saat itu saya terlalu fokus dengan sekolah dan segala macam hal, sehingga foto keluarga masih tersimpan di dalam dus.

Nah, di lantai dua ini hanya ada tiga ruangan. Yang di pojok itu kamar mandi. Jadi semisal kau punya 'keperluan', tidak perlu repot-repot menggunakan kamar mandi di bawah. Kita akan mengobrol di ruangan ini—yang biasanya saya gunakan untuk kegiatan kelompok.

Yang itu kamar saya. Hanya ada tempat tidur, lemari besar, dan sebuah meja belajar. Tidak muluk-muluk, dan barangnya sendiri tidak begitu banyak. Saya tidak menyukai barang-barang yang banyak dan berserakan, jadi biasanya saya kumpulkan jadi satu dan saya masukkan ke dalam lemari.

Rasanya hanya ini yang bisa saya tunjukkan. Silakan masuk, jadi kita bisa segera mulai. Kau bisa duduk di mana saja—kursi, karpet—selama kau merasa nyaman.

Terus terang, saya agak menyayangkan ketidakhadiran salah seorang teman kita. Kau juga tahu siapa yang saya maksud. Biasanya saya bisa mengobrol dengannya, dan menjadi salah satu orang terdekatnya adalah kebanggaan tersendiri bagi saya. Kami akan membicarakan begitu banyak hal. Dari obrolan ringan yang tidak penting, sampai curahan-curahan hati yang tak mampu tersampaikan. Saya mampu menjadi pendengar yang baik, dan saya senang dia juga bisa melakukan hal serupa.

Karena itulah, rasanya aneh sekali ketika ia tidak lagi berada di ruangan ini dan ikut bicara. Ada rasa pedih yang—kalian tahu sendiri, kan—sulit dideskripsikan.

Saya mendengar banyak rumor menyebalkan tentangnya. Tentang kenapa dia menghilang, kenapa dia tiba-tiba tidak pernah muncul di sekolah. Tentu saja rumor-rumor itu tidak benar. Mereka hanya menebak-nebak dalam gelap, lalu menyampaikan isi pikiran mereka tanpa bukti yang nyata. Tentu saja saya muak mendengarnya.

Karena itulah, saya merasa perlu meluruskan apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang membuatnya menghilang dan berakhir tidak ditemukan seperti itu. Tidak mungkin, kan, saya membiarkan rumor palsu itu menyebar begitu saja seperti virus?

Saya memilihmu karena saya rasa kau bisa dipercaya. Kau juga pasti penasaran dengan apa yang terjadi, kan?

Untungnya saya tahu semuanya. Perlu saya tegaskan sekali lagi, saya adalah orang terdekatnya. Saya mengetahui hal-hal yang tidak diketahui orang lain—yang tentu saja menguntungkan saya. Saya tahu latar belakangnya, sifatnya, bahkan sisi gelapnya. Hal-hal ini saling tumpeng tindih untuk mengetahui—bagaimana nasibnya saat ini.

Sebelumnya, saya minta maaf karena tidak bisa menyuguhkan apa-apa. Isi lemari es saya hanya beberapa minuman kaleng dan makanan beku—kau tidak keberatan kalau kusuguhi kopi, bukan?

Oh, iya—kuharap kau juga tidak keberatan kalau aku menyetel musik selagi kita berbincang. Konon, musik klasik mampu menurunkan tingkat stress seseorang. Sangat membantu untuk merilekskan pikiran—apalagi ini topik yang cukup berat.

Kalau begitu, tanpa interupsi lebih lanjut, saya akan mulai menceritakan apa yang saya ingat. Kau juga pasti sudah tidak sabar mendengarnya.

.

.

For your Information

*Uwabaki adalah sepatu yang khusus dikenakan di dalam rumah.

animagaweb
Absurd Writer

Creator

Comments (0)

See all
Add a comment

Recommendation for you

  • What Makes a Monster

    Recommendation

    What Makes a Monster

    BL 75.7k likes

  • Invisible Bonds

    Recommendation

    Invisible Bonds

    LGBTQ+ 2.4k likes

  • Touch

    Recommendation

    Touch

    BL 15.6k likes

  • Silence | book 1

    Recommendation

    Silence | book 1

    LGBTQ+ 27.3k likes

  • Secunda

    Recommendation

    Secunda

    Romance Fantasy 43.3k likes

  • Invisible Boy

    Recommendation

    Invisible Boy

    LGBTQ+ 11.5k likes

  • feeling lucky

    Feeling lucky

    Random series you may like

The Story of the End
The Story of the End

303 views1 subscriber

"Bagaimana sebuah cerita berakhir dilihat dari rahasia seperti apa yang kamu sembunyikan."

Akemi Eri memiliki apapun yang diinginkan oleh gadis-gadis lain seusianya: wajah yang cantik, otak yang cerdas, karakternya yang ramah dan gemar bergaul, serta hubungan yang hangat dengan teman-temannya. Kemunculannya di sekolah sebagai murid baru, sayangnya, adalah sebuah misteri.

Kasumi Mikage--figur yang pendiam, dan selalu menjadi bayang-bayang orang lain-menemukan makna persahabatan sejak pertama kali berjabat tangan dengan Akemi. Apa yang ada di dalam tubuhnya adalah sebuah aib tak termaafkan.

Di tengah-tengah tekanan menjadi penerus keluarga berkelas, Takahiro Eiji diam-diam melompati jendela tiap malam untuk bertemu dengan teman-temannya. Sorot matanya, sekalipun begitu, selalu terarah pada Akemi Eri--bangga bahwa gadis itu adalah kekasihnya.

Tetsuya Raiden, sang ketua kelas, selalu bekerja dengan sepenuh hati-tanpa mampu mengungkapkan perasaan yang sebenarnya. Baginya, Akemi Eri adalah sosok malaikat. Tidak masalah kalau gadis itu selalu mengalahkannya tiap ujian akhir.

Rahasia itu menjadi milik masing-masing, sehingga akhirnya salah seorang dari mereka terbunuh.

Siapa yang terbunuh--dan siapa pembunuhnya?
Subscribe

4 episodes

Prologue

Prologue

126 views 0 likes 0 comments


Style
More
Like
List
Comment

Prev
Next

Full
Exit
0
0
Prev
Next